SEMARANG, ifakta.co – Tingginya minat masyarakat untuk bekerja maupun melanjutkan studi ke Jepang kembali terlihat pada pelaksanaan Japanese Language Proficiency Test (JLPT) 2026. Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang kembali menjadi salah satu lokasi penyelenggara ujian sertifikasi bahasa Jepang bertaraf internasional untuk wilayah Semarang dan sekitarnya, Minggu (5/7).
Tahun ini, pelaksanaan JLPT menghadirkan perubahan penting. Panitia memberlakukan sistem pengamanan yang jauh lebih ketat dibanding periode sebelumnya. Langkah tersebut bertujuan menjaga integritas ujian sekaligus menutup peluang praktik kecurangan maupun penggunaan joki.
Antusiasme peserta juga meningkat tajam. Kuota ujian periode Juli 2026 mencapai 3.500 peserta. Jumlah itu naik sekitar 1.000 kursi dibanding pelaksanaan sebelumnya yang hanya menyediakan 2.500 peserta. Menariknya, seluruh kuota langsung habis hanya dalam waktu sekitar 30 menit setelah pendaftaran daring dibuka.
Iklan
Ketua Pelaksana JLPT 2026 Udinus, Budi Santoso, menjelaskan seluruh prosedur keamanan mengikuti standar baru dari The Japan Foundation sebagai penyelenggara pusat.
Menurutnya, dokumen soal memperoleh perlakuan khusus sejak tiba di Indonesia. Panitia menyimpan seluruh naskah asli dalam ruangan berlapis pengamanan. CCTV terus memantau ruangan tersebut. Rekaman pengawasan bahkan langsung terkirim ke pusat sebagai bagian dari sistem pengendalian.
“Dokumen soal baru boleh didistribusikan ke lokasi ujian pada hari H mulai pukul 07.00 WIB untuk mencegah kebocoran informasi,” ujar Budi.
Aturan Peserta Makin Ketat demi Cegah Praktik Joki
Selain memperketat pengamanan dokumen, panitia juga menerapkan aturan disiplin kepada seluruh peserta. Peserta wajib hadir sesuai jadwal karena panitia hanya memberi toleransi keterlambatan hingga 30 menit sebelum ujian berlangsung. Setelah batas waktu terlewati, panitia langsung menggugurkan hak peserta mengikuti ujian.
Selanjutnya, seluruh perangkat elektronik wajib tersimpan pada tempat khusus selama ujian berlangsung. Peserta juga harus tetap berada dalam area steril, termasuk saat jeda antarsesi. Aturan itu berlaku untuk meminimalkan komunikasi dengan pihak luar.
Panitia juga mewajibkan setiap peserta membawa identitas fisik asli, seperti KTP atau SIM. Panitia tidak menerima identitas digital melalui telepon seluler maupun salinan fotokopi.
“Kami juga mewajibkan peserta membawa kartu identitas fisik asli seperti KTP atau SIM. Pihak pusat secara tegas menolak segala bentuk identitas digital lewat ponsel maupun fotokopi demi menghindari joki ujian,” jelas Budi.
Jumlah peserta yang terus meningkat membuat kebutuhan ruang ujian ikut bertambah. Tahun ini panitia menyiapkan sekitar 140 ruang ujian dengan dukungan sistem audio terpusat.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Udinus menggandeng sejumlah institusi pendidikan di Semarang. Pelaksanaan ujian tersebar di Universitas Diponegoro (Undip), SMA Sedes Sapientiae, SMA Don Bosco, SMA Kesatrian 2, serta SMA Nusa Putera. Pembagian lokasi mengikuti jenjang kemampuan peserta mulai level N5 hingga N1.
Ketua Program Studi Sastra Jepang Udinus, Ahmad Syaifuddin, mengatakan sertifikat JLPT memiliki nilai penting bagi masyarakat yang ingin bekerja ataupun melanjutkan pendidikan di Jepang.
Menurutnya, perusahaan-perusahaan Jepang memberikan apresiasi lebih kepada tenaga kerja yang memiliki sertifikat JLPT, khususnya level N3, N2, maupun N1. Bahkan, sertifikat tersebut sering menjadi syarat utama dalam proses rekrutmen.
Di lingkungan Udinus sendiri, mahasiswa mulai mengikuti JLPT secara bertahap sejak awal perkuliahan. Kampus menargetkan mahasiswa mampu meraih sertifikat minimal level N4 pada tahun kedua.
“Setelah mengantongi sertifikat minimal level N4 di tahun kedua, mahasiswa kami sudah bisa mengikuti program internship atau magang selama satu tahun langsung di Jepang pada tahun ketiga mereka. Setiap tahunnya, ada sekitar 25 sampai 35 mahasiswa yang berangkat,” terang Ahmad.
Pelaksanaan ujian tahun ini juga memperoleh tanggapan positif dari peserta. Muhammad Naufal, mahasiswa Manajemen asal Semarang yang mengikuti ujian level N5, mengaku merasa nyaman selama mengikuti seluruh rangkaian tes.
Menurutnya, pelayanan panitia berjalan baik. Selain itu, kondisi ruang ujian juga mendukung peserta untuk berkonsentrasi karena suasananya tertib dan fasilitasnya memadai.
“Panitianya sangat ramah dan fasilitas ruangannya sangat mendukung, AC-nya dingin dan suasananya kondusif jadi bisa fokus mengerjakan soal,” ujar Naufal.
(naf/lex)
