YOGYAKARTA, ifakta.co – Ancaman penyakit menular terus berkembang seiring meningkatnya mobilitas manusia, perubahan lingkungan, dan interaksi yang semakin erat antara manusia dan hewan. Karena itu, para ahli kesehatan kini mendorong pendekatan yang lebih menyeluruh untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut.
Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil langkah itu melalui penyelenggaraan One Health Summer Course bertema Transdisciplinary One Health Approaches to Emerging and Re-Emerging Diseases. Program ini mempertemukan mahasiswa, akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, dan profesional dari berbagai negara untuk memperkuat kolaborasi lintas disiplin dalam menghadapi ancaman penyakit baru maupun penyakit yang kembali muncul.
Kegiatan tersebut menarik perhatian peserta dari berbagai belahan dunia. Tercatat mahasiswa dari 20 negara ikut ambil bagian dalam forum internasional tersebut. Mereka berasal dari Indonesia, Pakistan, Palestina, Ethiopia, Filipina, India, Iran, Bangladesh, Timor Leste, Uganda, Yaman, Nigeria, Libya, Madagaskar, Maroko, Mesir, Nepal, Papua Nugini, Sudan, Myanmar, hingga Amerika Serikat.
Iklan
Keberagaman latar belakang peserta membuat diskusi berlangsung lebih dinamis. Selain itu, para peserta juga saling bertukar pengalaman mengenai tantangan kesehatan yang mereka hadapi di negara masing-masing.
Melalui program yang digelar oleh Satuan Tugas One Health UGM tersebut, peserta mempelajari berbagai isu strategis yang berkaitan dengan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kelestarian lingkungan. Para pakar nasional maupun internasional turut berbagi pengetahuan mengenai konsep dasar One Health, sistem surveilans kesehatan, penyakit emerging dan re-emerging, infeksi jamur, hingga sistem peringatan dini kesehatan masyarakat.
Selain itu, peserta juga mempelajari faktor-faktor yang memicu kemunculan patogen baru. Dengan pemahaman tersebut, mereka diharapkan mampu melihat persoalan kesehatan secara lebih komprehensif dan tidak hanya berfokus pada satu sektor saja.
Fikri Wahiddinsyah, salah satu anggota penyelenggara, mengatakan materi yang diberikan menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas bidang dalam menghadapi persoalan kesehatan global.
“Berbagai materi tersebut menegaskan pentingnya integrasi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang semakin kompleks,” ujar Fikri dalam keterangan yang dikirim Senin (23/6).
Belajar Memahami Konsep One Health
Penyelenggara tidak hanya menghadirkan pembelajaran di ruang kelas. Sebaliknya, peserta juga mengikuti berbagai kegiatan lapangan agar dapat memahami penerapan konsep One Health secara langsung.
Melalui pendekatan learning beyond the classroom, peserta mengunjungi Desa Wonokerto, Kabupaten Sleman. Dalam kunjungan tersebut, mereka mengamati berbagai praktik pemberdayaan masyarakat yang mendukung kesehatan lingkungan dan ketahanan komunitas.
Selain itu, peserta juga mempelajari bagaimana masyarakat dan pemerintah dapat bekerja sama dalam mengurangi risiko kesehatan dan menjaga kelestarian lingkungan.
“Melalui kunjungan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan akademisi dalam menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap berbagai risiko kesehatan,” katanya.
Kegiatan lapangan berlanjut dengan pengamatan burung atau bird watching di kawasan Bukit Turgo, Sleman. Melalui aktivitas tersebut, peserta mengenal peran satwa liar dalam sistem surveilans kesehatan lingkungan. Mereka juga memahami fungsi burung sebagai indikator kesehatan ekosistem dan potensi penyebaran penyakit zoonosis.
Selanjutnya, peserta mengunjungi Rumah Sakit Akademik UGM. Mereka mempelajari sistem pengelolaan limbah rumah sakit yang berperan penting dalam mencegah pencemaran lingkungan sekaligus menekan risiko penyebaran penyakit.
“Kegiatan kedua dilaksanakan di Rumah Sakit Akademik UGM, peserta mempelajari sistem pengelolaan limbah rumah sakit sebagai upaya mencegah pencemaran lingkungan dan mengendalikan penyebaran penyakit,” terangnya.
Pada akhir program, peserta mempresentasikan hasil diskusi kelompok yang menggabungkan materi kuliah, pengalaman lapangan, serta tantangan kesehatan di negara masing-masing. Presentasi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan transdisiplin mampu menghasilkan solusi yang lebih menyeluruh untuk berbagai persoalan kesehatan dunia.
Melalui kegiatan ini, UGM memperkuat komitmennya dalam membangun sumber daya manusia yang mampu bekerja lintas sektor dan lintas negara. Selain itu, program tersebut juga memperluas jejaring kolaborasi internasional yang berpotensi mendorong lahirnya riset, inovasi, dan kebijakan berbasis One Health.
Fikri menegaskan bahwa One Health Summer Course menjadi bagian dari upaya UGM untuk memperkuat kerja sama global dalam bidang kesehatan. Menurutnya, pendekatan One Health menawarkan solusi yang relevan untuk menghadapi tantangan kesehatan masa depan.
(naf/lex)



