JAKARTA, ifakta.co — Bayangkan suatu pagi masyarakat Indonesia menerima sebuah video yang memperlihatkan seorang pejabat sedang mengucapkan pernyataan kontroversial. Wajahnya terlihat jelas. Suaranya terdengar meyakinkan. Gerak bibirnya tampak selaras dengan kalimat yang diucapkan. Dalam hitungan menit, video itu menyebar ke berbagai platform media sosial, memancing kemarahan, perdebatan, bahkan tuntutan agar pejabat tersebut segera bertanggung jawab.

Namun, ada satu persoalan mendasar: bagaimana jika video itu tidak pernah benar-benar terjadi?

Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memungkinkan seseorang menciptakan gambar, meniru suara, dan memanipulasi video dengan hasil yang semakin meyakinkan. Melalui teknik yang dikenal sebagai deepfake, wajah seseorang dapat ditempelkan pada tubuh orang lain, suara dapat ditiru, dan adegan yang tidak pernah terjadi dapat dibuat seolah-olah merupakan rekaman autentik.

Iklan

Persoalannya bukan lagi sekadar apakah sebuah video terlihat asli. Persoalan yang lebih besar adalah apakah masyarakat masih memiliki kemampuan, waktu, dan akses informasi yang memadai untuk membedakan kenyataan dari rekayasa.

Di era ketika teknologi mampu menghasilkan kebohongan yang tampak nyata, kebenaran menghadapi tantangan baru. Ancaman itu tidak hanya menyasar individu yang menjadi korban manipulasi, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap media, lembaga negara, proses demokrasi, dan informasi yang beredar di ruang publik.

Pertanyaan pentingnya bukan apakah AI harus ditakuti. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah siapa yang bertanggung jawab ketika teknologi tersebut digunakan untuk menipu masyarakat.

Ketika Mata dan Telinga Tidak Lagi Menjadi Jaminan

Selama bertahun-tahun, foto dan video kerap diperlakukan sebagai bukti kuat atas suatu peristiwa. Rekaman visual memang tidak selalu menjelaskan seluruh konteks, tetapi masyarakat terbiasa menganggap apa yang terlihat sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi.

Kemampuan AI generatif mengubah kebiasaan tersebut.

Kini, konten sintetis dapat dibuat tanpa harus merekam peristiwa sesungguhnya. Seseorang dapat memproduksi suara tiruan yang menyerupai anggota keluarga, membuat video palsu yang melibatkan tokoh publik, atau menyusun gambar yang seolah-olah memperlihatkan kejadian tertentu.

Teknologi ini tidak dengan sendirinya membawa dampak buruk. AI juga bermanfaat untuk pendidikan, industri kreatif, penelitian, layanan publik, dan berbagai kegiatan produktif. Teknologi manipulasi visual bahkan dapat digunakan dalam produksi film dan karya seni.

Masalah muncul ketika kemampuan tersebut digunakan untuk menyamar sebagai orang lain, memeras korban, menyebarkan fitnah, memanipulasi opini, atau memengaruhi keputusan masyarakat melalui informasi palsu.

World Economic Forum (WEF), dalam Global Risks Report 2024 yang diterbitkan pada Januari 2024, menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai risiko global paling serius dalam jangka pendek, yakni dalam horizon dua tahun. Laporan itu juga menyoroti peran AI generatif dalam memperluas produksi konten sintetis, termasuk tiruan suara dan situs web palsu.

Penilaian tersebut merupakan pemetaan risiko berdasarkan survei persepsi para ahli, bukan bukti bahwa setiap konten AI pasti menyesatkan. Namun, pesannya jelas: kemampuan memproduksi informasi palsu secara lebih mudah dan meyakinkan dapat memperbesar persoalan yang sudah lama dihadapi masyarakat.

Dulu, membuat rekaman palsu yang tampak meyakinkan membutuhkan keterampilan teknis dan sumber daya tertentu. Kini, sebagian proses tersebut dapat dilakukan dengan perangkat yang relatif mudah diakses.

Akibatnya, hambatan untuk memproduksi manipulasi menurun, sedangkan dampak penyebarannya dapat meluas. Satu konten palsu yang dirancang untuk memancing emosi bisa beredar melintasi kelompok masyarakat sebelum fakta sebenarnya diketahui.

Bahaya Terbesar Bukan Hanya Kebohongan, tetapi Hilangnya Kepercayaan

Masyarakat sering membicarakan bahaya deepfake dari sudut pandang korban langsung. Misalnya, seseorang kehilangan uang akibat penipuan suara tiruan, seorang perempuan menjadi korban manipulasi gambar intim, atau seorang pejabat dirugikan oleh video palsu.

Semua itu merupakan ancaman serius. Namun, ada bahaya lain yang tidak kalah penting: terkikisnya kepercayaan terhadap bukti yang autentik.

Bayangkan jika masyarakat terbiasa melihat video palsu setiap hari. Ketika sebuah rekaman yang benar-benar menunjukkan pelanggaran beredar, pihak yang dirugikan dapat dengan mudah menyangkalnya sebagai hasil rekayasa AI.

Iklan