JAKARTA, ifakta.co – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat masih terdapat 742 hektare lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia. Angka tersebut merujuk pada laporan penanganan hingga Senin (2/11).
Kalimantan Tengah menjadi daerah dengan luasan karhutla terbesar, yakni 351 hektare. Wilayah lain yang mengalami kebakaran cukup luas ialah Papua Selatan dengan 253 hektare dan Sulawesi Tenggara 95 hektare.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengungkapkan kondisi kebakaran yang masih berlangsung dalam keterangan yang dikutip Selasa (3/11).
“Secara nasional kami bisa menyampaikan ada 742 hektare lahan terbakar,” kata Berton.
BNPB mencatat luas kebakaran di Kalimantan Tengah menurun 42 persen dibandingkan hari sebelumnya. Papua Selatan mengalami penurunan 56 persen, sedangkan Sulawesi Tenggara turun 63 persen.
Sementara itu, Nusa Tenggara Timur melaporkan 16 hektare lahan masih terbakar, atau turun 36 persen. Bangka Belitung mencatat delapan hektare dan Kalimantan Barat 19 hektare.
Menurut Berton, di Bangka Belitung dan Kalimantan Barat sebelumnya tidak ditemukan laporan titik api. Namun, pemantauan pada Senin (2/11) menunjukkan munculnya lahan yang terbakar di kedua daerah tersebut.
BNPB mengingatkan bahwa hujan belum tentu memadamkan seluruh bara di lapisan tanah. Api yang tersimpan di bawah permukaan masih dapat menjadi sumber titik panas baru.
“Artinya untuk Kalimantan maupun tempat lain, walaupun musim hujan, masih berpotensi terjadi titik-titik api baru mengingat api atau bara api yang ada di bawah permukaan masih belum 100 persen padam akibat hujan yang sudah terjadi akhir-akhir ini,” tutur Berton.
Karena itu, BNPB terus memantau perkembangan titik api dan mengantisipasi peningkatan luas kebakaran.
“Tentu kami tetap mengimbau dan akan melakukan upaya-upaya sehingga titik-titik api akan padam sehingga tidak menjadi masalah di kemudian hari setelah membesar,” sambungnya.
BNPB menyatakan 54 armada udara disiagakan untuk mendukung operasi karhutla. Dalam rincian yang disampaikan, 22 armada digunakan bagi patroli dan operasi modifikasi cuaca, sedangkan 30 helikopter dipersiapkan untuk pemadaman melalui penyiraman air dari udara atau water bombing.
Kesiagaan armada tersebut mencakup sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Jambi, dan Riau.
“Kita lihat ada di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Jambi dan Riau tetap ada standby atau dalam keadaan siap siaga ketika nanti pesawat ini dibutuhkan untuk keperluan yang ketika ada titik api ataupun memang diperlukan untuk melakukan modifikasi cuaca,” ucap Berton.
BNPB juga menyiapkan dukungan udara di Jawa Timur, Kalimantan Timur, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya sebagai langkah antisipasi jika penanganan karhutla membutuhkan bantuan tambahan.
Kesiagaan tetap dijalankan meskipun sejumlah provinsi mulai memasuki periode hujan. BNPB menilai potensi kemunculan kembali titik api masih perlu diwaspadai selama bara di bawah permukaan belum seluruhnya padam.
(rom/mby)




























