JAKARTA, ifakta.co – Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia ikut mendorong upaya pengendalian polusi udara melalui gagasan kebijakan dan inovasi. Berbagai rekomendasi tersebut mereka sampaikan dalam kompetisi Biru Voices: Clean Air Policy Competition 2026.
Kompetisi itu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengolah persoalan pencemaran udara menjadi rekomendasi kebijakan yang dapat dipertimbangkan pemerintah dan para pemangku kepentingan.
Akademisi Universitas Indonesia sekaligus mantan Juru Bicara Presiden SBY periode 2009-2014, Julian Aldrin Pasha, menilai proses dalam kompetisi tersebut memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda sebagai Clean Air Advocates.
Iklan
“Yang kita saksikan hari ini di sini adalah satu penampilan yang luar biasa, saya kira, dari gabungan bagaimana ide itu bisa dipresentasikan di dalam satu presentasi yang utuh yang melibatkan semua. Seperti yang kita ketahui, kompetisi hari ini kan itu melibatkan beberapa komponen dan itu memang sangat baik untuk memperlihatkan bagaimana public concerns coba diangkat dan coba untuk dijelaskan dan dicarikan solusinya dalam bentuk policy brief,” ujar Julian.
Pernyataan tersebut disampaikan Julian setelah menyaksikan presentasi 10 tim finalis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mereka memaparkan rekomendasi untuk menjawab persoalan pencemaran udara perkotaan.
Presentasi berlangsung di Gedung Grha Ali Sadikin, Kompleks Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, Kamis (3/9). Para peserta menyampaikan gagasan mereka di hadapan dewan juri yang memiliki latar belakang pemerintahan, akademisi, dunia usaha, hingga lembaga riset.
Dewan juri terdiri atas Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Marulina Dewi, Deputy Head of Standing Committee for Tech and Digital KADIN Dara Nasution, Julian Aldrin Pasha, Research Fellow Georgetown SFS Asia Pacific sekaligus Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute Wendy Haryanto, serta Direktur Yayasan Bakti Barito Dian A. Purbasari.
Kehadiran para juri dari berbagai sektor memberikan perspektif yang lebih luas terhadap gagasan mahasiswa. Selain menilai kualitas presentasi, mereka juga melihat kemampuan peserta dalam mengidentifikasi persoalan dan menawarkan solusi yang konkret.
Dian A. Purbasari menilai pendekatan analitis yang digunakan para mahasiswa menunjukkan kemampuan generasi muda dalam menyusun rekomendasi kebijakan berbasis persoalan nyata.
“Pendekatan analitis para mahasiswa dalam merumuskan rekomendasi kebijakan yang konkret membuktikan bahwa generasi muda kita bukan sekadar pengamat, melainkan inovator yang siap memberikan kontribusi nyata bagi masa depan udara bersih di Indonesia.” ujar Dian.
Dalam kompetisi tersebut, Tim Duarr dari Politeknik Keuangan Negara STAN keluar sebagai Juara 1. Tim itu mengusung gagasan bertajuk “Dual Track Decarbonization: Menata Insentif dan Disinsentif Pengendalian Polusi Udara di Jabodetabek”.
Gagasan tersebut berangkat dari persoalan pengendalian polusi udara yang dinilai masih banyak mengandalkan regulasi. Menurut tim, kebijakan tersebut perlu mendapat dukungan insentif dan mekanisme pembiayaan yang memadai.
Karena itu, Tim Duarr mendorong penerapan kombinasi insentif dan disinsentif fiskal. Strategi tersebut ditujukan untuk memperkuat upaya pengendalian emisi di wilayah Jabodetabek.
Sementara itu, Juara 2 diraih Tim APPA dari Institut Teknologi Bandung. Tim tersebut mengajukan rekomendasi berjudul “Pengendalian Emisi Industri Berbasis Data dan Penataan Ruang di Cekungan Bandung”.
Gagasan Tim APPA menyoroti persoalan penumpukan polutan di wilayah Cekungan Bandung. Salah satu faktor yang mereka angkat adalah emisi industri yang dapat ter
(yes/faz)



