JAKARTA, ifakta.co – Tarot reading kembali menarik perhatian publik, terutama di kalangan Generasi Z. Jika dulu masyarakat mengaitkan kartu tarot dengan dunia mistis, kini banyak anak muda memandangnya sebagai sarana refleksi diri dan pencarian ketenangan batin.
Media sosial ikut mendorong popularitas tarot. Banyak kreator konten membahas percintaan, karier, hingga kondisi emosional melalui interpretasi kartu. Karena itu, tarot kini hadir sebagai bagian dari tren self-healing dan pencarian arah hidup.
Sebagian anak muda mengaku merasa lebih tenang setelah menjalani sesi tarot reading. Mereka menggunakan tarot untuk memahami situasi hidup, mengurai kecemasan, atau mencari sudut pandang baru terhadap masalah yang sedang dihadapi.
Iklan
Meski begitu, psikolog mengingatkan bahwa tarot tidak bisa menggantikan terapi psikologis maupun penanganan kesehatan mental secara profesional.
Gen Z Gunakan Tarot untuk Meredakan Kecemasan
Psikolog Klinis dari Universitas Airlangga, Dian Kartika Amelia Arbi, menjelaskan bahwa tarot sebenarnya bukan fenomena baru. Namun, perkembangan media sosial membuat praktik tersebut semakin mudah terakses oleh generasi muda.
Menurut Dian, banyak anak muda mencari tarot ketika menghadapi situasi yang tidak pasti. Mereka merasa cemas, bingung, atau kehilangan kendali atas hidupnya. Dalam kondisi itu, tarot menawarkan narasi yang terasa menenangkan dan tidak menghakimi.
Selain itu, sebagian individu memakai tarot sebagai coping mechanism atau cara sementara untuk mengurangi tekanan emosional. Mereka berharap tarot dapat membantu menjelaskan hal-hal yang belum mampu mereka pahami.
Kondisi tersebut muncul karena banyak anak muda menghadapi tekanan akademik, pekerjaan, hubungan sosial, hingga tuntutan hidup yang semakin kompleks. Akibatnya, mereka mencari media yang mampu memberi rasa aman secara emosional.
Tarot Reading Punya Kemiripan dengan Pendekatan Psikologi
Tarot reading memakai 78 kartu bergambar yang memiliki simbol tertentu. Pembaca tarot biasanya meminta seseorang memilih beberapa kartu, lalu menafsirkan makna berdasarkan posisi dan gambar yang muncul.
Metode tersebut sekilas mirip dengan beberapa pendekatan psikologi yang memakai interpretasi gambar untuk memahami kondisi seseorang. Salah satu contohnya ialah tes Rorschach yang menggunakan bercak tinta untuk mengeksplorasi persepsi individu.
Selain itu, psikolog juga mengenal tes apersepsi tematik yang meminta seseorang membuat cerita berdasarkan gambar tertentu. Pendekatan tersebut membantu psikolog memahami emosi, konflik, dan pola pikir individu.
Psikiater asal Swiss, Carl Jung, pernah menilai simbol dalam kartu tarot dapat menggambarkan pengalaman universal manusia, seperti ambisi, harapan, ketakutan, dan kekuatan diri.
Walaupun memiliki kemiripan, psikolog menegaskan bahwa tarot tidak memiliki dasar ilmiah untuk menggantikan psikoterapi.
Tarot Bisa Membantu Seseorang Mengenali Emosi
Sebagian orang merasa tarot membantu mereka memahami kondisi emosional dengan lebih mudah. Simbol dan metafora pada kartu tarot sering memancing seseorang untuk berpikir lebih dalam tentang dirinya sendiri.
Selain itu, tarot juga membantu individu yang kesulitan mengungkapkan perasaan secara langsung. Gambar pada kartu membuat mereka lebih nyaman membicarakan rasa takut, kecewa, atau konflik batin yang selama ini dipendam.
Karena itu, beberapa orang merasa lebih lega setelah menjalani tarot reading. Mereka memperoleh sudut pandang baru terhadap masalah yang sedang dihadapi.
Terlalu Bergantung pada Tarot Bisa Memicu Masalah
Meski dapat memberi efek menenangkan, tarot juga memiliki risiko jika seseorang terlalu bergantung padanya. Psikolog menilai ketergantungan terhadap tarot dapat menghambat kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah secara nyata.
Sebagian individu akhirnya percaya bahwa hidup mereka sepenuhnya ditentukan oleh hasil pembacaan kartu. Akibatnya, mereka kehilangan motivasi untuk mengambil keputusan atau memperbaiki keadaan.
Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai self-fulfilling prophecy. Seseorang bertindak sesuai keyakinan yang ia percayai sebelumnya hingga hasilnya terasa benar-benar terjadi.
Jika kondisi itu terus berlangsung, individu bisa semakin sulit membedakan antara refleksi diri dan ketergantungan emosional terhadap ramalan.
Psikolog Sarankan Cara Mengelola Stres yang Lebih Sehat
Psikolog menyarankan masyarakat mengelola stres melalui cara yang lebih sehat. Misalnya dengan rutin berolahraga, menjaga pola tidur, menulis journaling, serta mengatur waktu dengan baik.
Selain itu, dukungan dari keluarga dan teman dekat juga membantu seseorang menghadapi tekanan hidup. Komunikasi yang terbuka membuat individu merasa lebih aman dan tidak menghadapi masalah sendirian.
Namun, apabila stres mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, memicu kecemasan berlebihan, atau menyebabkan tekanan emosional berkepanjangan, seseorang sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater.
Pendampingan profesional membantu individu memahami akar masalah sekaligus menemukan solusi yang lebih tepat dibanding hanya bergantung pada tarot reading.
(naf/lex)





