BANYUMAS, ifakta.co – Kabupaten Banyumas memasuki periode yang perlu mendapat perhatian pada Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan wilayah ini mulai mengalami puncak musim kemarau sekaligus masuk kategori siaga dalam peringatan dini kekeringan meteorologis.
Prediksi tersebut menjadi bagian dari pemantauan BMKG terhadap kondisi musim kemarau di Jawa Tengah. Selain Banyumas, sejumlah daerah lain juga diperkirakan menghadapi kondisi serupa. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi berkurangnya curah hujan yang dapat memengaruhi ketersediaan air.
Berdasarkan Buletin Prediksi Musim Kemarau 2026, BMKG memperkirakan sebanyak 18 kabupaten dan kota di Jawa Tengah memasuki puncak musim kemarau pada Agustus. Sementara itu, 14 kabupaten lainnya juga mengalami puncak kemarau pada bulan yang sama, meski hanya berlangsung di sebagian wilayah.
Iklan
Adapun tiga daerah lainnya diperkirakan baru mencapai puncak musim kemarau pada September 2026.
Data BMKG menunjukkan musim kemarau di Jawa Tengah sebenarnya mulai berlangsung sejak Juli 2026. Pada periode tersebut, sekitar 14,8 persen Zona Musim (ZOM) telah memasuki fase puncak kemarau. Namun, cakupan wilayah meningkat tajam pada Agustus hingga mencapai sekitar 83,3 persen ZOM.
Sementara itu, akhir musim kemarau di Jawa Tengah diperkirakan mulai terjadi pada September 2026, meski hanya mencakup sekitar 1,9 persen zona musim.
Mayoritas Wilayah Jateng Alami Kemarau Lebih Panjang
Selain Banyumas, BMKG juga memprediksi Kota Tegal, Kota Pekalongan, Kota Semarang, Kota Salatiga, Kota Magelang, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga, dan Kabupaten Cilacap memasuki puncak musim kemarau pada Agustus.
Di sisi lain, sebagian besar wilayah Kabupaten Pemalang, Pekalongan, Batang, Pati, Rembang, Grobogan, Boyolali, Sukoharjo, serta Wonogiri juga diperkirakan mengalami kondisi serupa. Kemudian, sebagian wilayah Kabupaten Demak, Sragen, Karanganyar, serta sebagian kecil wilayah Kudus dan Blora turut memasuki puncak kemarau pada bulan ini.
BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau tahun 2026 berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal. Secara umum, musim kemarau di Jawa Tengah diperkirakan berlangsung selama 16 hingga 18 dasarian atau sekitar lima sampai enam bulan.
Sebanyak 35,2 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau selama 16 hingga 18 dasarian. Selanjutnya, sekitar 33,3 persen wilayah berpotensi mengalami kemarau selama 19 hingga 21 dasarian.
Selain itu, sekitar 9,3 persen wilayah diperkirakan mengalami musim kemarau selama 22 hingga 24 dasarian. Bahkan, sekitar 1,9 persen wilayah berpotensi mengalami kemarau hingga 25 sampai 27 dasarian.
Sementara itu, sekitar 12,9 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau selama 10 hingga 12 dasarian. Kemudian, sekitar 7,4 persen wilayah lainnya mengalami musim kemarau selama 13 hingga 15 dasarian.
Apabila dibandingkan dengan kondisi klimatologis normal, sebagian besar wilayah Jawa Tengah berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih panjang. BMKG mencatat sekitar 90,7 persen wilayah akan mengalami durasi kemarau di atas rata-rata normal.
Sebaliknya, hanya sekitar 3,7 persen wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih singkat. Sementara itu, sekitar 5,6 persen wilayah memiliki durasi musim kemarau yang relatif sama dengan kondisi normal.
Melihat kondisi tersebut, masyarakat, khususnya di Banyumas dan daerah lain yang masuk kategori siaga kekeringan, perlu mulai mengantisipasi potensi berkurangnya ketersediaan air bersih. Selain itu, penggunaan air secara bijak dan langkah mitigasi sejak dini menjadi bagian penting untuk menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung sepanjang Agustus hingga beberapa bulan berikutnya.
(naf/lex)

