JAKARTA, ifakta.co – Meningkatnya temuan kasus HIV pada anak usia sekolah memunculkan perhatian berbagai kalangan. Banyak masyarakat merasa khawatir karena usia anak identik dengan kelompok yang masih membutuhkan perlindungan penuh. Namun, para ahli mengingatkan bahwa persoalan utama bukan semata bertambahnya jumlah kasus. Tantangan yang lebih besar justru terletak pada rendahnya deteksi dini dan masih kuatnya stigma terhadap penyandang HIV.
Dosen Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Dewi Setyowati menilai langkah pencegahan harus berjalan beriringan dengan edukasi yang benar. Menurutnya, masyarakat perlu memahami HIV berdasarkan fakta medis agar penderita memperoleh kesempatan menjalani pengobatan lebih cepat tanpa mengalami diskriminasi.
Ia menjelaskan HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Ketika daya tahan tubuh terus menurun, berbagai infeksi oportunistik akan lebih mudah menyerang. Kondisi inilah yang sering memicu komplikasi serius.
Iklan
“Semakin cepat seseorang mengetahui status HIV-nya, maka semakin cepat pula tatalaksana dapat diberikan. Meskipun jumlah kasus yang terdeteksi terlihat meningkat, hal itu justru dapat menjadi indikator bahwa skrining berjalan lebih baik sehingga pasien memperoleh penanganan lebih awal,” ujarnya.
Menurut Dewi, meningkatnya jumlah kasus yang berhasil teridentifikasi tidak selalu menjadi pertanda buruk. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menunjukkan bahwa layanan skrining mulai menjangkau lebih banyak masyarakat sehingga penderita memperoleh terapi lebih cepat.
Ia juga menyoroti temuan HIV pada anak yang memerlukan penelusuran secara menyeluruh. Langkah itu penting untuk mengetahui jalur penularan sehingga penanganan dapat berjalan sesuai kondisi masing-masing pasien. Dewi menjelaskan sebagian besar kasus HIV pada anak terjadi melalui penularan vertikal, yakni dari ibu kepada bayi selama masa kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Edukasi dan Keluarga Berperan Penting Menghapus Stigma
Selain memperluas pemeriksaan, Dewi menilai edukasi menjadi fondasi penting dalam pengendalian HIV. Hingga kini, masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman keliru mengenai cara penularan virus tersebut. Akibatnya, penyandang HIV sering menghadapi penolakan di lingkungan sosial.
“HIV tidak menular melalui berjabat tangan, berbincang, atau hidup berdampingan. Pemahaman yang keliru inilah yang membuat banyak penyandang HIV dijauhi sehingga mereka enggan melakukan pemeriksaan ataupun pengobatan,” jelasnya.
Menurutnya, stigma tersebut justru menghambat upaya pengendalian HIV. Rasa takut terhadap penilaian masyarakat membuat sebagian orang memilih menunda pemeriksaan maupun pengobatan. Padahal, terapi yang dimulai lebih awal mampu meningkatkan kualitas hidup penderita sekaligus menekan risiko penularan.
Dewi kemudian menjelaskan pentingnya pendekatan ABCDE sebagai bagian dari edukasi pencegahan HIV. Pendekatan itu meliputi Abstinent atau tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah, Be faithful atau setia kepada pasangan, Condom sebagai langkah pencegahan pada kondisi berisiko, Drugs dengan tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, serta Education melalui penyampaian informasi kesehatan yang benar.
Ia menilai unsur pendidikan menjadi bagian yang sangat penting. Keluarga memiliki peran besar dalam membentuk cara berpikir dan perilaku anak sejak usia dini. Karena itu, orang tua perlu membuka ruang komunikasi mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan penyakit menular secara tepat sesuai usia anak.
Di sisi lain, Dewi mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan tanpa menumbuhkan rasa takut berlebihan terhadap penyandang HIV. Menurutnya, dukungan lingkungan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan.
“Pemerintah telah menghadirkan berbagai program seperti skrining dan pengobatan yang ditanggung. Namun, upaya tersebut perlu didukung oleh keluarga melalui edukasi yang benar, pendampingan, serta keterbukaan terhadap informasi kesehatan yang valid agar penanganan HIV semakin optimal,” pungkasnya.
Melalui deteksi dini, edukasi yang berkelanjutan, serta penghapusan stigma di lingkungan masyarakat, upaya pengendalian HIV diharapkan berjalan lebih efektif. Dengan demikian, penyandang HIV dapat memperoleh layanan kesehatan secara optimal sekaligus menjalani kehidupan tanpa diskriminasi.
(naf/lex)



