JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Kamis (24/9/2026), rupiah menembus level Rp17.900 per dolar AS akibat tekanan sentimen global dan meningkatnya permintaan valuta asing (valas) di dalam negeri.

Rupiah ditutup pada level Rp17.916 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 98 poin atau 0,55 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.817 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari sejumlah faktor eksternal. Salah satunya adalah ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Iklan

Selain itu, pasar juga merespons sinyal kebijakan moneter ketat atau hawkish dari Federal Reserve (The Fed).

Ketidakpastian geopolitik masih menjadi perhatian pelaku pasar. Iran dan Amerika Serikat hingga kini belum mencapai kesepakatan mengenai langkah untuk mengakhiri perang.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kedua negara masih memiliki perbedaan pandangan. Meski demikian, upaya untuk melanjutkan jalur diplomasi terus mendapat dorongan.

Iran juga masih mempelajari tanggapan Washington terhadap proposal perdamaian yang diajukan Teheran. Salah satu tuntutan utama Iran adalah pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Teheran juga menginginkan pembukaan kembali Selat Hormuz. Ketidakpastian terkait jalur perdagangan energi tersebut turut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi pasokan minyak dunia.

Di sisi lain, arah kebijakan moneter Amerika Serikat turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal hawkish mengenai prospek suku bunga. Gubernur The Fed Michael Barr, misalnya, menyebut penyesuaian kebijakan lebih lanjut dapat diperlukan untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

Bank Indonesia (BI) juga mencermati tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Bank sentral menilai kondisi tersebut berkaitan dengan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed.

Kekhawatiran terhadap inflasi global dan prospek fiskal turut memengaruhi sentimen pasar. Kondisi tersebut kemudian mendorong kenaikan imbal hasil atau yield surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun.

Yield US Treasury 10 tahun tercatat mencapai 5,11 persen. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2007.

“Tekanan juga berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia, sehingga harga minyak Brent kembali di atas US$ 100 per barel,” ungkap Ibrahim dalam keterangan resmi, Kamis (24/9/2026).

Selain sentimen global, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kondisi domestik. Permintaan valas dari importir meningkat menjelang berakhirnya kuartal III 2026.

Kebutuhan dolar AS yang meningkat tersebut menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pada saat bersamaan, arus modal portofolio keluar dari aset negara berkembang atau emerging markets juga ikut membebani pergerakan mata uang Garuda.

Dengan kombinasi tekanan eksternal dan domestik tersebut, rupiah mengakhiri perdagangan Kamis (24/9/2026) di level Rp17.916 per dolar AS.

(den/joj)

Iklan