JAKARTA, ifakta.co – Ponsel pintar sudah menjadi bagian dari hampir seluruh aktivitas sehari-hari. Mulai bangun tidur hingga menjelang tidur, banyak orang menghabiskan waktu untuk melihat pesan, media sosial, berita, video maupun berbagai aplikasi lainnya.
Di tengah kebiasaan tersebut, muncul gaya hidup yang semakin banyak dibicarakan, yakni digital detox. Sederhananya, digital detox merupakan upaya mengurangi penggunaan perangkat digital untuk memberikan waktu bagi tubuh dan pikiran beristirahat dari paparan layar.
Menariknya, digital detox tidak selalu berarti seseorang harus meninggalkan ponsel selama berhari-hari. Kebiasaan ini justru dapat dimulai dari langkah sederhana yang realistis dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Iklan
Salah satunya dengan menetapkan waktu tertentu tanpa ponsel. Misalnya, seseorang memilih tidak menggunakan perangkat ketika sedang makan, berbicara dengan keluarga atau beberapa saat sebelum tidur.
Cara lainnya adalah mematikan notifikasi yang tidak penting. Bunyi atau getaran dari ponsel yang muncul berkali-kali dapat membuat perhatian seseorang terus teralihkan, bahkan ketika sebenarnya tidak ada hal mendesak yang harus dilakukan.
Membatasi penggunaan media sosial juga menjadi bagian penting dari digital detox. Bukan berarti seluruh akun harus dihapus, tetapi pengguna dapat menentukan kapan waktunya membuka media sosial dan kapan harus berhenti.
Kebiasaan membawa ponsel ke tempat tidur juga menjadi salah satu hal yang mulai diperhatikan. Banyak orang awalnya hanya berniat memeriksa satu pesan, tetapi kemudian berlanjut dengan membuka media sosial atau menonton video hingga larut malam.
Menjauhkan ponsel dari tempat tidur dapat membantu menciptakan batas yang lebih jelas antara waktu menggunakan perangkat dan waktu beristirahat.
Digital detox juga dapat dilakukan dengan mengganti sebagian aktivitas digital dengan kegiatan fisik. Membaca buku, berjalan kaki, memasak, berkebun, berolahraga atau sekadar berbincang secara langsung dapat menjadi alternatif ketika seseorang merasa terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar.
Yang menarik, tren ini bukan berarti teknologi dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Ponsel, internet dan media sosial tetap memberikan banyak manfaat, baik untuk pekerjaan, komunikasi maupun mendapatkan informasi.
Masalahnya lebih berkaitan dengan bagaimana teknologi digunakan. Ketika seseorang merasa harus terus memeriksa ponsel atau sulit menikmati aktivitas tanpa perangkat digital, membatasi penggunaan teknologi untuk sementara dapat menjadi pilihan.
Digital detox juga tidak perlu dilakukan secara ekstrem. Setiap orang memiliki kebutuhan penggunaan teknologi yang berbeda. Pekerja yang mengandalkan komputer sepanjang hari tentu memiliki kondisi berbeda dengan orang yang menggunakan perangkat terutama untuk hiburan.
Karena itu, pendekatan yang lebih realistis adalah membuat batas penggunaan sesuai kebutuhan. Misalnya, menyediakan satu jam tanpa media sosial setiap malam atau menentukan waktu tertentu dalam sehari ketika ponsel tidak digunakan.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang menjadi lebih sadar terhadap bagaimana waktu mereka digunakan.
Pada akhirnya, inti dari digital detox bukanlah hidup tanpa teknologi, melainkan mengendalikan penggunaan teknologi agar tidak seluruh waktu sehari-hari terserap oleh layar.
Di tengah kehidupan yang semakin terhubung secara digital, kemampuan untuk sesekali berhenti, meletakkan ponsel dan kembali menikmati aktivitas di dunia nyata justru menjadi kebiasaan yang semakin relevan.(wl/wl)

