JAKARTA, ifakta.co – Kenaikan harga bahan baku langsung menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor pangan. Kali ini, lonjakan harga kedelai dan plastik yang terjadi secara bersamaan memaksa pedagang tahu memutar strategi agar tetap bertahan.
Di Pasar Talok, Bumiayu, para pedagang mulai merasakan dampaknya. Mereka harus mengeluarkan biaya lebih besar, sementara daya beli konsumen tetap terbatas. Akibatnya, pelaku usaha tidak memiliki banyak ruang untuk menyesuaikan harga jual.
Salah satu pedagang tahu, Sarifah, mengaku baru kali ini menghadapi kondisi tersebut selama puluhan tahun berjualan.
Iklan
“Saya dagang tahu sudah sekitar 20 tahunan, baru kali ini saya merasakan lonjakan plastik dan kedelai bersamaan. Padahal, kalau jualan tahu, yang paling utama harus ada kedelai. Sementara itu, sampai sekarang belum ada yang bisa menggantikan plastik,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (22/4).
Kebutuhan Plastik Sulit Ditekan
Selain kedelai, kebutuhan plastik juga terus meningkat. Setiap hari, pedagang harus menyediakan banyak kantong karena pembeli meminta tahu dipisah sesuai jenisnya.
Sarifah menegaskan bahwa kebiasaan konsumen membuat penggunaan plastik sulit berkurang.
“Orang beli di pasar maunya praktis. Sempat ada niat pakai daun, tapi tetap tidak bisa karena tahu kan berair. Apalagi pembeli maunya dipisah-pisah, tahu goreng kecil, besar, tahu segitiga, plastiknya sendiri-sendiri. Jadi kebutuhan plastiknya banyak,” jelasnya.
Karena itu, meskipun ada upaya mencari alternatif, pedagang tetap bergantung pada plastik untuk menjaga kualitas dan kepraktisan produk.
Harga Jual Tertahan, Pendapatan Menurun
Di sisi lain, Sarifah tidak berani menaikkan harga jual. Ia harus mengikuti harga pasar agar pembeli tetap datang.
“Saya juga tidak bisa menaikkan harga tahu. Kalau dinaikkan, ya susah lakunya karena harga pasar di sini sudah segitu. Akhirnya pendapatan berkurang,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat pelaku UMKM berada dalam posisi terjepit. Mereka menanggung kenaikan biaya produksi, tetapi tidak bisa menaikkan harga secara leluasa.
Faktor Global Picu Kenaikan Harga
Secara umum, harga kedelai naik karena Indonesia masih bergantung pada impor. Ketika harga global meningkat dan nilai tukar berfluktuasi, harga kedelai di dalam negeri ikut naik. Selain itu, permintaan yang tinggi juga mendorong kenaikan harga di tingkat pasar.
Sementara itu, harga plastik ikut terdorong naik karena biaya bahan baku industri meningkat. Kenaikan harga minyak dunia dan biaya produksi membuat harga kemasan plastik semakin mahal.
UMKM Harapkan Solusi dan Inovasi
Di tengah tekanan tersebut, pelaku UMKM berharap ada solusi nyata. Mereka membutuhkan stabilitas harga sekaligus alternatif bahan yang lebih terjangkau.
“Semoga penyebab kenaikan ini segera teratasi. Kalau pun tidak, semoga ke depan ada inovasi yang murah dan ramah lingkungan yang bisa menggantikan plastik,” tutup Sarifah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM membutuhkan dukungan yang lebih kuat. Tanpa langkah konkret, kenaikan biaya produksi berpotensi terus menekan usaha kecil di berbagai daerah.
(naf/kho)




