BANDUNG, ifakta.co – Polda Jawa Barat mengungkap ribuan kasus kejahatan yang terjadi sepanjang 2026 hingga pertengahan Juli. Polisi mengamankan 1.245 pelaku pengedaran narkotika dan obat-obatan keras tertentu serta lebih dari 400 pelaku kejahatan jalanan.
Dalam pengungkapan kasus narkoba tersebut, polisi turut menyita jutaan barang bukti. Petugas mengamankan sekitar 2,7 juta obat-obatan keras, 822 butir psikotropika, 618 gram gorila sintetis, 612 butir Inex, lebih dari 2 kilogram daun ganja, serta lebih dari 1,5 kilogram sabu-sabu.
Selain perkara narkoba, Polda Jabar juga menindak pelaku kejahatan jalanan. Polisi menyita lebih dari 1.000 sepeda motor, belasan mobil, ratusan senjata tajam, serta tiga senjata api yang diduga digunakan dalam aksi kejahatan.
Iklan
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Pipit Rismanto mengatakan polisi akan terus memperkuat patroli untuk mencegah aksi premanisme, begal, dan pencurian kendaraan bermotor atau curanmor.
Pipit menyampaikan hal tersebut saat memimpin ekspose pengungkapan kejahatan jalanan di Polda Jabar yang turut dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada Jumat (7/8/2026).
“Tentunya dalam menanggulangi kejahatan jalanan seperti premanisme, begal, dan curanmor, sesuai arahan Bapak Gubernur dalam rapat koordinasi, kita sudah melakukan patroli dialogis secara intensif dan ini harus berjalan terus. Sebelum dipencet belnya untuk berhenti, tidak ada kata berhenti,” kata Pipit.
Untuk memperkuat pencegahan, Polda Jabar juga menyiapkan tim unit reaksi cepat. Tim tersebut akan berpatroli di sejumlah titik yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, terutama pada waktu tertentu.
“Jadi tempat-tempat rawan seperti yang kami paparkan saat rapat koordinasi membutuhkan kehadiran tim gabungan hingga pusat-pusat kegiatan masyarakat dalam rangka memberikan pelayanan pengawalan pulang malam gratis kepada masyarakat,” ujar Pipit.
Selain meningkatkan patroli, Pipit mendorong masyarakat kembali mengaktifkan sistem keamanan lingkungan atau siskamling.
Menurutnya, keterlibatan warga dapat memperkuat ekosistem keamanan dan membantu menekan potensi kejahatan di lingkungan masing-masing.
Di sisi lain, polisi menemukan persoalan lain dalam pengungkapan tersebut. Sejumlah pelaku pengedaran narkotika dan kejahatan jalanan diketahui masih berada pada usia pelajar.
Karena itu, Pipit meminta orang tua dan wali ikut meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak mereka. Polda Jabar juga menyiapkan program “Orang Tua atau Wali Memanggil” untuk memperkuat keterlibatan keluarga dalam mencegah kenakalan remaja.
“Kita perlu mendorong dukungan orang tua atau wali. Insya Allah kami akan meluncurkan program Orang Tua atau Wali Memanggil. Mudah-mudahan minggu depan atau minggu depannya lagi sudah bisa diluncurkan bersama Forkopimda,” kata Pipit.
Ia menekankan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam memastikan anak-anak kembali ke rumah pada malam hari, belajar, dan tidak menghabiskan waktu dengan nongkrong hingga pagi.
“Kami menginginkan agar setiap malam orang tua ikut bertanggung jawab mengendalikan dan menunjukkan kepedulian terhadap anak-anak remajanya untuk kembali ke rumah, belajar, dan tidak nongkrong sampai pagi karena besok harus sekolah,” sambungnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengapresiasi langkah Polda Jabar dalam menekan peredaran narkoba, obat-obatan keras tertentu, serta kejahatan jalanan.
Dedi menegaskan bahwa upaya pemberantasan kejahatan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, kepolisian tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan masyarakat.
“Kejahatan ini harus diperangi secara bersama. Jajaran polisi saja tidak cukup, TNI saja tidak cukup, Satpol PP tidak cukup, Dishub tidak cukup, harus semua masyarakat memiliki nyali yang sama bahwa kejahatan ini harus diberantas,” kata Dedi.
Dengan pengungkapan ribuan pelaku tersebut, Polda Jabar menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pencegahan dan penindakan terhadap narkoba maupun kejahatan jalanan. Polisi juga mendorong keterlibatan keluarga dan masyarakat agar upaya menjaga keamanan tidak hanya bergantung pada aparat.
(mam/cho)


