JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Rabu pagi. Mata uang Garuda terkoreksi 4 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.984 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.980 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Salah satu faktor utama berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Sub Judul: Ketegangan Timur Tengah Tekan Pergerakan Rupiah
Iklan
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan meningkatnya konflik di Timur Tengah menjadi salah satu penyebab tekanan terhadap rupiah. Menurutnya, pasar merespons aksi militer terbaru Amerika Serikat terhadap Iran setelah adanya serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.
Selain faktor eksternal, pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan cadangan devisa Indonesia yang mencatatkan peningkatan pada akhir Juni 2026.
Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa mencapai 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026. Jumlah tersebut meningkat sebesar 700 juta dolar AS dibandingkan posisi akhir Mei 2026 yang berada di level 144,9 miliar dolar AS.
Kenaikan cadangan devisa terutama didorong oleh penerimaan negara yang berasal dari sektor pajak dan jasa. Peningkatan itu terjadi di tengah kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar yang terus dilakukan Bank Indonesia untuk meredam gejolak pasar keuangan global.
Saat ini, posisi cadangan devisa Indonesia dinilai masih sangat memadai. Nilainya setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut jauh melampaui standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menunggu rilis data Indeks Kepercayaan Konsumen yang diperkirakan meningkat hingga mencapai level 125. Data tersebut dipandang akan memberikan gambaran mengenai kondisi konsumsi domestik dan berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan.
(den/jo)

