BANTUL, ifakta.co – Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberhentikan Gerardus Permanaditya, pegawai SPPG Dlingo, Bantul. Keputusan tersebut diambil setelah Gerardus diduga mengolok-olok siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang mengalami hilang ingatan dan diduga terdampak keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Koordinator Regional BGN DIY Wirandita Gagat Widyatmoko mengatakan pemberhentian Gerardus menjadi bagian dari tindakan organisasi untuk menjaga standar etika dan profesionalitas dalam pelaksanaan Program MBG.
“Kami menyayangkan adanya pernyataan tersebut. Setelah dilakukan penanganan sesuai ketentuan, yang bersangkutan telah diberhentikan. Ini menjadi pelajaran bagi seluruh jajaran bahwa bekerja dalam Program MBG tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki etika, empati, sensitivitas, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi,” kata Gagat dalam keterangan yang diterima, Minggu (21/9) malam.
Iklan
Gagat menegaskan bahwa setiap persoalan yang berkaitan dengan keamanan pangan harus mendapat perhatian serius. Terlebih, ketika masyarakat atau penerima manfaat diduga mengalami dampak setelah mengikuti program tersebut.
Menurut dia, jajaran SPPG harus menunjukkan empati dan menghormati masyarakat. Situasi yang berkaitan dengan dugaan gangguan kesehatan tidak seharusnya menjadi bahan candaan ataupun olok-olok.
Selain itu, Gagat mengingatkan seluruh personel SPPG agar lebih berhati-hati ketika menggunakan media sosial maupun menyampaikan pernyataan di ruang publik.
Dia menilai pernyataan seorang personel SPPG dapat memengaruhi pandangan masyarakat terhadap penyelenggaraan Program MBG secara keseluruhan.
“Kita harus memahami sensitivitas persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Jangan sampai persoalan yang seharusnya menjadi pembelajaran bersama justru dikomentari dengan cara yang tidak tepat. Empati dan saling menghormati harus menjadi bagian dari budaya kerja kita,” katanya.
Gagat juga meminta jajaran BGN Regional DIY tidak memperpanjang polemik yang muncul. Menurutnya, kasus tersebut harus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan Program MBG.
Perhatian publik terhadap Program MBG, kata Gagat, semakin besar. Karena itu, seluruh SPPG diminta menjaga kinerja, kedisiplinan, keamanan pangan, kualitas makanan, pelayanan, serta komunikasi dengan masyarakat.
“Kami mengarahkan seluruh jajaran untuk fokus bekerja. Tingkatkan kualitas pelayanan, pastikan keamanan pangan, laksanakan SOP, perkuat pengawasan, dan berikan pelayanan terbaik kepada penerima manfaat. Saat ini masyarakat memberikan perhatian yang besar terhadap Program MBG, maka jawab perhatian tersebut dengan kinerja yang semakin baik,” imbuh Gagat.
Sebelumnya, video seorang pegawai SPPG di Kabupaten Bantul, DIY, beredar dan memicu perhatian publik. Dalam video tersebut, Gerardus diduga mengolok-olok seorang siswi asal Kabupaten Karo yang mengalami hilang ingatan dan diduga akibat keracunan MBG.
Dalam video yang beredar, Gerardus terlihat mencicipi menu ayam katsu. Dia menyebut makanan tersebut dimasak sehari sebelum pengambilan gambar. Aksi dan pernyataannya kemudian menuai kritik.
Peristiwa tersebut juga mendapat perhatian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Gibran mengecam tindakan yang dilakukan Gerardus terhadap siswi tersebut.
“Perkataan oknum SPPG ini sangat disayangkan. Mari kita bersama menjaga ruang publik yang aman dan ramah bagi semua. Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban perundungan,” ungkap Gibran melalui unggahan resmi Instagram @gibran_rakabuming, Minggu (20/9).
Unggahan tersebut juga menampilkan video aksi Gerardus ketika memakan ayam katsu yang sebelumnya beredar di media sosial. Gibran kemudian menyandingkannya dengan rekaman ketika dirinya mengunjungi korban dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Dalam unggahan itu, Gibran menyampaikan kondisi dua siswi asal Kabupaten Karo, yakni Febiona Purba dan Agnesia Paruliana Silitonga. Keduanya sempat mengalami hilang ingatan dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Gibran mengatakan kedua siswi tersebut kini telah kembali ke rumah masing-masing di Kabupaten Karo. Mereka juga akan kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
“Saat ini Agnesia dan Febiona telah kembali ke rumah masing-masing di Kab. Karo dan akan masuk sekolah kembali,” katanya.
(may/may)


