JAKARTA, ifakta.co – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik antara PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan perusahaan asal China, Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL), telah rampung dan siap diresmikan dalam waktu dekat.

“Kami juga melapor kepada Bapak Presiden (Prabowo) bahwa program hilirisasi kita untuk ekosistem baterai mobil yang kerja sama antara CATL dan Antam itu sudah selesai dan insyaallah akan diresmikan nanti di bulan Juli akhir,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (22/6).

Menurut Bahlil, penyelesaian proyek itu menjadi salah satu capaian penting dalam agenda hilirisasi yang terus dipantau pemerintah. Selain membahas perkembangan proyek baterai, rapat dengan Presiden juga menyinggung kondisi ketahanan energi nasional.

Iklan

“Kami juga melakukan rapat dengan Presiden (Prabowo) untuk membahas tentang energi kita. Dan energi kita akan bisa, ketahanan energi kita rata-rata di atas 20 hari minimum,” kata Bahlil.

Proyek yang dimaksud adalah Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi yang dikembangkan oleh konsorsium Antam, Indonesia Battery Corporation (IBC), dan CATL-Brunp-Lygend (CBL). Proyek ini sebelumnya masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi mencapai US$5,9 miliar atau sekitar Rp105,25 triliun (asumsi kurs Rp17.839 per dolar AS).

Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek dilakukan oleh Prabowo pada 29 Juni 2025 di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, Jawa Barat. Pada kesempatan itu, Prabowo menyebut proyek baterai terintegrasi tersebut sebagai langkah penting untuk mendukung hilirisasi sumber daya alam Indonesia, khususnya nikel sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Proyek dikembangkan melalui enam fasilitas terintegrasi dari hulu hingga hilir. Sebanyak lima proyek berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara, sementara satu proyek utama berada di Karawang, Jawa Barat. Bahlil menyebut fasilitas di Karawang memiliki kapasitas produksi hingga 15 gigawatt (GWh).

Salah satu komponen utama proyek adalah pembangunan pabrik baterai lithium-ion tahap pertama dengan kapasitas 6,9 GWh, yang merupakan perusahaan patungan antara IBC dan konsorsium CATL, Brunp, dan Lygend. Fasilitas ini nantinya akan memasok kebutuhan baterai untuk kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) serta sistem penyimpanan energi (battery energy storage system/BESS).

Pemerintah memperkirakan proyek tersebut akan menyerap sekitar 8.000 tenaga kerja langsung dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar melalui pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk kawasan industri dan dermaga multifungsi.

(den/jo)

Iklan