JAKARTA, ifakta.co – Rencana pembatasan terhadap model kecerdasan artifisial (AI) berbobot terbuka asal China berpotensi menimbulkan konsekuensi besar bagi dunia usaha di Amerika Serikat. Biaya tambahan yang harus ditanggung bisnis diperkirakan mencapai US$12 miliar atau sekitar Rp216 triliun setiap tahun.
Perkiraan tersebut disampaikan Asisten Profesor Scheller College of Business, Georgia Institute of Technology, Daniel Yue. Ia melakukan perhitungan berdasarkan data penggunaan berbagai model AI yang tersedia melalui OpenRouter.
OpenRouter merupakan agregator model bahasa besar atau large language model (LLM). Platform tersebut memungkinkan pengembang menggunakan dan berpindah di antara berbagai model AI melalui satu antarmuka pemrograman aplikasi atau API.
Iklan
Berdasarkan perhitungan Yue, pengguna OpenRouter berpotensi menanggung tambahan biaya sekitar US$2 miliar setiap tahun jika tidak lagi dapat memakai model berbobot terbuka asal China.
Tambahan biaya muncul apabila pengguna harus mengganti model tersebut dengan sejumlah model tertutup berbayar terkemuka.
Yue menyusun perhitungan berdasarkan volume penggunaan token dan perbedaan harga antara model terbuka dengan model tertutup. Data yang menjadi dasar perhitungan berasal dari periode 21 hingga 27 Juli.
Jika dampak tersebut diperluas ke seluruh perekonomian Amerika Serikat, Yue memperkirakan tambahan biaya dapat berada pada kisaran US$3 miliar hingga US$12 miliar per tahun.
Besarnya biaya akan bergantung pada seberapa tinggi ketergantungan perusahaan dan pengguna di AS terhadap model AI berbobot terbuka asal China.
Meski demikian, Yue menegaskan angka tersebut hanya menggambarkan perkiraan kasar mengenai skala biaya yang mungkin muncul. Angka itu bukan proyeksi pasti mengenai dampak ekonomi dari larangan AI China.
Salah satu alasannya, penggunaan model AI di luar platform terpusat sulit dilacak secara menyeluruh. Selain itu, OpenRouter hanya mewakili sebagian kecil dari pasar global penggunaan model bahasa besar.
Perhatian pemerintah Amerika Serikat terhadap perkembangan model AI berbobot terbuka asal China semakin meningkat setelah Moonshot AI meluncurkan Kimi K3 pada akhir Juli.
Dalam sejumlah pengujian, kemampuan Kimi K3 disebut dapat bersaing dengan model tertutup terkemuka yang dikembangkan Anthropic dan OpenAI.
Kemunculan Kimi K3 kemudian kembali memicu pembahasan mengenai kemungkinan pemerintahan Donald Trump membatasi model sumber terbuka asing. Pejabat AS selanjutnya menuding Moonshot AI melakukan pelanggaran terhadap kekayaan intelektual milik Amerika Serikat.
Namun, potensi pembatasan model AI China tersebut menghadapi penolakan dari sejumlah perusahaan teknologi besar di AS.
Nvidia, Palantir, dan Meta Platforms termasuk perusahaan yang menandatangani surat terbuka. Mereka mendesak pemerintah Amerika Serikat agar tidak memberlakukan pembatasan terhadap model berbobot terbuka.
Perusahaan-perusahaan tersebut memperingatkan bahwa kebijakan yang diterapkan terlalu dini berpotensi menghambat persaingan. Selain itu, pembatasan dapat mendorong aktivitas inovasi teknologi berpindah ke luar Amerika Serikat.
Di sisi lain, Yue menilai dampak ekonomi dari pembatasan AI China masih sulit dihitung secara pasti. Pasalnya, belum diketahui bagaimana perusahaan-perusahaan AS akan merespons apabila akses terhadap model tersebut benar-benar dibatasi.
Perusahaan dapat memilih beralih menggunakan model AI tertutup yang membutuhkan biaya lebih tinggi. Namun, mereka juga berpotensi mengurangi atau bahkan menghentikan sebagian penggunaan teknologi AI.
Mitra perusahaan modal ventura Foundation Capital, Jaya Gupta, menilai kemungkinan kedua dapat terjadi.
Dalam esai berjudul “AI’s 2008 Moment”, Gupta menjelaskan bahwa sejumlah sistem penting dan industri di Amerika Serikat menggunakan model berbobot terbuka karena teknologi tersebut memungkinkan AI berjalan secara lokal.
Menurut Gupta, larangan secara menyeluruh terhadap model tersebut berpotensi membuat sebagian besar permintaan terhadap layanan AI menghilang dengan cepat.
Dampaknya tidak hanya berpotensi dirasakan perusahaan pengguna AI. Industri infrastruktur kecerdasan artifisial juga dapat terkena tekanan apabila permintaan mengalami penurunan tajam.
Risiko itu semakin besar karena pembangunan sejumlah pusat data AI mengandalkan pembiayaan berbasis utang. Investasi tersebut dibuat berdasarkan perkiraan bahwa permintaan terhadap komputasi AI akan terus meningkat pada masa mendatang.
Dengan kondisi tersebut, kebijakan larangan AI China berpotensi menimbulkan efek yang lebih luas dari sekadar persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China. Pembatasan juga dapat memengaruhi biaya operasional perusahaan, permintaan layanan AI, hingga keberlanjutan investasi infrastruktur kecerdasan artifisial di AS.
(faz/fza)



