MALANG, ifakta.co – Kepercayaan internasional kembali menghampiri akademisi Indonesia. Dosen Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), Dimas Wisnu Adrianto memperoleh mandat sebagai co-leader dalam tim ahli internasional yang mendukung Pemerintah Timor-Leste menyusun arah pembangunan nasional untuk periode 2026–2035.

Penugasan tersebut berlangsung pada 6–9 Juli 2026. Melalui forum itu, Dimas bersama tim internasional mengkaji pelaksanaan Strategic Development Plan (SDP) 2011–2030 sekaligus merumuskan rekomendasi Medium Term Plan (MTP) 2026–2035. Keterlibatan akademisi Universitas Brawijaya ini menunjukkan bahwa keahlian perguruan tinggi Indonesia semakin mendapat pengakuan dalam penyusunan kebijakan pembangunan di tingkat global.

Selama proses penyusunan kajian, tim bekerja sama dengan Ministry of Planning and Strategic Investment (MPIE) Timor-Leste. Kolaborasi tersebut bertujuan menghasilkan peta jalan pembangunan yang mampu menjawab berbagai tantangan ekonomi, sosial, dan tata kelola pemerintahan pada dekade mendatang.

Iklan

Selanjutnya, tim menyerahkan hasil analisis beserta rekomendasi strategis kepada Perdana Menteri Timor-Leste, Xanana Gusmão. Dokumen tersebut menjadi salah satu rujukan penting dalam penyusunan kebijakan pembangunan nasional negara itu.

Sebagai co-leader, Dimas mengoordinasikan berbagai tahapan pembahasan. Selain itu, ia memimpin proses sinkronisasi hasil diskusi agar seluruh rekomendasi memiliki dasar akademik yang kuat dan sesuai dengan kebutuhan pembangunan Timor-Leste.

Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Penyusunan Kebijakan Berbasis Bukti

Tim mempresentasikan hasil kajian dalam sejumlah forum strategis tingkat nasional. Salah satunya berlangsung pada sidang Council of Ministers yang Perdana Menteri Timor-Leste pimpin secara langsung.

Kajian tersebut membahas berbagai isu prioritas pembangunan. Tim menaruh perhatian pada transformasi ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, hingga reformasi tata kelola pemerintahan.

Menurut Dimas Wisnu Adrianto, seluruh rekomendasi lahir melalui pendekatan analisis kebijakan publik, perencanaan pembangunan, serta metode Strategic Foresight. Pendekatan tersebut membantu tim menyusun kebijakan yang lebih adaptif terhadap perubahan global.

“Seluruh rekomendasi disusun dengan memanfaatkan pendekatan analisis kebijakan publik, perencanaan pembangunan, serta metode Strategic Foresight untuk menghasilkan kebijakan yang adaptif,” ujarnya.

Keterlibatan Dimas dalam proses tersebut memperlihatkan bahwa keilmuan yang berkembang di Departemen PWK Fakultas Teknik Universitas Brawijaya memiliki daya saing pada level internasional. Selain itu, kepercayaan tersebut membuktikan akademisi Indonesia mampu berkontribusi dalam penyusunan kebijakan strategis lintas negara.

Peran tersebut juga mempertegas fungsi perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Kampus tidak hanya melahirkan lulusan dan penelitian. Kampus juga menghadirkan solusi melalui kontribusi langsung terhadap kebijakan publik.

Di sisi lain, penugasan internasional tersebut memperkuat reputasi Universitas Brawijaya pada tingkat global. Sekaligus, kegiatan ini mencerminkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penerapan ilmu perencanaan wilayah dan kota untuk mendukung penyusunan kebijakan berbasis bukti atau evidence-based policy.

Melalui kolaborasi internasional seperti ini, Universitas Brawijaya berharap kontribusi akademisi Indonesia semakin luas. Selain itu, pengalaman tersebut membuka peluang kerja sama baru dalam pengembangan kebijakan pembangunan berkelanjutan di berbagai negara.

(naf/lex)

Iklan