JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (6/8/2026) pagi. Rupiah bergerak ke level Rp17.913 per dolar AS setelah sempat melemah tipis pada awal perdagangan.

Saat pasar dibuka, rupiah sempat tergelincir 0,02 persen ke posisi Rp17.933 per dolar AS. Namun, mata uang Garuda kemudian berbalik arah dan terapresiasi 0,09 persen menuju Rp17.913 per dolar AS.

Pergerakan rupiah pagi ini mendapat dukungan dari meredanya tekanan eksternal. Pasar juga merespons prospek dibukanya kembali Selat Hormuz apabila Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan.

Iklan

Harapan meredanya ketegangan geopolitik tersebut turut memengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah cenderung melandai dan bergerak pada kisaran US$79 hingga US$80 per barel.

Situasi yang lebih kondusif antara AS dan Iran sekaligus memberikan sentimen positif terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia.

Won Korea Selatan memimpin penguatan mata uang regional. Selanjutnya, penguatan juga terjadi pada baht Thailand, dolar Taiwan, ringgit Malaysia, rupiah, peso Filipina, yen Jepang, dan dolar.

Meski bergerak di zona positif, laju penguatan rupiah masih relatif terbatas dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya. Baht Thailand, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia mencatat penguatan yang lebih tinggi.

Pergerakan rupiah masih menghadapi sejumlah faktor domestik yang menjadi perhatian pelaku pasar. Salah satunya adalah perkembangan data perekonomian nasional.

Selain itu, kondisi defisit neraca perdagangan dinilai belum berpotensi mendorong masuknya arus dolar AS dalam jumlah besar ke pasar domestik.

Karena itu, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan indikator ekonomi untuk menentukan arah pergerakan nilai tukar rupiah selanjutnya.

Pasar juga menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan keluar pada Jumat (7/8/2026).

Data tersebut menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan investor karena berkaitan dengan kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ketika terjadi tekanan di pasar valuta asing.

Sebagai catatan, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni tercatat sebesar US$145,6 miliar. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan posisi pada Mei yang mencapai US$144,9 miliar.

Kenaikan cadangan devisa dapat menjadi salah satu faktor penting dalam menopang stabilitas rupiah.

Dengan cadangan devisa yang memadai, Bank Indonesia memiliki ruang lebih besar untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing melalui berbagai kebijakan dan intervensi apabila tekanan eksternal kembali meningkat.

Untuk sementara, meredanya ketegangan AS-Iran dan kecenderungan penurunan harga minyak memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak menguat.

Namun, arah nilai tukar rupiah berikutnya masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik global, pergerakan dolar AS, kondisi perdagangan Indonesia, serta data cadangan devisa yang menjadi perhatian pelaku pasar.

(den/jo)

Iklan