YOGYAKARTA, ifakta.co – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak hanya membantu masyarakat mencari informasi dan menyelesaikan pekerjaan. Sebagian anak muda juga memanfaatkan teknologi ini untuk mencurahkan perasaan, membicarakan masalah pribadi, hingga mencari saran ketika menghadapi kesulitan.

Kemudahan akses menjadi salah satu daya tariknya. Pengguna dapat mengobrol melalui teks atau suara tanpa harus menunggu orang lain merespons. Namun, respons yang terasa membantu belum tentu mampu menjawab kebutuhan emosional seseorang secara menyeluruh.

Pakar Psikologi Klinis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammad Arif Rizqi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menilai AI dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan emosional tertentu. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi tersebut belum mampu menggantikan proses terapeutik yang membutuhkan pemahaman mendalam terhadap kondisi seseorang.

Iklan

“Memang ada kebutuhan dasar yang kemudian bisa terfasilitasi secara instan. Tetapi ketika mereka curhat pada aspek-aspek yang cukup mendalam, kompleks, termasuk bagaimana kemudian bisa menghadirkan sebuah proses terapeutik, itu yang kemudian saya lihat memang tidak bisa digantikan oleh AI,” jelas Arif.

Menurut Arif, pengguna bisa memperoleh saran awal melalui percakapan dengan AI. Akan tetapi, persoalan psikologis yang kompleks membutuhkan pendekatan lebih mendalam, termasuk pemahaman terhadap pengalaman, emosi, dan kondisi pribadi seseorang.

Karena itu, masyarakat perlu memahami batas kemampuan teknologi sebelum menjadikannya tempat utama untuk mencari dukungan emosional.

AI Memudahkan Curhat, tetapi Relasi Manusia Tetap Penting

Arif mengaku pernah berbincang dengan sejumlah klien yang menggunakan AI untuk mencurahkan persoalan pribadi. Beberapa di antara mereka merasa terbantu karena teknologi tersebut memberikan tanggapan yang relevan dengan masalah yang mereka hadapi.

Bahkan, sebagian pengguna menilai respons AI menyerupai jawaban yang mungkin mereka peroleh dari psikolog atau konselor. Namun, menurut Arif, kemiripan jawaban tidak serta-merta membuat interaksi dengan mesin setara dengan hubungan antarmanusia.

“Beberapa yang kemudian menyampaikan mereka cukup terbantu, tetapi tema yang saya lihat sama. Mereka tidak mendapatkan sebuah sentuhan manusia di situ,” ungkapnya.

Arif menilai hubungan sosial tetap menjadi kebutuhan mendasar manusia. Seseorang tidak hanya membutuhkan jawaban atas masalahnya, tetapi juga interaksi yang menghadirkan kedekatan emosional dan rasa terhubung dengan orang lain.

“Sejatinya mereka tetap akan membutuhkan, karena naluri dasar manusia dalam struktur kebutuhan dasar akan selalu membutuhkan yang namanya relasi,” jelasnya.

Ada beberapa alasan yang mendorong seseorang memilih AI sebagai tempat bercerita. Pertama, sebagian orang merasa lebih aman karena tidak perlu khawatir orang lain mengetahui atau menyebarkan persoalan pribadi mereka.

Kedua, AI menawarkan akses yang praktis. Pengguna dapat memulai percakapan kapan saja ketika membutuhkan ruang untuk mengungkapkan perasaan. Selain itu, tidak semua orang menggunakan teknologi ini karena menghadapi masalah serius.

Sebagian pengguna sekadar merasa penasaran atau mengikuti tren penggunaan AI di kalangan anak muda.

“Ada beberapa yang mereka coba-coba. Artinya, mungkin karena FOMO atau penasaran dan sebagainya menggunakan fasilitas itu,” tuturnya.

Meski begitu, Arif mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya sumber dukungan. Teknologi ini dapat membantu ketika seseorang membutuhkan respons awal, terutama saat tidak ada orang yang bisa diajak berbicara.

“Untuk kebutuhan yang betul-betul mendesak ketika memang tidak ada dukungan, saya rasa itu bisa menjadi salah satu alternatif. Tapi bukan satu-satunya alternatif,” tegasnya.

Selain itu, pengguna tetap perlu mempertimbangkan jenis persoalan yang mereka hadapi. Masalah sederhana mungkin cukup terbantu melalui refleksi diri atau saran awal. Sebaliknya, persoalan yang lebih berat membutuhkan perhatian dan penanganan yang sesuai.

Penggunaan AI Perlu Diimbangi Kemampuan Bersosialisasi

Arif juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan dampak penggunaan AI secara intensif. Salah satu aspek penting ialah kemampuan teknologi memahami nilai, keyakinan, kepribadian, dan pengalaman hidup seseorang secara utuh.

“Teknologi, mesin itu bebas nilai,” ujarnya.

Menurut Arif, proses konsultasi dengan tenaga profesional melibatkan pemahaman yang lebih luas daripada sekadar memberikan jawaban. Psikolog atau terapis mempertimbangkan kondisi klien, pengalaman profesional, serta pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

Selain itu, penggunaan AI secara berlebihan sebagai teman bercerita berpotensi membuat seseorang terlalu nyaman dengan interaksi digital. Jika kondisi tersebut mengurangi kesempatan berinteraksi secara langsung, kemampuan sosial seseorang juga perlu mendapat perhatian.

Arif mencontohkan pengalaman mahasiswa yang menjalani perkuliahan daring selama pandemi Covid-19. Ketika kampus kembali menggelar perkuliahan tatap muka, sebagian mahasiswa mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

“Ketika masuk new normal itu mereka mengalami kesulitan adaptasi. Meskipun ada yang berhasil, ada yang sampai sekarang terbawa,” katanya.

Pengalaman tersebut, menurut Arif, menunjukkan pentingnya latihan berinteraksi secara langsung. Oleh sebab itu, masyarakat perlu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan kegiatan sosial di dunia nyata.

Seseorang dapat memulai langkah sederhana dengan berbicara kepada teman tepercaya, meluangkan waktu bersama keluarga, atau mengikuti kegiatan komunitas. Dengan cara tersebut, pengguna tetap memiliki kesempatan untuk membangun hubungan dan mengembangkan kemampuan interpersonal.

Kapan Seseorang Perlu Mencari Bantuan Profesional?

Arif tidak menyarankan masyarakat menghindari AI sepenuhnya. Ia menilai teknologi tersebut masih dapat membantu seseorang menghadapi persoalan sederhana, seperti rasa lelah, tekanan akibat banyak tugas, atau kebutuhan untuk mengekspresikan emosi negatif.

“Untuk kebutuhan-kebutuhan simpel dasar, saya rasa itu menjadi satu hal yang cukup lumrah. Sekadar membagi emosi negatif untuk kemudian terfasilitasi,” jelasnya.

Namun, seseorang perlu mencari bantuan profesional ketika masalah terasa semakin berat, berlangsung terus-menerus, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Terlebih, persoalan yang berkaitan dengan gejala klinis berat membutuhkan penilaian dan penanganan tenaga ahli.

“Untuk yang sifatnya sudah kompleks, berkaitan dengan gejala-gejala yang bersifat klinis berat, saya sarankan memang harus ke profesional,” tegasnya.

Di samping itu, dukungan sosial dari orang terdekat juga dapat membantu seseorang menghadapi masalah. Teman dan keluarga bisa menjadi tempat awal untuk bercerita, meskipun mereka tidak selalu mampu menggantikan peran tenaga profesional.

Pada akhirnya, Arif menekankan bahwa masyarakat perlu menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti hubungan sosial maupun layanan psikologis.

“Kata kuncinya adalah dia alat bantu. Maka, teknologi apa pun itu kita posisikan dan kita sadari bahwa dia sebagai alat bantu,” pungkas Arif.

(naf/lex)

Iklan