JAKARTA, ifakta.co – Tekanan biaya operasional di sektor pertambangan diperkirakan bakal makin besar seiring melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) industri, khususnya solar B40.
Lonjakan ini menambah beban pada alat berat dan aktivitas logistik di sektor pertambangan, manufaktur, dan rantai pasok nasional.
Pada periode 15–30 April 2026, harga solar industri dilaporkan mencapai Rp30.550 per liter. Angka ini melonjak Rp2.400 dari periode sebelumnya yang berada di level Rp28.150 per liter. Kenaikan tersebut langsung menjadi sorotan pelaku industri karena solar menjadi komponen utama dalam operasional alat berat dan armada logistik.
Iklan
Direktur PT Zubay Mining Indonesia, Muhammad Emil, menyebut tren kenaikan harga solar industri sebenarnya sudah terlihat sejak awal April 2026.
erdasarkan data yang beredar, harga solar industri B40 naik dari sekitar Rp23.000-an menjadi sekitar Rp28.150 per liter di awal bulan ini. Namun, Emil menekankan bahwa angka terbaru sekitar Rp30.550 per liter masih perlu dikonfirmasi karena belum ada rilis resmi pemerintah.
Dampak Langsung ke Struktur Biaya dan Margin
Menurut Emil, volatilitas harga energi menjadi tantangan besar bagi pelaku usaha, terutama di sektor padat modal seperti pertambangan.
Kenaikan harga solar industri akan berdampak langsung pada struktur biaya operasional perusahaan, terutama pada pos hauling, produksi, dan distribusi.
“Efek lanjutannya, harga barang kemungkinan naik (cost push inflation), proyek marginal atau tambang kecil bisa berhenti operasi dan cashflow perusahaan makin tertekan,” jelasnya. Margin keuntungan perusahaan diproyeksikan tergerus, terutama bagi tambang skala kecil dan proyek marginal yang memiliki ruang keuntungan terbatas.
Imbuh Dampak ke Rantai Pasok dan Konsumen
Kondisi ini juga berpotensi memicu efek domino ke rantai pasok industri. Tekanan biaya produksi yang lebih tinggi dapat mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen.
Oleh karena itu, Emil menyarankan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan energi industri dan mempertimbangkan skema buffer energi untuk sektor strategis.
Stabilitas harga energi, katanya, menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga daya saing industri nasional, khususnya sektor pertambangan yang sangat bergantung pada konsumsi solar dalam jumlah besar.
Dengan skema buffer energi, industri diharapkan dapat terus beroperasi secara berkelanjutan di tengah fluktuasi harga global.
ADRO Fokus Kendalikan Operasional
Di sisi lain, emiten pertambangan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mengatakan tetap fokus menjaga kinerja operasional di tengah volatilitas harga energi.
Corporate Communication Alamtri Resources, Karina Novianti, menegaskan bahwa perusahaan berupaya memperkuat kendali internal untuk menjaga efisiensi dan pencapaian target bisnis.
“Kami senantiasa fokus pada segala sesuatu yang dapat kami kendalikan, seperti kegiatan operasional, untuk memastikan pencapaian target perusahaan dan efisiensi,” ujarnya, seperti dilansir KONTAN pada Kamis (16/4/2026).
Dengan strategi ini, ADRO berharap dapat memitigasi risiko kenaikan biaya produksi akibat fluktuasi harga energi.
(den/jo)



