JAKARTA, ifakta.co – Perkembangan teknologi menghadirkan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul tantangan baru yang mulai terlihat pada kesehatan mental anak dan Generasi Z.

Bunda PAUD Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menilai perubahan pola hidup yang serba cepat membuat banyak anak terbiasa memperoleh segala sesuatu secara instan. Akibatnya, mereka berpotensi kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi proses, kegagalan, dan perjuangan.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi daya tahan mental generasi muda ketika menghadapi tekanan dalam kehidupan nyata.

Iklan

“Sehingga pada saat ini kesehatan mental pada anak-anak itu semakin menurun. Anak-anak mendapatkan semuanya secara instan,” kata Nawal.

Budaya Serba Cepat Membuat Anak Kurang Terlatih Menghadapi Tantangan

Nawal menjelaskan bahwa teknologi telah mengubah cara anak memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Beragam layanan kini tersedia hanya melalui telepon genggam sehingga anak tidak lagi terbiasa menunggu atau berusaha lebih keras.

“Mau beli bakso tinggal klik, mau apa tinggal klik. Semua ada di genggaman. Kita mungkin dulu masih harus effort luar biasa untuk meraih suatu hal. Sehingga ini menjadi pemicu besar adanya kesehatan mental Gen Z ini yang menjadi rapuh,” jelasnya.

Menurutnya, perbedaan pengalaman tersebut membentuk karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika dahulu anak belajar melalui proses yang panjang, kini banyak kebutuhan dapat terpenuhi dalam hitungan menit.

Karena itu, kemampuan menghadapi kegagalan, tekanan, dan rasa kecewa perlu terus dilatih sejak usia dini agar anak tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah.

Ekspektasi Orang Tua Berlebihan Dapat Menekan Anak

Selain pengaruh teknologi, Nawal juga menyoroti pola pengasuhan yang sering kali memberikan tekanan berlebihan kepada anak.

Ia melihat banyak orang tua tanpa sadar membandingkan kemampuan buah hatinya dengan anak lain. Padahal, setiap anak memiliki kecepatan tumbuh kembang yang berbeda.

“Ekspektasi kita itu kadang-kadang tidak bisa kita atur. Anak ini sebenarnya belum waktunya untuk bisa membaca, menulis. Tetapi karena hanya melihat temannya sudah bisa membaca, sudah bisa menulis, kemudian ke-trigger di diri kita untuk menekan anak bisa mengikuti itu,” ujarnya.

Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, orang tua sering melampiaskan kekecewaan melalui emosi. Situasi seperti itu justru dapat membuat anak merasa tertekan dan kehilangan rasa percaya diri.

“Akhirnya ekspektasi tinggi ini mengakibatkan kita sering melampiaskan ini dengan emosi. Emosi-emosi untuk ayo cepat belajar. Kalau tidak bisa-bisa ya menjadi emosi sendiri, yang kemudian anak ini menjadi tertekan,” ungkap Nawal.

Disiplin Positif Perlu Diterapkan Sejak Dini

Nawal mengajak keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar untuk bersama-sama membangun karakter anak melalui disiplin positif, bukan tekanan atau hukuman.

Menurutnya, orang tua perlu memahami setiap fase perkembangan sehingga target yang diberikan tetap sesuai dengan usia anak.

Pada masa 0 hingga 6 tahun, anak membutuhkan stimulasi dan layanan yang mendukung perkembangan dasar mereka. Selanjutnya, usia 6 sampai 10 tahun menjadi periode penting untuk membangun kebiasaan disiplin secara konsisten.

Sementara itu, ketika anak memasuki usia 11 hingga 15 tahun, orang tua sebaiknya lebih banyak berperan sebagai pendamping dan sahabat agar komunikasi tetap terbuka.

Pendekatan tersebut dinilai mampu membantu anak berkembang secara fisik sekaligus menjaga kesehatan mentalnya.

Nawal menegaskan bahwa penguatan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Orang tua dan lingkungan sekitar juga memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang tangguh di tengah derasnya arus digital.

“Sehingga ini yang menjadi concern saya, bagaimana ayo kita bersama-sama menjawab isu-isu untuk penguatan generasi kita ke depannya,” tuturnya.

Ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa kesehatan mental anak perlu mendapat perhatian yang sama besarnya dengan kesehatan fisik. Dengan pola asuh yang tepat, disiplin positif, dan ekspektasi yang realistis, anak-anak dapat tumbuh menjadi Generasi Z yang lebih percaya diri, tangguh, serta siap menghadapi berbagai perubahan di masa depan.

(naf/lex)

Iklan