JAKARTA, ifakta.co – Budaya ewuh pekewuh sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Nilai ini mengajarkan seseorang untuk menjaga perasaan orang lain, menghormati senior, dan menghindari konflik. Namun, ketika diterapkan secara berlebihan di dunia kerja, sikap sungkan justru dapat menghambat komunikasi dan perkembangan karier.

Bagi Generasi Z yang tumbuh dengan budaya keterbukaan dan transparansi, kondisi tersebut sering menimbulkan dilema. Di satu sisi mereka ingin menyampaikan pendapat secara jujur. Namun di sisi lain mereka khawatir dianggap tidak sopan ketika mengkritik atau berbeda pendapat.

Akibatnya, banyak pekerja muda memilih diam meski menemukan masalah. Mereka juga sering menerima tugas tambahan tanpa mempertimbangkan kapasitas kerja. Jika kondisi itu berlangsung terus-menerus, tekanan mental dapat meningkat dan produktivitas menurun.

Iklan

Ubah Cara Pandang tentang Ketegasan

Langkah pertama untuk mengatasi ewuh pekewuh adalah mengubah cara pandang terhadap ketegasan. Banyak orang masih menganggap sikap tegas sebagai bentuk perlawanan atau ketidaksopanan. Padahal, ketegasan merupakan bagian dari komunikasi profesional.

Saat karyawan menyampaikan masukan, kritik, atau keberatan secara santun, mereka sebenarnya membantu tim menemukan solusi yang lebih baik. Karena itu, pekerja muda perlu melihat keberanian berbicara sebagai bentuk tanggung jawab, bukan tindakan melawan senioritas.

Semakin cepat seseorang memahami hal tersebut, semakin mudah pula ia menyampaikan pendapat tanpa rasa bersalah.

Gunakan Data saat Menyampaikan Pendapat

Rasa sungkan biasanya muncul karena seseorang takut menyinggung perasaan lawan bicara. Oleh sebab itu, pendekatan berbasis data dapat menjadi solusi yang efektif.

Ketika ingin menyampaikan kritik atau ketidaksetujuan, fokuskan pembahasan pada fakta dan hasil kerja. Gunakan laporan, angka, evaluasi, atau indikator kinerja sebagai dasar argumentasi.

Cara ini membantu mengurangi unsur emosional dalam diskusi. Selain itu, lawan bicara juga lebih mudah menerima masukan karena pembahasan berpusat pada persoalan, bukan individu.

Karena itu, pekerja muda perlu membiasakan diri berbicara dengan dukungan data yang jelas dan terukur.

Latih Kemampuan Menolak Secara Profesional

Salah satu bentuk ewuh pekewuh yang paling sering muncul ialah kesulitan menolak permintaan tambahan pekerjaan. Banyak karyawan menerima seluruh tugas karena tidak enak hati kepada atasan atau rekan kerja.

Padahal, menerima pekerjaan di luar kapasitas justru dapat menurunkan kualitas hasil kerja. Oleh karena itu, kemampuan mengatakan “tidak” perlu dilatih sejak awal.

Penolakan tidak harus terdengar kasar. Karyawan dapat menjelaskan kondisi pekerjaan yang sedang berjalan, kemudian menawarkan alternatif solusi. Dengan pendekatan tersebut, komunikasi tetap berjalan baik tanpa mengorbankan profesionalisme.

Bangun Lingkungan yang Mendukung Komunikasi Terbuka

Selain berasal dari individu, ewuh pekewuh juga muncul karena budaya organisasi yang terlalu hierarkis. Oleh sebab itu, perusahaan perlu menciptakan ruang diskusi yang aman bagi seluruh karyawan.

Atasan dapat membuka sesi umpan balik secara rutin. Tim juga dapat membangun kebiasaan berdiskusi tanpa memandang usia atau jabatan. Ketika setiap orang merasa aman untuk berbicara, ide baru akan lebih mudah muncul.

Sebaliknya, budaya diam karena sungkan hanya akan membuat masalah menumpuk dan sulit terselesaikan.

Seimbangkan Sopan Santun dan Profesionalisme

Menghormati senior tetap menjadi nilai yang penting. Namun, rasa hormat tidak harus membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berbicara. Dunia kerja modern membutuhkan komunikasi yang jelas, terbuka, dan berorientasi pada solusi.

Karena itu, Gen Z perlu belajar menyeimbangkan kesopanan dengan ketegasan. Sampaikan pendapat dengan bahasa yang santun, menggunakan data yang objektif, serta fokus pada penyelesaian masalah.

Pada akhirnya, mengatasi ewuh pekewuh bukan berarti meninggalkan budaya menghormati orang lain. Sebaliknya, langkah tersebut membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, produktif, dan terbuka terhadap berbagai gagasan baru.

(naf/lex)

Iklan