JAKARTA, ifakta.co – Memasuki usia lanjut bukan berarti seseorang harus berhenti berkarya atau kehilangan peran dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, masa lansia dapat menjadi periode yang tetap bermakna apabila kesehatan fisik, mental, dan sosial terjaga dengan baik.

Karena itu, para ahli mendorong masyarakat untuk menerapkan konsep Lansia SMART. Konsep ini bertujuan membantu lansia menjalani hari tua dengan lebih sehat, mandiri, aktif, dan produktif.

Ahli Penyakit Dalam Subspesialis Geriatri sekaligus Kepala Divisi Geriatri dan Gerontologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Dr. dr. Sri Sunarti, menjelaskan bahwa kualitas hidup lansia tidak hanya bergantung pada kondisi fisik. Selain kesehatan tubuh, aspek mental, sosial, dan spiritual juga memiliki peran penting.

Iklan

“Lansia SMART bukan berarti harus selalu kuat, tetapi tetap berdaya, berguna, dan bahagia sesuai kemampuan. Lansia SMART perlu didukung oleh keseimbangan fisik, mental, sosial, dan spiritual,” ujar dr. Sri.

Memahami Konsep Lansia SMART

Konsep SMART terdiri dari empat unsur utama. Masing-masing unsur saling melengkapi untuk menjaga kualitas hidup pada usia lanjut.

Lansia sehat dapat dicapai melalui pola hidup yang baik. Lansia perlu memenuhi kebutuhan gizi seimbang, menjaga aktivitas fisik, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Dengan langkah tersebut, risiko berbagai penyakit dapat ditekan sejak dini.

Selain itu, lansia mandiri mampu menjalankan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan yang dimiliki. Kemampuan ini membantu lansia mempertahankan rasa percaya diri dan mengurangi ketergantungan kepada orang lain.

Selanjutnya, lansia aktif tetap bergerak dan terlibat dalam berbagai kegiatan. Aktivitas fisik ringan, olahraga teratur, hingga interaksi sosial dapat membantu menjaga kebugaran sekaligus kesehatan mental.

Sementara itu, lansia produktif memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat. Mereka dapat menekuni hobi, mengikuti komunitas, belajar hal baru, atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

Peran Dokter Geriatri dalam Menangani Lansia

Menurut dr. Sri, penanganan pasien lanjut usia memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan pasien dewasa pada umumnya. Dokter geriatri secara khusus menangani individu berusia di atas 60 tahun yang mengalami berbagai penyakit sekaligus atau menghadapi sindrom geriatri.

Sindrom geriatri mencakup beragam kondisi yang sering muncul pada kelompok usia lanjut. Misalnya gangguan mobilitas, penurunan kemampuan fisik, demensia, gangguan daya ingat, hingga depresi.

Selain itu, banyak lansia menghadapi masalah psikologis seperti kesepian dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sekitar. Tidak sedikit pula yang mengalami persoalan sosial akibat minimnya dukungan keluarga atau lingkungan.

Karena itu, pendekatan geriatri tidak hanya berfokus pada penyakit tertentu. Sebaliknya, dokter juga memperhatikan kondisi fisik, mental, dan sosial pasien secara menyeluruh.

Pencegahan Lebih Penting daripada Pengobatan

Data tahun 2024 menunjukkan bahwa jumlah lansia di Kota Malang mencapai 13,02 persen dari total penduduk. Sementara itu, angka harapan hidup masyarakat mencapai 75,54 tahun.

Melihat kondisi tersebut, berbagai upaya pencegahan terus dikembangkan untuk menjaga kualitas hidup lansia. Salah satunya melalui Sekolah Lansia Tangguh yang dijalankan di Griya Lansia MSC Kepanjen.

Program tersebut berfokus pada pendekatan preventive gerontology atau pencegahan penurunan kemampuan fungsional sejak dini. Pendekatan ini lebih efektif daripada menunggu lansia jatuh sakit terlebih dahulu.

Berbagai kegiatan rutin turut mendukung program tersebut. Mulai dari senam lansia, jalan nordic, pengembangan hobi, sekolah lansia, hingga kegiatan posyandu terintegrasi.

Melalui aktivitas tersebut, lansia dapat mempertahankan kemampuan fisik, meningkatkan interaksi sosial, serta menjaga kesehatan mental secara bersamaan.

Dukungan Keluarga Menjadi Faktor Penentu

Keberhasilan mewujudkan Lansia SMART tidak hanya bergantung pada lansia itu sendiri. Sebaliknya, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam proses tersebut.

Keluarga perlu memberikan dukungan emosional, pendampingan, serta motivasi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, anggota keluarga juga perlu melibatkan lansia dalam berbagai keputusan keluarga agar mereka tetap merasa berharga.

Tidak kalah penting, keluarga perlu menciptakan lingkungan rumah yang aman dan nyaman. Rumah yang ramah lansia dapat membantu mengurangi risiko cedera sekaligus mendukung kemandirian mereka.

Dengan dukungan yang tepat, lansia dapat tetap menjalani kehidupan yang aktif, sehat, dan bermakna. Oleh sebab itu, membangun lingkungan yang peduli terhadap lansia menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas hidup pada usia senja.

Iklan