JAKARTA, ifakta.co – Memiliki lebih dari satu pekerjaan kini semakin lazim, terutama sejak sistem kerja fleksibel dan ekonomi digital berkembang pesat. Fenomena ini dikenal sebagai polyworking, yaitu kondisi ketika seseorang menjalankan beberapa pekerjaan yang sama-sama menghasilkan pendapatan dalam waktu bersamaan.
Tidak Hanya Terjadi pada Generasi Z
Banyak orang menganggap polyworking identik dengan Generasi Z. Padahal, data ketenagakerjaan menunjukkan anggapan tersebut belum tentu benar. Praktik memiliki pekerjaan utama sekaligus pekerjaan tambahan sudah lama terjadi di Indonesia dan melibatkan berbagai kelompok usia.
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Qisha Quarina, S.E., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa polyworking perlu dipahami sesuai kondisi pasar kerja Indonesia. Menurutnya, konsep memiliki pekerjaan utama dan pekerjaan tambahan sebenarnya sudah lama dikenal melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), meski belum menggunakan istilah polyworking.
Iklan
“Kalau kita berbicara polyworking dalam arti ada pekerjaan utama dan pekerjaan sampingan, itu tentunya tidak spesifik hanya untuk Gen Z. Tinggal lagi konteksnya apa dulu,” ujarnya.
Hasil olahan data Sakernas Agustus 2024 menunjukkan sekitar 19,29 juta pekerja atau 13,34 persen dari seluruh pekerja di Indonesia memiliki pekerjaan tambahan.
Menariknya, kelompok usia yang paling banyak menjalani pekerjaan tambahan justru berasal dari kalangan usia matang. Pekerja berusia 45–54 tahun menempati porsi terbesar, disusul kelompok usia di atas 55 tahun serta kelompok usia 35–44 tahun.
Sebaliknya, pekerja berusia 15–24 tahun hanya menyumbang sebagian kecil dari keseluruhan pekerja yang memiliki pekerjaan tambahan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa polyworking bukan fenomena yang hanya melekat pada anak muda.
Menurut Qisha, setiap kelompok usia memiliki alasan berbeda ketika memutuskan mengambil pekerjaan tambahan. Ada yang ingin meningkatkan pendapatan, memperluas pengalaman, hingga mempersiapkan masa pensiun.
Alasan Banyak Orang Memilih Polyworking
Dalam perspektif ekonomi ketenagakerjaan, keputusan mengambil pekerjaan tambahan merupakan pilihan yang rasional.
Seseorang akan membagi waktunya antara bekerja, beristirahat, dan menjalankan aktivitas lain. Ketika seseorang rela mengurangi waktu luang demi pekerjaan tambahan, biasanya terdapat tujuan ekonomi yang ingin tercapai.
“Secara rasional ketika orang bekerja sampingan di luar pekerjaan utama, artinya pekerjaan utamanya belum cukup untuk memenuhi standar hidupnya,” jelas Qisha.
Selain meningkatkan penghasilan, pekerjaan tambahan juga memberi peluang untuk mengembangkan keterampilan baru, memperluas jaringan profesional, serta memperoleh pengalaman di bidang yang berbeda.
Berkembangnya platform digital turut membuka lebih banyak peluang kerja lepas sehingga masyarakat kini lebih mudah memperoleh sumber pendapatan tambahan.
Data Sakernas memperlihatkan sebagian besar pekerjaan tambahan berada pada sektor informal.
Sekitar 86,79 persen pekerjaan tambahan berstatus informal, sedangkan pekerjaan formal hanya mencakup sekitar 13,21 persen.
Bahkan, pekerja yang memiliki pekerjaan utama formal pun banyak memilih pekerjaan tambahan di sektor informal. Kondisi ini menunjukkan bahwa pekerjaan sampingan tidak selalu mengurangi kesempatan kerja formal bagi pencari kerja baru.
Menurut Qisha, sektor informal menawarkan fleksibilitas waktu sehingga dapat menyeimbangi pekerjaan utama.
Pengalaman Kerja Bisa Menjadi Nilai Tambah
Memiliki beberapa pekerjaan tidak selalu dipandang negatif oleh perusahaan.
Jika pengalaman tersebut relevan, polyworking justru dapat memperkuat kompetensi dan memperkaya portofolio pelamar kerja.
Sebaliknya, terlalu sering berpindah pekerjaan dalam waktu singkat juga dapat menimbulkan penilaian berbeda dari perusahaan. Riwayat kerja seperti itu terkadang memunculkan pertanyaan mengenai komitmen jangka panjang seorang kandidat.
“Ada dua sisi yang harus kita lihat, apakah itu membantu enhancing CV, atau justru menjadi signaling mengenai motivasi pekerjanya,” kata Qisha.
Karena itu, pekerja perlu memilih pengalaman yang benar-benar mendukung pengembangan karier, bukan sekadar mengejar banyaknya pekerjaan.
Qisha menilai keterlibatan aktif di dunia kerja tetap memberikan manfaat bagi pengembangan human capital atau modal manusia.
Semakin sering seseorang menggunakan keterampilan yang dimiliki, semakin besar pula peluangnya untuk terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri.
Sebaliknya, kemampuan yang lama tidak tersalurkan berpotensi mengalami penurunan.
Ia juga mengingatkan mahasiswa maupun lulusan baru agar tidak hanya berfokus mencari banyak pekerjaan. Mereka juga perlu membangun kemampuan mengatur waktu, menjaga profesionalisme, serta memahami hak-hak sebagai pekerja, termasuk perlindungan jaminan sosial bagi pekerja lepas.
“Komitmen itu penting. Selain itu, pahami juga hak Anda sebagai pekerja, karena sering kali pekerja lepas belum menyadari perlindungan yang menjadi haknya,” pungkasnya.
Fenomena polyworking diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya fleksibilitas dunia kerja. Namun, keberhasilan menjalani beberapa pekerjaan sekaligus tidak hanya bergantung pada peluang yang tersedia. Kemampuan mengelola waktu, menjaga kesehatan, meningkatkan kompetensi, dan mempertahankan komitmen profesional tetap menjadi faktor utama agar polyworking benar-benar memberikan manfaat bagi karier maupun kesejahteraan.
(naf/lex)



