SURABAYA, ifakta.co – Hutan tropis Indonesia kembali menunjukkan kekayaan hayatinya. Kali ini, kawasan UB Forest di Jawa Timur menjadi lokasi penemuan empat spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu yang sebelumnya belum pernah tercatat dalam dunia ilmiah.
Temuan tersebut lahir dari kolaborasi peneliti Universitas Brawijaya (UB), University of Florida, Michigan State University, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil riset itu memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Penelitian tersebut telah dipublikasikan pada dalam jurnal ilmiah The Coleopterists Bulletin melalui artikel berjudul Checklist of the Bark and Ambrosia Beetle Species (Coleoptera: Curculionidae: Platypodinae and Scolytinae) Collected at the Universitas Brawijaya Forest Properties, East Java, Indonesia with Descriptions of New Species.
Iklan
Salah satu spesies yang berhasil diidentifikasi mendapat nama Amasa brawijaya. Tim peneliti memilih nama tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada Universitas Brawijaya sekaligus mengangkat warisan sejarah Kerajaan Majapahit.
Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB, Prof. Hagus Tarno, memimpin penelitian tersebut bersama Yogo Setiawan, yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di Kagoshima University, Jepang.
Tim mulai mengumpulkan sampel di kawasan UB Forest sejak Oktober 2024. Penelitian itu berlangsung bersamaan dengan Bark and Ambrosia Beetles Academy yang digelar University of Florida dengan Universitas Brawijaya sebagai tuan rumah.
Melalui kegiatan tersebut, para akademisi, peneliti, dan pakar taksonomi dari berbagai negara mempelajari keragaman kumbang hutan tropis Indonesia.
Selama penelitian berlangsung, tim berhasil mengidentifikasi empat spesies baru, yaitu Crossotarsus gunungapi, Cosmoderes arjuno, Cosmoderes opacus, dan Amasa brawijaya.
Prof. Hagus menjelaskan nama Amasa brawijaya terpilih untuk mengenalkan Universitas Brawijaya kepada komunitas ilmiah internasional sekaligus menunjukkan besarnya potensi biodiversitas Indonesia.
“Kami ingin nama Brawijaya tidak hanya dikenal sebagai perguruan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah sains dunia. Ketika orang mencari atau mempelajari spesies ini, mereka akan mengetahui bahwa spesies tersebut ditemukan melalui penelitian yang dilakukan di Universitas Brawijaya,” ujarnya, dikutip dari Laman UB (25/6).
Identifikasi Lewat Analisis Morfologi dan DNA
Tim peneliti mengambil sampel dari ranting serta kayu kering yang berserakan di kawasan UB Forest. Mereka menemukan kumbang ambrosia pada berbagai jenis pohon, seperti pinus, kopi, sonokembang, ficus, dan sejumlah tanaman lainnya.
Prof. Hagus menjelaskan kumbang ambrosia memiliki karakteristik unik karena hidup berdampingan dengan jamur yang menjadi sumber makanannya.
“Kumbang ambrosia memiliki keunikan karena hidup bersimbiosis dengan jamur. Mereka membuat terowongan di dalam kayu dan menumbuhkan jamur sebagai sumber makanannya. Karena itu, kami banyak mengambil sampel dari berbagai jenis ranting dan kayu di UB Forest,” jelasnya.
Selanjutnya, tim melakukan identifikasi menggunakan dua pendekatan ilmiah. Pertama, mereka menganalisis karakter morfologi atau bentuk fisik setiap spesimen. Kedua, mereka memeriksa DNA untuk memastikan perbedaan genetik dengan spesies yang telah dikenal sebelumnya.
Para peneliti membandingkan karakter fisik spesimen dengan koleksi kumbang yang tersimpan di berbagai museum serangga dunia. Selain itu, mereka juga mencocokkan data genetik dengan basis data internasional.
“Kami membandingkan karakter morfologinya dengan spesies yang telah tersimpan di berbagai museum serangga dunia. Selain itu, kami juga melakukan analisis DNA untuk memastikan perbedaannya secara genetik. Jika hasilnya menunjukkan adanya perbedaan signifikan dengan spesies yang telah diketahui sebelumnya, maka spesimen tersebut dapat ditetapkan sebagai spesies baru,” jelas Prof. Hagus.
Saat ini, spesimen Amasa brawijaya telah menjadi koleksi ilmiah di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang dikelola BRIN. Koleksi tersebut akan menjadi referensi penting bagi penelitian biodiversitas Indonesia pada masa mendatang.
Prof. Hagus menilai temuan empat spesies baru itu membuktikan bahwa hutan tropis Indonesia masih menyimpan banyak kekayaan hayati yang belum terungkap. Oleh karena itu, penelitian biodiversitas perlu terus diperluas agar semakin banyak spesies baru dapat dikenali dan dilindungi.
Selain menghasilkan publikasi internasional, riset tersebut juga memperkuat posisi Universitas Brawijaya sebagai salah satu pusat penelitian kumbang ambrosia di Indonesia.
“Ke depan kami ingin membangun jejaring penelitian yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Harapannya, siapa pun yang ingin mempelajari kumbang ambrosia akan datang dan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya,” pungkasnya.
(naf/lex)



