JAKARTA, ifakta.co – Kehadiran ayah memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak. Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Sebaliknya, ayah juga berperan membangun rasa aman, membentuk karakter, serta membantu anak menghadapi tantangan hidup sejak usia dini.
Di tengah perkembangan teknologi digital, tantangan pengasuhan semakin kompleks. Karena itu, keterlibatan ayah dalam kehidupan sehari-hari menjadi semakin penting. Anak membutuhkan sosok yang hadir secara fisik sekaligus emosional agar dapat tumbuh dengan sehat, percaya diri, dan memiliki ketahanan mental yang baik.
Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, menegaskan bahwa menjadi ayah merupakan komitmen untuk mendampingi, melindungi, dan membimbing keluarga, bukan sekadar status biologis.
Iklan
Menurutnya, banyak nilai kehidupan dipelajari anak dari sosok ayah. Cara menghadapi masalah, keberanian mengambil keputusan, hingga sikap bertanggung jawab sering kali terbentuk melalui teladan yang mereka lihat setiap hari di rumah.
“Keberanian, ketangguhan, dan cara menghadapi dunia banyak dipelajari anak dari sosok ayah. Keteladanan menjadi sekolah pertama yang dilihat anak di rumah,” ujarnya.
Kehadiran Emosional Sama Pentingnya dengan Kehadiran Fisik
Avin menjelaskan bahwa tantangan keluarga modern tidak hanya berasal dari kesibukan bekerja. Penggunaan gawai yang berlebihan juga mulai mengurangi kualitas interaksi di rumah.
Ia menyoroti fenomena alone together, yakni kondisi ketika seluruh anggota keluarga berada dalam satu ruangan, tetapi masing-masing sibuk dengan perangkat digital sehingga kehilangan kedekatan emosional.
Selain itu, muncul pula fenomena phubbing. Kondisi ini terjadi ketika perhatian orang tua lebih banyak tertuju pada telepon genggam daripada anak yang sedang membutuhkan komunikasi.
Menurut Avin, kehadiran fisik belum tentu membuat anak merasa ditemani. Anak tetap membutuhkan perhatian, pendengaran yang tulus, serta ruang aman untuk menyampaikan perasaan.
“Ayah perlu mendengarkan cerita anak, memahami perasaannya, menghargai pendapatnya, dan menjadi tempat bertanya yang aman,” katanya.
Ia juga menilai ayah perlu menjadi pendamping dalam penggunaan teknologi. Orang tua tidak cukup hanya membuat aturan. Mereka juga harus memberi contoh penggunaan gawai yang sehat agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.
Ketidakhadiran Ayah Bisa Memengaruhi Perkembangan Anak
Avin menjelaskan bahwa minimnya keterlibatan ayah dapat memunculkan dampak berbeda pada anak laki-laki maupun perempuan.
Anak laki-laki berpotensi mencari figur panutan di luar rumah. Jika lingkungan yang ditemui kurang baik, mereka lebih mudah menerima pengaruh negatif.
Sementara itu, anak perempuan dapat mengalami penurunan rasa aman dan kepercayaan diri. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi hubungan sosial maupun perkembangan emosinya.
Karena itu, Avin mendorong para ayah untuk lebih banyak menyediakan waktu berkualitas bersama keluarga. Aktivitas sederhana seperti makan bersama, berbincang setelah beraktivitas, mendampingi belajar, atau hadir pada momen penting anak dapat memperkuat ikatan emosional.
Ia juga mengingatkan bahwa pola asuh sebaiknya menyesuaikan kesiapan anak. Orang tua perlu memberi kesempatan kepada anak untuk belajar mandiri tanpa kehilangan pendampingan.
Dukungan Lingkungan dan Kebijakan Juga Sangat Dibutuhkan
Dosen Fakultas Psikologi UGM, Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc.Psy., Ph.D., Psikolog, menilai penguatan peran ayah tidak bisa hanya bergantung pada keluarga. Dukungan lingkungan dan kebijakan pemerintah juga memegang peranan penting.
Menurut Diana, keterlibatan ayah sering terhambat oleh berbagai faktor. Tekanan ekonomi, kesehatan mental, pengalaman masa kecil, hingga kurangnya kesiapan menjalankan peran sebagai orang tua dapat mengurangi kualitas pengasuhan.
“Ayah yang tidak pernah dipeluk semasa kecil sering kali tidak tahu bagaimana cara memeluk anaknya ketika dewasa dan menjadi ayah,” ungkapnya.
Karena itu, perubahan budaya perlu terus didorong. Masyarakat sebaiknya tidak lagi menganggap pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan sebagai tanggung jawab ibu semata.
Menurut Diana, ayah yang ikut mengurus anak, membantu pekerjaan rumah, atau mendampingi pasangan justru menunjukkan bentuk tanggung jawab dalam keluarga.
Pengasuhan Ayah Perlu Menjadi Gerakan Bersama
Diana mengusulkan tiga langkah yang dapat memperkuat peran ayah dalam keluarga.
Pertama, meningkatkan edukasi agar para orang tua memiliki pengetahuan dan keterampilan mengasuh anak.
Kedua, memperkuat layanan pendampingan keluarga sehingga berbagai persoalan pengasuhan dapat ditangani lebih awal.
Ketiga, membangun kebijakan yang mendukung keterlibatan ayah, termasuk layanan keluarga yang ramah bagi ayah serta program pelatihan pengasuhan.
Ia mencontohkan sejumlah negara yang telah menyediakan cuti orang tua berbayar, pelatihan menjadi ayah, hingga layanan kesehatan ibu dan anak yang melibatkan ayah secara aktif.
Menurutnya, langkah tersebut membantu para ayah menjalankan peran sebagai pengasuh sekaligus pendamping keluarga.
Melalui penguatan peran ayah, keluarga dapat menjadi lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang anak. Kehadiran ayah secara emosional bukan hanya mempererat hubungan keluarga, tetapi juga membantu melahirkan generasi yang lebih tangguh, percaya diri, serta siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
(naf/lex)


