JAKARTA, ifakta.co – Banyaknya informasi yang masuk setiap hari dapat membuat pikiran terasa penuh. Berita buruk, unggahan media sosial, pekerjaan, hingga berbagai persoalan pribadi bisa muncul hampir tanpa jeda.
Kondisi tersebut sempat menjadi perhatian setelah aktris dan penyanyi Maudy Ayunda membagikan pengalamannya menghadapi arus kabar buruk. Ia mengaku merasa seperti mendapat bombardir bad news dari berbagai arah.
Menurut ceritanya, paparan informasi tersebut dapat memengaruhi kondisi emosional. Seseorang bisa tiba-tiba merasa marah, sedih, atau ingin menangis setelah menerima terlalu banyak informasi yang menguras emosi.
Iklan
Maudy kemudian membagikan beberapa cara untuk menghadapi kondisi tersebut. Ia antara lain memilih sumber informasi yang dipercaya dan mengatur waktu untuk membaca berita. Ia juga menyebut mindfulness sebagai salah satu cara untuk tetap mengikuti keadaan tanpa terus membawa beban emosional.
Namun, pembahasan tersebut kemudian memunculkan kritik di media sosial. Salah satu sorotan berkaitan dengan privilege. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengambil jarak dari informasi tertentu, terutama ketika sebuah peristiwa berkaitan langsung dengan keluarga, pekerjaan, kehidupan, atau komunitas mereka.
Maudy kemudian menyampaikan permintaan maaf dan mengakui bahwa perspektif mengenai privilege belum cukup ia refleksikan dalam konten tersebut.
Lantas, apa sebenarnya mindfulness dan bagaimana cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari?
Mengenal Mindfulness dan Cara Kerjanya
Menurut American Psychological Association (APA), mindfulness merujuk pada kesadaran terhadap kondisi internal serta lingkungan sekitar.
Dalam praktiknya, seseorang mengamati pikiran, emosi, dan pengalaman yang sedang muncul tanpa langsung memberikan penilaian atau reaksi.
Jadi, mindfulness bukan berarti mengosongkan pikiran. Seseorang juga tidak perlu memaksa dirinya berhenti memikirkan masalah.
Sebaliknya, mindfulness mengajak seseorang menyadari apa yang sedang terjadi. Perhatian dapat tertuju pada pikiran, perasaan, sensasi tubuh, maupun kondisi lingkungan.
Meditasi menjadi salah satu cara untuk melatih mindfulness. Namun, seseorang juga dapat menerapkan prinsip tersebut dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
Misalnya, seseorang bisa memperhatikan napas ketika merasa tegang. Ia juga bisa menyadari emosi ketika menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Apa Manfaat Mindfulness?
Mindfulness banyak mendapat perhatian dalam penelitian mengenai stres dan kesehatan psikologis. National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) menyebut sejumlah bukti ilmiah menunjukkan bahwa meditasi mindfulness dapat membantu mengurangi gejala stres.
Beberapa penelitian juga menunjukkan potensi manfaat terhadap kecemasan dan depresi. Selain itu, praktik mindfulness berpotensi membantu meningkatkan kualitas tidur.
Namun, hasil penelitian tidak selalu sama pada setiap orang. Jenis latihan, kondisi individu, serta cara seseorang menjalankan praktik juga dapat memengaruhi hasil.
Karena itu, mindfulness bukan solusi instan untuk seluruh persoalan emosional. Praktik ini lebih tepat sebagai salah satu cara untuk membangun kesadaran terhadap pikiran dan respons diri.
Dengan kesadaran tersebut, seseorang memiliki kesempatan untuk mengenali emosi sebelum mengambil tindakan.
5 Cara Melatih Mindfulness dalam Keseharian
Mindfulness tidak harus selalu melibatkan sesi meditasi panjang. Kamu dapat melatihnya melalui aktivitas sederhana. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba.
1. Fokus pada Aktivitas yang Sedang Kamu Jalani
Saat melakukan sesuatu, cobalah memberikan perhatian penuh pada aktivitas tersebut.
Ketika makan, misalnya, perhatikan aroma, rasa, tekstur, dan sensasi makanan. Jangan buru-buru mengalihkan perhatian ke ponsel atau pekerjaan lain.
Begitu pula saat berjalan. Perhatikan langkah kaki, suara sekitar, dan kondisi tubuh.
Latihan sederhana ini membantu perhatian kembali pada pengalaman yang sedang berlangsung.
2. Kenali Emosi Sebelum Mengambil Tindakan
Rasa marah, sedih, cemas, atau kecewa bisa muncul secara spontan. Namun, kamu tidak harus langsung mengikuti dorongan tersebut.
Cobalah mengenali emosi yang sedang muncul. Katakan kepada diri sendiri bahwa kamu sedang merasa marah atau cemas.
Setelah itu, perhatikan pemicunya. Cara tersebut dapat memberi ruang sebelum kamu menentukan respons.
3. Gunakan Napas sebagai Titik Fokus
Napas bisa menjadi salah satu objek perhatian dalam latihan mindfulness.
Caranya sederhana. Tarik napas secara alami. Kemudian, perhatikan proses ketika tubuh mengembuskan napas.
Kamu tidak perlu memaksa pikiran menjadi kosong. Jika pikiran mulai mengembara, cukup sadari hal tersebut. Setelah itu, arahkan perhatian kembali pada napas.
4. Beri Jeda Sebelum Merespons
Informasi tertentu dapat langsung memunculkan reaksi emosional. Karena itu, jangan selalu merasa harus memberikan respons seketika.
Ketika sebuah berita atau pesan membuatmu marah, ambil jeda. Kenali perasaan yang muncul. Kemudian, pikirkan tindakan yang benar-benar ingin kamu lakukan.
(naf/lex)
Jeda tersebut tidak berarti mengabaikan masalah. Sebaliknya, kamu memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk merespons dengan lebih sadar.
5. Atur Pola Konsumsi Informasi
Arus informasi yang tidak pernah berhenti dapat membuat seseorang terus mengikuti berbagai kabar. Karena itu, kamu bisa membuat batas yang sesuai dengan kondisi pribadi.
Pilih sumber informasi yang kredibel. Kemudian, tentukan waktu tertentu untuk mengikuti perkembangan berita.
Cara ini dapat membantu mengurangi kebiasaan membuka informasi secara terus-menerus. Namun, setiap orang memiliki situasi yang berbeda.
Tidak semua orang bisa mengambil jeda dari berita. Bagi seseorang yang menghadapi dampak langsung dari sebuah peristiwa, informasi justru menjadi kebutuhan penting.
Karena itu, pengaturan konsumsi informasi perlu mempertimbangkan situasi masing-masing.
Mindfulness Bukan Berarti Menghindari Masalah
Mindfulness tidak mengharuskan seseorang menjauh dari semua hal yang membuatnya tidak nyaman. Praktik ini juga bukan ajakan untuk mengabaikan berita atau persoalan yang terjadi di sekitar.
Sebaliknya, mindfulness membantu seseorang menyadari respons dirinya ketika menghadapi suatu keadaan.
Ketika menerima kabar buruk, misalnya, seseorang tetap bisa mencari informasi. Namun, ia juga dapat mengenali rasa takut, marah, atau sedih yang muncul setelahnya.
Dengan begitu, seseorang memiliki ruang untuk menentukan langkah berikutnya. Ia tidak harus langsung mengikuti setiap dorongan yang muncul.
Pada akhirnya, mindfulness dapat menjadi kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kamu bisa memulainya melalui napas, aktivitas sederhana, pengenalan emosi, atau cara mengatur konsumsi informasi.
Yang terpenting, praktik tersebut perlu menyesuaikan kondisi masing-masing. Mengikuti perkembangan dunia tetap penting. Namun, menjaga kesadaran terhadap kondisi diri juga tidak kalah penting.



