JAKARTA, ifakta.co – Kemudahan transaksi digital membuat Generasi Z semakin dekat dengan berbagai layanan keuangan. Namun, di balik kemudahan tersebut, banyak anak muda masih menghadapi persoalan mendasar, yaitu kemampuan mengelola uang secara bijak.

Berbagai survei menunjukkan tingkat literasi keuangan kelompok usia muda masih tertinggal daripada kelompok usia produktif lainnya. Selain itu, tidak sedikit anak muda yang menghabiskan pengeluaran lebih besar daripada pendapatan yang mereka miliki setiap bulan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan uang belum tentu sejalan dengan kemampuan mengelolanya.

Akibatnya, banyak generasi muda kesulitan membangun tabungan, menyiapkan dana darurat, maupun merencanakan tujuan keuangan jangka panjang. Padahal, tantangan ekonomi saat ini menuntut anak muda memiliki fondasi finansial yang lebih kuat sejak usia dini.

Iklan

OJK: Perencanaan Keuangan Harus Dimulai Sejak Muda

Asisten Manajer Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sumatera Selatan, Silvia Marshanda Fernandez, menilai stabilitas keuangan tidak muncul secara instan. Menurutnya, anak muda perlu membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak sekarang.

“Perencanaan keuangan jangka panjang sebetulnya bisa dimulai dari hal sederhana. Pahami kondisi arus kas, bedakan kebutuhan dan keinginan, pilih instrumen investasi yang tepercaya, siapkan dana darurat, dan yang paling krusial, pastikan legalitas lembaga keuangannya,” jelas Silvia dalam acara program GESIT.

Menurut Silvia, banyak anak muda terlalu fokus mengejar gaya hidup saat ini, sementara mereka sering mengabaikan kebutuhan masa depan. Karena itu, kemampuan menyusun prioritas keuangan menjadi keterampilan yang sangat penting.

Selain itu, ia menekankan bahwa investasi bukan langkah pertama yang harus dilakukan seseorang. Sebaliknya, generasi muda perlu memahami kondisi keuangan pribadi terlebih dahulu sebelum menempatkan dana pada berbagai instrumen investasi.

Di era media sosial, anak muda kerap menghadapi berbagai godaan konsumsi. Tren yang terus berganti, promosi belanja digital, hingga kemudahan pembayaran non-tunai sering mendorong pengeluaran impulsif.

Karena itu, banyak anak muda tanpa sadar mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan jangka pendek. Mereka membeli barang berdasarkan keinginan sesaat, sementara tabungan dan dana cadangan justru berada di urutan terakhir.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan masalah ketika muncul kebutuhan mendesak. Tanpa dana darurat yang memadai, seseorang lebih rentan bergantung pada pinjaman atau fasilitas kredit yang justru dapat menambah beban keuangan.

Oleh sebab itu, para ahli keuangan terus mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin. Dengan cara tersebut, seseorang dapat memahami pola penggunaan uang sekaligus mengidentifikasi pos pengeluaran yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Anak Muda Perlu Mengubah Pola Pikir Finansial

Selain kemampuan teknis mengatur uang, pola pikir juga memegang peran penting dalam membangun kesehatan finansial. Banyak anak muda masih menganggap perencanaan keuangan sebagai sesuatu yang rumit atau hanya diperlukan ketika penghasilan sudah besar.

Padahal, semakin cepat seseorang mulai mengatur keuangan, semakin besar pula peluangnya mencapai stabilitas finansial pada masa depan.

Pakar keuangan menilai kebiasaan sederhana seperti menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan, membuat anggaran bulanan, serta menetapkan target keuangan dapat memberikan dampak besar dalam jangka panjang.

Lebih jauh, anak muda juga perlu memahami bahwa stabilitas keuangan bukan sekadar memiliki pendapatan tinggi. Sebaliknya, stabilitas finansial lahir dari kemampuan mengelola uang secara disiplin, mengendalikan pengeluaran, dan mempersiapkan kebutuhan masa depan secara terencana.

Tantangan ekonomi yang semakin kompleks membuat literasi keuangan menjadi kebutuhan penting bagi Generasi Z. Kemampuan mengelola arus kas, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memilih produk keuangan yang aman akan membantu anak muda menghadapi berbagai risiko finansial di kemudian hari.

Karena itu, edukasi keuangan perlu terus diperkuat agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen layanan keuangan, tetapi juga mampu mengambil keputusan finansial secara cerdas dan bertanggung jawab. Dengan langkah tersebut, Generasi Z memiliki peluang lebih besar untuk membangun masa depan yang stabil dan berkelanjutan.

(naf/lex)

Iklan