BLITAR, Ifakta.co — Sebuah bangunan tua di Jalan Melati, Kelurahan Kepanjenkidul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, berdiri kokoh di tengah modernisasi kota. Bangunan tersebut adalah Pesanggrahan Djojodigdo. Di balik dinding-dindingnya yang mulai kusam dimakan usia, kompleks ini menyimpan salah satu legenda paling melegenda di Jawa Timur : Makam Gantung.
Makam ini menjadi magnet bagi para pencinta sejarah dan pelaku ritual mistis karena konon menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang tokoh sakti mandraguna yang menguasai Ajian Pancasona ilmu gaib yang membuat pemiliknya tidak bisa mati selama jasadnya menyentuh bumi.
Membedah Mitos ‘Makam Gantung’ Melalui Sudut Pandang Juru Kunci
Masyarakat awam kerap membayangkan sebuah peti mati yang melayang di udara saat mendengar istilah “Makam Gantung”. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda secara fisik.
Iklan
Saat ditemui di lokasi pesanggrahan, Lasiman, juru kunci makam tersebut, memberikan klarifikasi mendalam untuk meluruskan persepsi publik yang telanjur berkembang liar.
“Secara fisik, makam ini tidak benar-benar melayang atau menggantung di udara seperti di film-film. Istilah ‘Makam Gantung’ itu sebenarnya merujuk pada benda-benda pusaka milik Eyang Digdo yang memang digantung tepat di atas pusaranya,” ujar Lasiman sembari menunjuk ke arah cungkup makam.
Secara arsitektural, lantai makam ini memiliki fondasi setinggi 50 sentimeter dengan bangunan dasar berundak setinggi 1 meter. Struktur cungkup yang unik dan tinggi inilah yang sering kali menciptakan ilusi visual bagi para peziarah, sehingga memunculkan kesan seolah-olah makam tersebut menggantung di atas tanah.

Kisah Eyang Digdo : Dari Perang Diponegoro hingga Menjadi Patih Blitar
Siapa sebenarnya sosok di balik makam unik ini? Ia adalah Mas Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, atau yang akrab disapa Eyang Digdo oleh warga Blitar. Berdasarkan catatan sejarah yang dihimpun dari berbagai sumber termasuk trah keluarga, Eyang Digdo lahir di Kulon Progo pada 29 Juli 1827.
Ia lahir di era berkecamuknya Perang Diponegoro (1825–1830) dan memiliki darah bangsawan Keraton Yogyakarta. Sebagai pengikut setia Pangeran Diponegoro, kekalahan sang pangeran memaksa Eyang Digdo melarikan diri ke arah timur demi menghindari kejaran tentara Kolonial Belanda. Petualangan dan tirakat panjangnya membawa Eyang Digdo menapakkan kaki di Blitar.
Karena kecerdasan, ketangguhan, dan kepemimpinannya yang menonjol, ia akhirnya diangkat menjadi Patih Blitar pada 8 September 1877. Selama menjabat, Eyang Digdo dikenal sebagai sosok antipenjajah yang sangat cerdik dan sulit ditaklukkan oleh Belanda.
Kesaksian Warga dan Aura Wingit Pesanggrahan
Aura magis atau wingit langsung menyergap siapapun yang melangkahkan kaki memasuki pekarangan Pesanggrahan Djojodigdo. Area ini dikelilingi pohon-pohon rindang kuno, seperti pohon dewandaru dan nagasari, yang oleh masyarakat Jawa dianggap memiliki tuah dan energi proteksi gaib.
Suharno, seorang warga lokal yang tinggal tidak jauh dari pesanggrahan, menceritakan bagaimana masyarakat sekitar memandang situs keramat ini. menurutnya, cerita keampuhan Ajian Pancasona milik Eyang Digdo sudah menjadi konsumsi sehari-hari sejak mereka kecil.
“Dari cerita orang tua dulu, Ajian Pancasona Eyang Digdo mirip dengan Aji Rawa Rontek. Kalau tubuhnya kena tanah, beliau bisa hidup lagi. Makanya, ada kepercayaan dulu jasad atau pusakanya harus diletakkan tinggi-tinggi agar tidak menyentuh tanah secara langsung,” tutur Suharno.
Suharno juga menambahkan bahwa ada banyak kejadian di luar nalar yang menimpa orang-orang yang berniat buruk di tempat tersebut.
“Dulu pernah ada cerita seorang pencuri yang nekat memotong dan mengambil pagar besi makam ini. Konon, setelah kejadian itu, si pencuri mengalami kelumpuhan total hingga akhir hayatnya. Warga di sini sangat menghormati tempat ini, tidak ada yang berani bertingkah sembarangan,” tambahnya.
<!–nextpage-



