BANYUMAS, ifakta.co – Sejarah kelam keracunan tempe bongkrek di Banyumas kembali menarik perhatian peneliti internasional. Jonathan Agranoff, peneliti tempe asal Inggris, berencana memperdalam kajian mengenai asam bongkrek, senyawa beracun yang pernah menyebabkan tragedi keracunan massal hingga merenggut puluhan nyawa.
Penelitian ini tidak hanya menyasar aspek keamanan pangan. Jonathan juga ingin mengembangkan kemampuan laboratorium lokal untuk mendeteksi kandungan asam bongkrek secara akurat. Dengan begitu, Banyumas berpeluang mengambil peran dalam pengembangan teknologi analisis racun berbahaya.
Jonathan menyampaikan gagasan tersebut setelah menemui pedagang tempe bongkrek di Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang. Pedagang tersebut memiliki keterkaitan dengan kasus keracunan massal yang pernah terjadi di Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir, pada 1988.
“Asam bongkrek dikenal sebagai racun yang lebih berbahaya dari sianida. Makanya perlu diteliti atau dianalisa kembali. Namun di daerah asalnya belum ada penelitian memadai terkait hal ini,” katanya.
Perhatian Jonathan terhadap tempe bongkrek sebenarnya bukan hal baru. Ia pernah menelusuri persoalan tersebut setelah tragedi keracunan pada 1988 yang menewaskan lebih dari 40 orang di Desa Dermaji.
Selanjutnya, pada 1993, ia kembali menemui pedagang tempe bongkrek atau dage asal Kracak yang baru menyelesaikan hukuman terkait kasus keracunan tersebut. Kini, ia ingin membawa penelitian itu ke tahap yang lebih mendalam melalui kolaborasi ilmiah.
Jonathan Dorong Pengembangan Teknologi Deteksi Racun
Salah satu perhatian utama Jonathan terletak pada keterbatasan kemampuan laboratorium di Banyumas dalam mengidentifikasi asam bongkrek. Padahal, masyarakat setempat memiliki sejarah panjang dengan produksi dan konsumsi tempe bongkrek.
Menurutnya, penguasaan teknologi analisis menjadi langkah penting untuk menjawab persoalan tersebut. Salah satu metode yang dapat dimanfaatkan ialah High Performance Liquid Chromatography (HPLC).
Teknologi ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi sekaligus mengukur kandungan senyawa kimia dalam suatu sampel. Karena itu, HPLC berpotensi membantu ilmuwan mendeteksi keberadaan asam bongkrek secara lebih akurat.
Jonathan melihat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memiliki peluang untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Jika para ilmuwan mampu menguasai teknologi HPLC, laboratorium Unsoed berpotensi menjadi pusat rujukan analisis asam bongkrek dan berbagai zat berbahaya lainnya.
“Kalau memang sudah terampil ilmuwan di Unsoed, bisa jadi laboratorium standar untuk racun berbahaya itu,” ungkapnya.
Dengan pengembangan fasilitas dan kompetensi peneliti, Banyumas tidak hanya dapat mengandalkan laboratorium dari luar daerah. Sebaliknya, wilayah ini berpeluang membangun kapasitas penelitian sendiri untuk mendukung pengawasan keamanan pangan.
Penelitian Juga Menyasar Aspek Kedokteran dan Toksikologi
Selain teknologi deteksi, Jonathan melihat peluang penelitian dari perspektif kedokteran dan toksikologi. Kedua bidang tersebut dapat membantu ilmuwan memahami karakteristik racun serta pengaruh paparannya terhadap kesehatan manusia.
Salah satu persoalan yang ingin ia kaji ialah kemungkinan keberadaan asam bongkrek dalam konsentrasi rendah pada bahan makanan atau lingkungan masyarakat. Peneliti juga perlu menguji apakah paparan dalam kadar tertentu menimbulkan dampak kesehatan yang berbeda.
Namun, pertanyaan tersebut membutuhkan pembuktian melalui penelitian ilmiah. Para peneliti tidak boleh menarik kesimpulan hanya berdasarkan dugaan tanpa pengujian laboratorium dan kajian toksikologi.
“Penelitian tersebut penting mengingat asam bongkrek memiliki tingkat toksisitas tinggi dan pernah menyebabkan kematian dalam kasus keracunan massal. Karena itu, pengembangan metode deteksi menjadi kebutuhan penting untuk melindungi kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Jonathan menyebut ilmuwan dari Unsoed dan King’s College London memiliki kesediaan untuk mendukung pengembangan penelitian. Kedua institusi tersebut berpeluang membantu penyediaan data awal serta pemanfaatan fasilitas laboratorium.
Meski demikian, penelitian dalam skala lebih luas masih membutuhkan dukungan pendanaan. Jonathan berharap sumber pembiayaan dari dalam maupun luar negeri dapat membantu merealisasikan rencana tersebut.
Banyumas Berpeluang Kembangkan Riset Keamanan Pangan
Jonathan berharap masyarakat dan kalangan akademisi tidak hanya mengenang tempe bongkrek melalui tragedi keracunan masa lalu. Sebaliknya, sejarah tersebut perlu mendorong pengembangan penelitian yang mampu memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat.
Menurutnya, kajian asam bongkrek memiliki ruang pengembangan yang luas. Mulai dari analisis kimia, pengujian keamanan pangan, hingga penelitian toksikologi dapat menjadi bagian dari agenda ilmiah tersebut.
Selain memperkuat kemampuan laboratorium, kolaborasi antarperguruan tinggi juga dapat meningkatkan kualitas penelitian. Dukungan pendanaan dan fasilitas menjadi faktor penting agar rencana itu tidak berhenti sebagai gagasan.
Melalui langkah tersebut, Banyumas berpeluang mengubah pengalaman pahit masa lalu menjadi modal pengembangan ilmu pengetahuan. Daerah yang pernah mengalami tragedi keracunan tempe bongkrek dapat mengambil peran dalam menciptakan teknologi deteksi dan pencegahan.
“Dengan demikian, daerah yang memiliki sejarah panjang dengan tempe bongkrek tidak hanya menjadi bagian dari catatan kasus keracunan, tetapi juga dapat mengambil peran dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mencegah kejadian serupa terulang,” tandasnya.
(naf/lex)





























