SEMARANG, ifakta.co — Kelompok mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) PJOK Rombel 2 Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang tergabung dalam Mangrove Youth Project (MYP) sukses menggelar aksi restorasi ekosistem bertajuk “BLUE SHIELD”.

Aksi kolaboratif bersama Kelompok Ngebruk Lestari “Kenari” ini diwujudkan melalui penanaman 200 bibit mangrove di kawasan pesisir Pantai Mangunharjo pada hari Sabtu, 12 September 2026.

Langkah pelestarian ini merupakan respons nyata mahasiswa terhadap kondisi pesisir Mangkang Wetan yang kini semakin terancam oleh abrasi laut dan degradasi lingkungan. Penanaman kali ini secara khusus memfokuskan pada spesies Rhizophora mucronata guna melakukan pengayaan (enrichment planting) terhadap vegetasi kawasan yang selama ini cenderung homogen.

Iklan

Ketua Projek, Barokta Amiludin, menyoroti bahwa kegiatan ini sejalan dengan komitmen global Sustainable Development Goals (SDGs) 14, yaitu Life Below Water. Tujuannya tidak hanya menciptakan sabuk hijau (greenbelt) untuk meredam hempasan gelombang laut, tetapi juga memulihkan area asuhan bagi biota laut yang akan menopang perekonomian masyarakat sekitar.

Berdasarkan jadwal yang diagendakan, kegiatan ini dimulai dengan penuh semangat sejak pukul 06.15 WIB di Posko Mangrove Kenari. Sebelum turun ke titik penanaman, para peserta terlebih dahulu mendengarkan bimbingan dan arahan teknis dari Bapak Aziz selaku tokoh dan perwakilan Kelompok Tani Kenari. Tepat pukul 07.00 WIB, seluruh peserta bergotong-royong terjun ke lapangan untuk mengeksekusi penanaman 300 bibit mangrove di titik yang telah dipetakan.

Tidak sekadar berfokus pada penanaman fisik, tim MYP juga membuktikan komitmen edukasi berkelanjutan mereka dengan menyerahkan sebuah buku panduan komprehensif kepada Kelompok Ngebruk Lestari “Kenari”. Buku panduan ini memuat materi yang sangat lengkap, mulai dari pengenalan jenis-jenis pohon mangrove, proses pembibitan, teknik penanaman yang tepat, hingga tata cara perawatan pasca-tanam.

Kehadiran buku ini diharapkan dapat menjadi pegangan andalan yang memudahkan para petani pesisir saat memberikan penyuluhan kepada kelompok belajar, pelajar, maupun masyarakat luas yang tertarik mempelajari ekosistem mangrove.

Menariknya, buku ini disusun secara khusus dalam dua bahasa (bilingual), yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Langkah strategis ini diambil karena Desa Mangunharjo kini juga kerap menjadi destinasi kunjungan warga negara asing (WNA) maupun peneliti internasional yang ingin mengenal lebih dekat tentang pesona konservasi mangrove di perairan Semarang.

Di sela-sela kegiatan, tim mahasiswa juga melakukan perekaman wawancara dan testimoni bersama masyarakat setempat pada pukul 08.45 WIB. Sesi ini ditujukan untuk menggali makna kelestarian alam bagi kehidupan warga pesisir.

Rangkaian acara yang penuh keakraban ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama berlatar belakang hamparan mangrove baru, bersih-bersih, serta makan bersama.

Projek kepemimpinan BLUE SHIELD ini dirancang agar memiliki dampak yang berkesinambungan. Tim MYP telah menjadwalkan evaluasi berkala guna memastikan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) bibit tetap tinggi, yang nantinya akan disusul dengan serah terima penuh kawasan kepada Kelompok Ngebruk Lestari “Kenari”.

Melalui kolaborasi penanaman fisik dan literasi edukasi, mangrove di Pantai Mangunharjo diharapkan benar-benar menjadi benteng alam (blue shield) yang berkelanjutan.

(ris/lex)

Iklan