MALANG, ifakta.co – Prof. Sugiono dosen Teknik Industri Universitas Brawijaya, mengembangkan mesin pengolah sampah plastik dan akrilik menjadi lembaran padat yang berguna untuk berbagai kebutuhan.
Inovasi tersebut kini memasuki tahap pengujian. Tim peneliti ingin memastikan hasil cetakan memiliki kualitas yang baik serta aman digunakan untuk produk lanjutan.
“Lembaran ini nantinya bisa kita manfaatkan untuk berbagai kebutuhan seperti kotak tisu, souvenir, hingga berbagai produk lainnya. Jadi tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi,” ujar Prof. Sugiono dalam laman UB (24/5).
Iklan
Prof. Sugiono menjelaskan pengembangan mesin berawal dari tingginya limbah plastik dan akrilik yang belum termanfaatkan secara optimal. Aktivitas kampus setiap hari menghasilkan sampah plastik dalam jumlah besar. Selain itu, laboratorium dan usaha percetakan juga menghasilkan limbah akrilik cukup banyak.
Menurutnya, sebagian besar limbah tersebut masih berakhir di tempat pembuangan. Padahal, material plastik dan akrilik masih dapat diolah kembali menjadi produk baru yang lebih berguna.
Karena itu, tim peneliti mencoba menghadirkan solusi melalui mesin pengolah sederhana yang mampu mengubah sampah menjadi bahan baku baru.
Sampah Plastik Melalui Tahap Pemanasan
Mesin tersebut bekerja dengan memanaskan sampah plastik melalui beberapa tahapan hingga material meleleh. Setelah itu, mesin mencetak material menggunakan sistem molding hingga membentuk lembaran padat.
Tim peneliti memilih bentuk lembaran karena lebih fleksibel untuk berbagai kebutuhan produksi. Nantinya, pelaku usaha dapat mengolah lembaran tersebut menjadi kotak tisu, souvenir, hiasan, hingga produk rumah tangga lainnya.
Prof. Sugiono mengatakan bentuk akhir produk sebenarnya bergantung pada jenis cetakan. Namun, pada tahap awal, tim fokus menghasilkan lembaran multifungsi yang mudah diproses kembali.
Selain mengolah plastik, mesin tersebut juga mampu memproses limbah akrilik yang selama ini sering terabaikan.
Ia menilai limbah akrilik memiliki potensi ekonomi cukup tinggi apabila masyarakat mampu mengelolanya dengan baik. Selain itu, kenaikan harga bahan baku plastik dan akrilik membuat inovasi daur ulang semakin penting.
Saat ini, pengembangan mesin sudah mencapai sekitar 95 persen. Tim peneliti kini fokus menjalankan tahap pengujian kualitas hasil cetakan.
Tim ingin memastikan lembaran hasil daur ulang benar-benar kuat, aman, dan berguna untuk berbagai kebutuhan produksi.
“Mesin sudah selesai, tinggal testing untuk memastikan hasil lembarannya benar-benar bisa diproses lagi menjadi berbagai produk seperti souvenir dan kebutuhan lainnya,” jelasnya.
Dalam proses pengembangan, Prof. Sugiono juga melibatkan mahasiswa magister Teknik Industri Universitas Brawijaya. Mahasiswa ikut membantu riset serta pengujian kualitas material.
Selain menguji kualitas produk, tim juga memeriksa aspek kesehatan dan keselamatan kerja atau K3. Langkah tersebut penting agar proses pengolahan limbah tetap aman bagi pengguna dan lingkungan.
Dorong Ekonomi Sirkular di Kampus
Prof. Sugiono menilai inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular di lingkungan kampus. Melalui konsep itu, masyarakat tidak lagi memandang sampah sebagai limbah akhir.
Sebaliknya, masyarakat dapat mengubah sampah menjadi bahan baku baru yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak cukup berhenti pada proses pemilahan. Kampus dan masyarakat perlu menghadirkan inovasi yang benar-benar menghasilkan produk bermanfaat.
“Targetnya memang bagaimana sampah bisa terselesaikan sendiri dan value-nya bertambah. Jadi sampah tidak lagi hanya terbuang, tetapi bisa menjadi produk yang berguna,” katanya.
Melalui inovasi tersebut, Universitas Brawijaya berharap teknologi pengolahan limbah dapat berkembang lebih luas dan membantu mengurangi persoalan sampah plastik di Indonesia.
(naf/lex)





