JAKARTA, ifakta.co – Nama kimpul belakangan ramai muncul dalam konten memasak di media sosial. Umbi lokal itu menarik perhatian setelah akun TikTok @black.sheep8208 menggunakan kimpul dalam sejumlah konten kesehariannya.
Konten tersebut menampilkan berbagai aktivitas memasak. Pengguna akun itu antara lain mengolah mashed potato, seblak, dan sejumlah hidangan lain dengan bahan kimpul.
Fenomena tersebut kemudian membuat lebih banyak orang mengenal kimpul sebagai salah satu pangan lokal.
Iklan
Pakar gizi Universitas Airlangga (UNAIR), Lailatul Muniroh SKM MKes, turut memberikan pandangan mengenai potensi kimpul. Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Program Studi Gizi UNAIR itu menilai masyarakat dapat memanfaatkan kimpul sebagai salah satu pilihan pangan.
Kimpul Bisa Masuk Beragam Olahan
Menurut Lailatul, masyarakat dapat memanfaatkan kimpul sebagai alternatif sumber karbohidrat. Namun, ia tidak menyarankan masyarakat langsung menempatkan kimpul sebagai pengganti utama nasi.
“Sebenarnya, potensi kimpul cukup besar sebagai sumber karbo alternatif, tetapi bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar memiliki pemikiran ‘Kalau belum makan nasi, berarti belum makan’, sepertinya kimpul hanya lebih tepat sebagai pangan diversifikasi dan substitusi parsial, bukan pengganti beras atau nasi,” ujar Lailatul.
Kimpul memiliki kandungan serat dan karakteristik pati yang menarik. Meski begitu, masyarakat masih menghadapi sejumlah pertimbangan saat mengonsumsi kimpul.
Kebiasaan makan menjadi salah satunya. Selain itu, kepraktisan pengolahan dan penerimaan rasa juga memengaruhi minat masyarakat. Dalam hal ini, nasi masih memiliki posisi kuat dalam pola makan masyarakat Indonesia.
Namun, masyarakat dapat mengolah kimpul dengan berbagai cara. Proses sederhana seperti merebus atau mengukus dapat membuat kimpul siap santap.
Selain itu, masyarakat dapat mengolah kimpul menjadi tepung. Bentuk tersebut justru memiliki peluang pemanfaatan yang lebih luas.
“Kimpul bisa dijadikan tepung. Tepung inilah yang menjadi olahan paling potensial karena dapat mensubstitusi terigu dan digunakan untuk berbagai macam bahan. Bahan tersebut seperti cookies, biskuit, brownies, cake, bolu, pancake, dan lainnya,” tutur Lailatul.
Tidak berhenti pada produk tersebut, tepung kimpul juga dapat masuk ke berbagai jenis makanan lain. Pelaku usaha dapat mengolahnya menjadi keripik maupun stik.
Selanjutnya, masyarakat juga dapat mengombinasikan kimpul dengan sumber protein. Kombinasi itu dapat menghasilkan produk seperti bubur, makanan pendamping ASI (MP-ASI), dan biskuit fortifikasi.
Dengan begitu, kimpul memiliki peluang untuk masuk ke berbagai segmen konsumen. Produk olahannya juga dapat menyesuaikan kebutuhan anak-anak hingga orang dewasa.
Viral Kimpul Bisa Jadi Pintu Masuk Diversifikasi
Lailatul menilai tren kimpul di media sosial kemungkinan tidak bertahan selamanya. Namun, masyarakat dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan pangan lokal secara lebih luas.
“Terlebih jika kimpul diposisikan sebagai sesuatu yang unik tanpa ada alasan untuk mengonsumsinya kembali. Tetapi saat kimpul sedang tren, hal ini menjadi alarm baik karena dapat menjadi sorotan masyarakat untuk ikut penasaran dan mencoba. Apalagi makanan ini mudah didapatkan dan diolah,” ujar Lailatul.
Menurutnya, rasa penasaran masyarakat dapat menjadi langkah awal. Jika konsumen menyukai kimpul, kebiasaan tersebut berpeluang berkembang menjadi konsumsi berulang atau repeat consumption.
Karena itu, viralitas tidak harus berhenti sebagai tontonan. Masyarakat, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan media dapat mengubah perhatian publik menjadi kebiasaan konsumsi pangan lokal.
Namun, upaya tersebut tetap menghadapi tantangan. Lailatul menilai persoalan utama bukan soal ketersediaan kimpul. Masyarakat justru perlu mengubah kebiasaan konsumsi yang sudah lama menjadikan nasi sebagai sumber karbohidrat utama.
“Menurut saya, tantangan diversifikasi pangan kimpul bukan pada ketersediaannya, tetapi cara mengubah kebiasaan preferensi konsumsi masyarakat yang sudah terbiasa makan nasi. Selain itu, kimpul juga perlu pengolahan yang tepat, termasuk untuk mengurangi rasa gatal,” ujar Lailatul.
Karena itu, strategi pengenalan kimpul perlu mengikuti karakter konsumen masa kini. Produk yang praktis dan familiar dapat menarik perhatian generasi milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha.
Pemerintah memiliki peran dalam menjaga produksi, distribusi, dan harga pangan lokal. Pemerintah juga dapat memasukkan pangan lokal ke dalam berbagai program pangan.
“Kuncinya dengan mengubah viralitas menjadi kebiasaan, seperti peran pemerintah untuk menjamin produksi, distribusi, harga, dan memasukkan pangan lokal dalam program pangan. Kemudian dari Akademisi yang dapat melakukan penelitian sehingga mampu menyediakan bukti gizi dan keamanan serta mengembangkan produk yang sehat dan praktis,” ujar Lailatul.
(naf/lex)



