JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah berhasil menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Mata uang Garuda menutup perdagangan di level Rp17.923 per dolar AS.

Posisi tersebut menunjukkan penguatan 10 poin atau sekitar 0,06 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Penguatan rupiah terjadi ketika pergerakan sejumlah mata uang Asia terhadap dolar AS cenderung bervariasi.

Iklan

Yuan China tercatat melemah 0,02 persen. Sementara itu, peso Filipina turun 0,09 persen dan dolar Singapura terkoreksi 0,09 persen.

Yen Jepang juga melemah 0,05 persen. Adapun won Korea Selatan mengalami tekanan lebih dalam dengan depresiasi sebesar 0,42 persen.

Sebaliknya, ringgit Malaysia mampu menguat 0,09 persen terhadap dolar AS. Sementara dolar Hong Kong bergerak relatif stabil.

Pergerakan beragam juga terjadi pada mata uang utama negara maju.

Euro melemah 0,09 persen terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris turun 0,04 persen, sedangkan dolar Australia terkoreksi 0,29 persen.

Franc Swiss juga melemah 0,14 persen. Di sisi lain, dolar Kanada tercatat bergerak stabil terhadap mata uang AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan rupiah mendapat dukungan dari sejumlah sentimen positif.

Salah satunya datang dari penurunan harga minyak mentah dunia di tengah harapan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Selain itu, data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 turut memberikan sentimen positif terhadap nilai tukar rupiah.

“Rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar AS didukung oleh penurunan harga minyak mentah dunia di tengah harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dan data PDB kuartal II Indonesia yang solid. Namun penguatan masih terbatas, dengan investor cenderung wait and see mengantisipasi data cadangan devisa Indonesia dan data ketenagakerjaan Amerika Serikat Non-Farm Payrolls (NFP) besok,” ujar Lukman.

Meski mendapat sejumlah katalis positif, penguatan rupiah masih terbatas. Pelaku pasar memilih berhati-hati sambil menunggu perkembangan data ekonomi berikutnya.

Investor akan mencermati data cadangan devisa Indonesia. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar ketika terjadi tekanan eksternal.

Selain faktor domestik, perhatian pasar juga tertuju pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat melalui data Non-Farm Payrolls (NFP).

Data NFP dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter AS. Perubahan ekspektasi tersebut selanjutnya berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah selanjutnya akan dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Pasar akan mencermati data cadangan devisa Indonesia serta perkembangan ekonomi AS untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.

(den/jo)

Iklan