JAKARTA, ifakta.co – Kenaikan harga properti membuat banyak generasi Z mulai memikirkan pilihan antara membeli rumah lewat Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau tetap menyewa tempat tinggal.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melalui pakar manajemen risiko, Dimas Bagus Wiranatakusuma, mengingatkan anak muda agar mulai menyusun perencanaan rumah sejak usia muda.
Ia menilai harga rumah akan terus naik karena permintaan properti meningkat setiap tahun, sedangkan jumlah lahan semakin terbatas.
Iklan
Selain itu, inflasi juga terus menurunkan nilai uang. Kondisi tersebut membuat aset seperti rumah, tanah, dan emas mengalami kenaikan nilai lebih cepat dibanding uang tunai.
“Harga rumah sebenarnya bukan semakin mahal, melainkan nilai uang kita yang terus menurun akibat inflasi. Sementara itu, rumah, tanah, dan emas merupakan aset yang memiliki nilai intrinsik dan cenderung terus meningkat daripada uang tunai,” jelasnya.
Rumah Tapak Diperkirakan Semakin Sulit Dimiliki
Ia memprediksi kondisi hunian di Indonesia akan bergerak seperti Singapura dan Malaysia. Di negara tersebut, masyarakat semakin sulit membeli rumah tapak karena harga tanah terus melonjak.
Karena itu, masyarakat mulai memilih hunian vertikal seperti apartemen dan rumah susun.
Menurutnya, pertumbuhan penduduk yang berlangsung lebih cepat dibanding penyediaan lahan menjadi penyebab utama kondisi tersebut.
Ia meminta generasi muda mulai memikirkan strategi kepemilikan rumah sejak dini agar tidak kesulitan di masa depan.
Ia menilai KPR masih menjadi solusi yang cukup realistis bagi anak muda. Namun, banyak generasi Z masih kesulitan menyiapkan uang muka dan menjaga kestabilan cicilan bulanan.
Ia juga mengingatkan anak muda agar tidak langsung tergoda promo cicilan ringan tanpa memahami sistem pembiayaan secara menyeluruh.
“Kalau bank konvensional biasanya terlihat murah di awal. Bunganya rendah beberapa tahun pertama, tetapi setelah itu bersifat floating dan bisa naik cukup tinggi setelah periode fixed rate selesai,” ujarnya.
KPR Syariah Dinilai Lebih Stabil
Ia menjelaskan bank konvensional biasanya menempatkan beban bunga cukup besar pada awal masa cicilan. Kondisi itu dapat menekan kondisi keuangan peminjam dalam jangka panjang.
Karena itu, ia menyarankan masyarakat mempertimbangkan pembiayaan syariah seperti akad murabahah atau Musyarakah Mutanaqisah (MMQ).
Pada akad murabahah, bank menetapkan cicilan tetap sejak awal hingga akhir masa pembiayaan. Skema tersebut membuat nasabah lebih mudah mengatur pengeluaran bulanan.
Sementara itu, akad MMQ memakai konsep kerja sama kepemilikan dan sistem sewa secara bertahap.
“Kalau ingin total pembayaran lebih murah, MMQ sebenarnya cukup menarik. Namun, memang belum banyak bank yang menawarkan karena margin keuntungannya lebih kecil daripada murabahah,” jelasnya.
Anak Muda Perlu Atur Rasio Cicilan
Di sisi lain, tren menyewa rumah juga mulai berkembang di kalangan generasi muda. Meski begitu, ia meminta masyarakat tetap menyesuaikan keputusan dengan kondisi keuangan masing-masing.
Ia menyarankan masyarakat menjaga rasio cicilan rumah agar tidak melebihi 50 persen dari total pendapatan rutin bulanan.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga kesehatan finansial sekaligus menghindari risiko gagal bayar.
Selain itu, ia meminta generasi muda mulai mengumpulkan aset sejak dini jika belum mampu membeli rumah sekarang.
Anak muda dapat memulai dari tabungan, emas, atau investasi lain untuk menyiapkan dana uang muka rumah.
“Kalau memang belum mampu membeli rumah sekarang, minimal mulai siapkan aset lancar seperti tabungan, emas, atau investasi untuk DP. Yang terpenting adalah mulai merencanakannya sejak dini,” tutupnya.
(naf/wli)




