JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (22/7) sore. Mata uang Garuda berada di posisi Rp17.917 per dolar Amerika Serikat (AS), atau turun 29 poin setara 0,16 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China tercatat melemah 0,12 persen, sementara ringgit Malaysia justru menguat tipis 0,02 persen.

Di kawasan yang sama, peso Filipina terkoreksi 0,02 persen. Sebaliknya, yen Jepang naik 0,07 persen, won Korea Selatan menguat 0,14 persen, dolar Hong Kong terapresiasi 0,02 persen, dan dolar Singapura juga naik 0,02 persen.

Iklan

Pergerakan mata uang negara maju turut menunjukkan tren yang beragam. Euro menguat 0,09 persen terhadap dolar AS, sedangkan dolar Australia melemah 0,06 persen. Sementara itu, dolar Kanada naik 0,10 persen, franc Swiss menguat 0,09 persen, dan poundsterling Inggris bergerak stabil.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen global. Salah satunya adalah bentrokan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan.

Selain itu, pasar juga merespons ekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) berpotensi kembali menaikkan suku bunga secara agresif pada 2026. Kondisi tersebut memperkuat posisi dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari sisi domestik, Ibrahim menyebut pelemahan rupiah dipicu oleh kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencatat defisit sebesar Rp196,5 triliun hingga akhir Juni 2026 atau semester I 2026.

Faktor lain yang turut memengaruhi pergerakan rupiah adalah keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.920 – Rp18.970,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7).

(den/jo)

Iklan