BANYUMAS, ifakta.co – Panggung Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII 2026 menjadi penanda berakhirnya perjalanan Besta Noviana Kushof dan Beste Noviane Kushof sebagai atlet taekwondo. Dua saudara kembar asal Kabupaten Banyumas tersebut memilih mengakhiri karier kompetitif setelah mempersembahkan medali emas untuk daerahnya.

Keputusan itu sekaligus menutup perjalanan panjang yang mereka bangun sejak duduk di bangku sekolah dasar. Selama bertahun-tahun, keduanya menghabiskan waktu untuk berlatih, mengikuti kompetisi, dan mengejar prestasi di berbagai kejuaraan.

Kini, Besta dan Beste ingin membuka lembaran baru melalui dunia akademik. Keduanya berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor atau S3 setelah menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister.

Meski tidak lagi mengejar prestasi sebagai atlet, mereka tetap memiliki kepedulian terhadap perkembangan taekwondo di Banyumas. Bahkan, keduanya membuka peluang untuk membantu pembinaan atlet daerah melalui peran sebagai pelatih.

Besta dan Beste lahir di Tegal pada 17 Mei 2002. Keduanya merupakan putri pasangan Kusnandar dan Nunung Shofiqoh yang tinggal di Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.

Sejak kecil, mereka telah menunjukkan ketertarikan terhadap olahraga bela diri. Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi keseriusan hingga mengantarkan keduanya sebagai atlet yang mewakili Banyumas dan Jawa Tengah dalam berbagai kompetisi.

Berawal dari Ketidaksengajaan di GOR Satria

Perjalanan Besta dan Beste mengenal taekwondo ternyata bermula dari pengalaman sederhana. Saat duduk di kelas 3 sekolah dasar, keduanya tidak sengaja melihat aktivitas latihan bela diri ketika bermain di kawasan GOR Satria Purwokerto.

Pemandangan tersebut langsung menarik perhatian mereka. Rasa penasaran kemudian mendorong keduanya untuk mengenal taekwondo lebih jauh.

“Saat itu, tertarik (taekwondo) ketika tidak sengaja main ke GOR Satria.”

“Kami lihat ada yang sedang latihan taekwondo. Dari situlah kami mulai tertarik,” ujar Besta, dikutip dari Tribun, Rabu (4/11).

Sejak pengalaman tersebut, keduanya mulai menekuni olahraga bela diri itu secara serius. Mereka menjalani latihan secara rutin hingga kemampuan teknik dan mental bertanding terus berkembang.

Namun, perjalanan menuju prestasi tidak selalu mudah. Besta dan Beste harus menjaga kedisiplinan serta membagi waktu untuk latihan dan pendidikan. Dalam proses tersebut, dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan utama.

Orang tua mereka selalu memberikan dorongan agar keduanya konsisten menjalani latihan maupun menghadapi kompetisi.

“Papah dan Mamah selalu mendukung kami dalam proses latihan dan mendukung kami dalam setiap perlombaan,” ujar Beste.

Selain dukungan keluarga, pembinaan di Dojang Satria Soebandi Purwokerto turut membentuk kemampuan keduanya. Mereka berlatih di bawah arahan Sabeumnim Rakhmat Priyo Pungkiadi dan Sabeum M. Dian Nafi.

Melalui pembinaan tersebut, Besta dan Beste terus mengasah kemampuan teknik, ketahanan fisik, serta kesiapan mental. Hasilnya, berbagai prestasi berhasil mereka raih dalam perjalanan sebagai atlet.

Koleksi Prestasi dari Porprov hingga PON

Besta dan Beste memiliki rekam jejak kompetisi yang membanggakan. Salah satu pencapaian penting mereka muncul pada Porprov Jawa Tengah 2023.

Saat itu, keduanya berhasil meraih juara pertama kategori poomsae beregu putri. Prestasi tersebut memperkuat posisi mereka sebagai atlet andalan Banyumas di cabang taekwondo.

Selanjutnya, mereka mendapat kesempatan mewakili Jawa Tengah dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024. Pada ajang olahraga nasional tersebut, Besta dan Beste berhasil membawa pulang medali perunggu.

Pencapaian mereka tidak berhenti di sana. Keduanya kembali menunjukkan kemampuan melalui ajang PON Bela Diri Kudus 2025. Kali ini, mereka meraih posisi juara kedua.

Sementara itu, Porprov Jateng XVII 2026 menjadi kompetisi terakhir dalam perjalanan mereka. Besta dan Beste menutup karier dengan hasil terbaik melalui raihan medali emas untuk kontingen Banyumas.

Medali tersebut memiliki makna tersendiri karena menjadi persembahan terakhir mereka sebagai atlet kompetitif. Setelah melewati berbagai pertandingan selama bertahun-tahun, keduanya memilih mengakhiri perjalanan di atas arena dengan pencapaian membanggakan.

Pensiun untuk Melanjutkan Pendidikan S3

Setelah menuntaskan karier sebagai atlet, Besta dan Beste kini mengarahkan perhatian pada pendidikan. Keduanya telah menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar (PJSD) di Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Mereka kemudian melanjutkan studi magister pada program Ilmu Keolahragaan (IKOR) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Setelah menyelesaikan pendidikan S2, keduanya sepakat melanjutkan perjalanan akademik ke jenjang doktor.

Rencana studi S3 tersebut menjadi salah satu alasan mereka memilih pensiun setelah Porprov 2026. Dengan langkah ini, keduanya ingin memperluas pengetahuan dan mengembangkan kapasitas diri di bidang keolahragaan.

Meski begitu, keputusan gantung sabuk tidak membuat Besta dan Beste meninggalkan dunia taekwondo sepenuhnya. Keduanya masih ingin berkontribusi terhadap perkembangan olahraga bela diri tersebut di Banyumas.

Pengalaman bertanding dan proses pembinaan selama bertahun-tahun menjadi bekal berharga apabila suatu saat mereka mendapat kesempatan mendampingi atlet muda.

“Jika diperlukan nantinya siap mendukung taekwondo di Banyumas sebagai pelatih,” ujar Besta dan Beste.

Dengan demikian, berakhirnya karier mereka sebagai atlet bukan berarti berakhir pula kontribusi bagi olahraga Banyumas. Kini, keduanya bersiap menempuh jalur akademik sekaligus membuka peluang untuk kembali mengembangkan taekwondo melalui dunia kepelatihan.

(naf/lex)