JAKARTA, ifakta.co – Badan Narkotika Nasional (BNN) membongkar jaringan peredaran internasional yang terkait dengan kartel narkoba Segitiga Emas (Thailand-Myanmar-Laos) pada awal Januari 2026.
Dalam operasi itu, petugas mencatat penemuan sedikitnya 160 kilogram sabu, sementara tiga orang ditetapkan sebagai tersangka: MAZ, IB, dan A, di wilayah Perlak, Aceh, pada 24 Januari tahun ini. Pada penangkapan tersebut petugas menemukan sekitar 100 kilogram sabu siap edar.
“Berdasarkan hasil penggeledahan terhadap kendaraan tersangka, petugas menemukan lima karung plastik warna kuning yang masing-masing berisi 20 bungkus berisikan narkotika Golongan I jenis sabu dengan berat bruto 100 kilogram,” kata Plt Deputi Pemberantasan BNN Brigjen Roy Hardi Siahaan dalam jumpa pers pada 5 Februari.
Iklan
Penelusuran BNN mengungkap bahwa sindikat ini memakai modus pengemasan baru, yakni dibungkus menyerupai kopi bermerek Guatemala Antigua. Kelompok yang berbasis di Thailand Utara itu dinilai tidak pernah benar-benar padam meski terus mendapat tekanan dari aparat setempat.
Pada 2023, konflik berdarah terjadi antara sindikat narkoba dan pasukan keamanan Thailand yang berupaya menghentikan arus narkotika dari wilayah yang dikenal sebagai Segitiga Emas. Pengiriman narkoba dalam jumlah besar dan pertempuran berkepanjangan menimbulkan korban jiwa dan menunjukkan tingkat ancaman yang tinggi.
Seorang perwira dari unit elite anti-narkotika Pha Muang Task Force, yang berbasis di Chiang Mai, menggambarkan betapa sulitnya mengamankan ratusan kilometer perbatasan dengan Myanmar, yang berada di bawah pemerintahan militer sejak 2021.
“Jika kita memperkuat pertahanan di Chiang Rai, mereka akan pindah ke Chiang Mai. Mereka memantau di mana kita mengerahkan pasukan dan mengubah rute mereka,” kata petugas itu kepada Al Jazeera.
Dalam periode sembilan bulan hingga Juni tahun lalu, Pha Muang Task Force melancarkan lebih dari 260 operasi yang menghasilkan penyitaan besar-besaran: 54 juta pil metamfetamin, 177 kg ketamin, 120 kg sabu-sabu yang dikenal sebagai “ice”, dan 12 kg heroin. Operasi-operasi itu menyebabkan 320 tersangka ditangkap dan 27 lainnya tewas.
Sepanjang tahun ini, penyitaan pil metamfetamin dari kawasan Segitiga Emas terus mencapai jutaan, sementara pengiriman metamfetamin kristal, heroin, dan ketamin diperkirakan mencapai ratusan kilogram. Baku tembak antara pasukan Thailand dan penyelundup lintas batas menelan puluhan korban jiwa.
Peristiwa Desember 2023 di distrik Fang, Chiang Mai, menggambarkan eskalasi kekerasan: sekitar 15 orang tewas dari sekitar 30 penyelundup yang membawa ransel berisi metamfetamin. Dari lokasi tersebut disita pula sebuah senjata api dan sebuah granat bersama ransel-ransel berisi narkoba.
Besarnya jumlah barang bukti yang disita di Chiang Saen sempat memicu peringatan dari PBB. Inshik Sim, koordinator di Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) di Bangkok, menulis di media sosial bahwa
“daerah tersebut mungkin merupakan pusat perdagangan metamfetamin terbesar di dunia”.
Kartel narkoba Segitiga Emas sesungguhnya telah beroperasi sejak 1970-an. Wilayah pegunungan yang menjadi pertemuan perbatasan Thailand, Laos, dan Myanmar — di dekat sungai Mekong dan Ruak — lama dikenal sebagai pusat penanaman dan perdagangan opium ilegal.
Istilah “Segitiga Emas” pertama kali dipopulerkan pada 1971 oleh Asisten Menteri Luar Negeri AS, Marshall Green, menurut catatan Britannica. Luas wilayah ini tidak memiliki batas pasti; perkiraan ukuran berkisar dari 77.220 mil persegi (200.000 km²) hingga 370.000 mil persegi (950.000 km²).
Saat ini bagian Thailand dan Laos dari Segitiga Emas menjadi tujuan wisata yang populer karena panorama alam, warisan budaya, dan nilai sejarahnya. Bagian Thailand telah mengalami urbanisasi dengan infrastruktur modern, listrik stabil, dan ekonomi lebih kuat; produksi opium di sana kini sangat kecil berkat intervensi pemerintah. Vietnam dan Tiongkok juga sebagian besar berhasil memberantas produksi opium domestik.
Laos masih memproduksi opium, sebagian karena tradisi panjang komunitas suku seperti Hmong, tetapi volume produksi kini jauh menurun dibanding masa lalu. Sementara itu, Myanmar tetap menjadi produsen opium terbesar di kawasan, didorong oleh kurangnya kontrol dan ketidakstabilan pemerintahan.
Sejak masa kolonial hingga Perang Dunia II, dinamika produksi opium berubah—perkebunan swasta berkurang, monopoli pemerintah muncul, dan beberapa negara mendorong peningkatan produksi lokal untuk mengisi kekosongan pasar. Kini, jaringan kejahatan meluaskan produksi bukan hanya opium, melainkan juga pil metamfetamin dan narkotika sintetis lainnya yang dikirim dalam skala besar.
Catatan penyitaan besar-besaran dan konflik bersenjata di perbatasan menunjukkan bahwa upaya penindakan masih menghadapi tantangan struktural di kawasan Segitiga Emas dan bahwa kartel narkoba Segitiga Emas tetap menjadi ancaman regional.
(den/jo)



