MOSKOW, ifakta.co – Insiden penahanan sekitar 40 warga negara Israel di Bandara Domodedovo, Moskow, Rusia, pada Minggu (19/4/2026) memicu ketegangan diplomatik. Hingga Selasa (21/4/2026), pemerintah Rusia belum memberikan pernyataan resmi terkait peristiwa tersebut.

Berdasarkan laporan media independen Rusia, Mediazona, yang turut dikonfirmasi Kementerian Luar Negeri Israel, para penumpang yang baru tiba dari Tel Aviv itu ditahan selama kurang lebih lima jam oleh otoritas setempat.

Selama masa penahanan, para warga Israel disebut tidak mendapatkan akses terhadap air minum, makanan, maupun fasilitas toilet. Selain itu, petugas keamanan dilaporkan bersikap kasar dan sempat meminta para penumpang membuka kunci ponsel mereka. 

Iklan

Permintaan tersebut ditolak, hingga akhirnya petugas hanya meminta perangkat dimatikan.

Dalam proses interogasi, sejumlah penumpang bahkan dituduh terlibat dalam konflik melawan Iran. Salah satu pernyataan petugas yang menjadi sorotan berbunyi, “Iran adalah sekutu kami, dan siapa pun yang menjadi musuh Iran adalah musuh kami juga.”

Para penumpang juga disebut diberitahu bahwa kedatangan mereka di Rusia “tidak disambut” dan dianggap “sia-sia”.

Insiden ini segera mendapat perhatian pemerintah Israel. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, langsung menginstruksikan jajarannya untuk berkoordinasi dengan pihak Rusia, termasuk melalui Kedutaan Besar Rusia di Tel Aviv.

Setelah intervensi diplomatik tersebut, seluruh warga Israel akhirnya dibebaskan. Namun, mereka diwajibkan menandatangani dokumen peringatan yang menyatakan larangan melanggar hukum di wilayah Rusia.

Kementerian Luar Negeri Israel mengecam keras tindakan tersebut. Dalam pernyataan resminya, pihak Israel menyebut perlakuan otoritas Rusia sebagai “sangat tidak dapat diterima” dan menegaskan bahwa insiden ini dipandang dengan serius.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pemerintah Rusia terkait insiden penahanan tersebut.

(AMN)