JAKARTA, ifakta.co – Es kopi susu kini menjadi bagian dari rutinitas banyak anak muda. Minuman ini menemani aktivitas kuliah, Work From Cafe (WFC), hingga sekadar berkumpul bersama teman.

Namun, di balik rasanya yang manis, minuman kekinian ini menyimpan risiko bagi kesehatan hati. Kandungan gula, susu full cream, krimer, hingga berbagai jenis pemanis tambahan dapat memicu penumpukan lemak di organ hati atau fatty liver.

Dokter spesialis penyakit dalam dr Dicky Levenus Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, menjelaskan bahwa kopi pada dasarnya bukan penyebab utama masalah tersebut. Justru bahan tambahan di dalamnya yang perlu mendapat perhatian.

Iklan

“Tapi yang (masalah) tambahannya ini. Entah krimernya, entah gulanya, entah jenis gulanya. Kadang nggak pakai glukosa, pakainya pemanis-pemanis maple syrup, fruktosa, itu justru meningkatkan fatty liver,” kata dr Dicky, dilansir dari Detikhealth (11/6).

Gula dan Krimer Membebani Organ Hati

Tubuh akan mengubah kelebihan gula menjadi lemak. Jika kondisi itu berlangsung terus-menerus, lemak dapat menumpuk di hati dan mengganggu fungsinya.

Selain itu, krimer serta susu dengan kandungan lemak jenuh tinggi juga dapat menambah beban kerja organ hati. Akibatnya, risiko fatty liver meningkat, terutama jika seseorang jarang berolahraga dan memiliki pola makan kurang sehat.

Karena itu, masyarakat tidak hanya perlu memperhatikan jumlah kopi yang diminum. Mereka juga perlu mencermati komposisi minuman yang dikonsumsi setiap hari.

Penelitian Ungkap Perbedaan Kebiasaan Minum Kopi

dr Dicky mengungkapkan bahwa sebuah penelitian sekitar 25 tahun lalu menunjukkan hasil yang menarik mengenai kebiasaan minum kopi.

Di sejumlah negara, konsumsi kopi berkaitan dengan penurunan risiko diabetes. Namun, hasil berbeda justru muncul pada masyarakat Indonesia.

“Kalau di luar negeri orang minum kopi risiko diabetesnya turun. Tapi kalau di Depok nggak, orang minum kopi diabetesnya naik,” kata dr Dicky.

Menurutnya, perbedaan itu muncul karena jenis kopi yang dikonsumsi tidak sama. Banyak masyarakat memilih kopi sachet atau kopi dengan tambahan gula yang sangat tinggi.

“Ternyata minum kopinya kopi manis, kopi sachet. Kalau saya bilang itu mah air gula rasa kopi. Makanya minum kopinya jangan salahin minum kopinya yang salahin adalah pemanisnya sama aditif lainnya,” sambungnya.

Label Less Sugar Belum Tentu Rendah Gula

Saat ini banyak gerai kopi menawarkan menu dengan label less sugar. Meski demikian, dr Dicky mengingatkan bahwa istilah tersebut tidak selalu berarti kadar gulanya benar-benar rendah.

Menurutnya, setiap produsen memiliki standar yang berbeda dalam menentukan takaran gula.

“Definisi less sugar ini kan kita nggak tahu. Kadang less sugar manis banget loh less sugar-nya,” tutupnya.

Es kopi susu tetap bisa dinikmati sebagai bagian dari gaya hidup. Namun, konsumen sebaiknya lebih selektif memilih komposisinya. Mengurangi gula tambahan, membatasi penggunaan krimer, serta memilih kopi tanpa pemanis berlebih dapat membantu menjaga kesehatan hati.

Selain itu, pola makan seimbang dan aktivitas fisik rutin juga berperan penting dalam mencegah penumpukan lemak di organ hati. Dengan begitu, kebiasaan ngopi tetap bisa dinikmati tanpa meningkatkan risiko gangguan kesehatan di kemudian hari.

(naf/lex)

Iklan