LAMPUNG, Ifakta.co – Pemerintah Provinsi Lampung membuka peluang kolaborasi strategis dengan Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) untuk mempercepat hilirisasi sektor pertanian dan mengembangkan industri bioetanol.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan potensi komoditas unggulan daerah agar tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah.

Dukungan tersebut disampaikan dalam Diskusi Publik dan Konferensi Daerah (Konferda) PIKI Provinsi Lampung 2026 di Hotel Horison, Bandar Lampung, Jumat (6/11/2026).

Pemprov Lampung menilai keterlibatan kalangan intelektual diperlukan untuk memperkuat kajian, riset, serta penyusunan rekomendasi kebijakan pembangunan daerah.

Dalam sambutan tertulis Gubernur Lampung yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Yanyan Ruchyansyah, ditegaskan bahwa Lampung memiliki potensi pertanian besar yang harus dioptimalkan melalui pengembangan industri pengolahan.

Sektor pertanian diketahui menyumbang sekitar 27 persen terhadap struktur perekonomian Lampung. Sejumlah komoditas unggulannya meliputi singkong dan nanas yang disebut memiliki produksi terbesar secara nasional, kopi sebagai komoditas ekspor unggulan, serta tebu, jagung, dan padi.

Menurut Gubernur, besarnya produksi pertanian tersebut harus diikuti kemampuan daerah mengolah hasil panen menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

“Lampung adalah salah satu lumbung pangan nasional. Kita memiliki singkong dan nanas produksi nomor satu nasional, kopi ekspor nomor satu, tebu peringkat kedua, jagung peringkat kelima, dan padi peringkat keenam di Indonesia. Produksi kita bersurplus, bahkan mampu mendukung ketahanan pangan nasional. Namun, kita tidak boleh berhenti di sini. Hasil tani harus diolah di daerah sendiri agar nilai tambahnya tetap tinggal di Lampung,” demikian pesan Gubernur.

Ia menjelaskan, pemerintah daerah terus mendorong hilirisasi melalui program Desa Maju yang saat ini telah didukung 2.650 koperasi desa. Program tersebut diharapkan dapat memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus membuka peluang pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

Selain memperkuat ketahanan pangan, Pemprov Lampung mulai mengarahkan pengembangan sektor pertanian untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Hal itu sejalan dengan tema Konferda PIKI Lampung 2026, yakni “Dari Lumbung Pangan Menjadi Lumbung Energi”. Salah satu langkah yang telah dilakukan pemerintah adalah meluncurkan Bioethanol Development Center di Terbanggi Besar pada September 2026.

Pusat pengembangan tersebut diharapkan menjadi bagian dari pembangunan ekosistem bioetanol dari hulu hingga hilir, dengan memanfaatkan potensi komoditas pertanian sebagai sumber bahan baku energi alternatif.

“Kita mengapresiasi tema ini karena sangat sejalan dengan arah pembangunan kita. Pertanian tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga energi. Mulai dari B5 menuju B10 hingga B20, kita sedang membangun ekosistem yang utuh,” ujarnya.

Pemerintah daerah juga berharap PIKI dapat berkontribusi melalui kajian berbasis data, penelitian terukur, dan pendampingan kepada masyarakat. Kolaborasi dengan perguruan tinggi serta dunia usaha dinilai penting agar pengembangan bioetanol tidak berhenti pada tataran wacana.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP PIKI, Drs. Benyamin Potondok, M.M., menegaskan bahwa organisasinya siap mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung pembangunan daerah.

Ia menjelaskan, PIKI bukan organisasi politik, melainkan wadah intelektual yang menghimpun sepuluh elemen masyarakat, yakni akademisi, rohaniwan, pengusaha, birokrat, legislatif, profesional, olahragawan, seniman, aktivis lembaga swadaya masyarakat, dan purnawirawan.

Keberagaman latar belakang tersebut diharapkan menjadi kekuatan untuk menghasilkan pemikiran dan rekomendasi yang dapat menjawab berbagai tantangan pembangunan.

“Kami adalah mitra strategis pemerintah. Bukan lawan, tetapi teman yang mengingatkan dengan data dan analisis yang akurat. Gotong royong menjadi dasar kekuatan kami, sehingga setiap gagasan yang lahir harus berdampak nyata bagi masyarakat. Lampung punya potensi besar, tinggal kita menyatukan langkah untuk mewujudkannya,” kata Benyamin.

Ketua DPD PIKI Lampung, Prof. Ir. Darwin Pangaribuan, M.Sc., Ph.D., mengatakan Konferda menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menyatukan persepsi seluruh anggota PIKI di kabupaten dan kota.

Ia berharap forum tersebut mampu menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan dapat disampaikan langsung kepada pemerintah daerah untuk ditindaklanjuti.

“Kita ingin PIKI benar-benar menjadi rumah yang bermanfaat. Setiap diskusi harus menghasilkan solusi konkret yang dapat dijalankan di lapangan. Sinergi dengan Pemprov Lampung adalah kunci agar gagasan-gagasan besar kita dapat terwujud,” ujarnya.

Ketua Panitia Konferda, Dr. Bontor Sitio, S.P., MBA, menambahkan bahwa optimalisasi singkong sebagai bahan baku bioetanol menjadi salah satu fokus utama pembahasan.

Menurutnya, potensi produksi singkong Lampung perlu diimbangi dengan pengembangan industri pengolahan agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani dan masyarakat.

“Fokus utama kita hari ini adalah mendiskusikan bagaimana potensi singkong Lampung yang melimpah dapat dioptimalkan untuk pengembangan bioetanol. Kita ingin menyusun usulan-usulan konkret yang nantinya dapat disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Lampung, sehingga potensi besar ini bisa segera dimanfaatkan untuk ketahanan energi daerah maupun nasional,” ungkapnya.

Melalui Konferda tersebut, PIKI Lampung berharap dapat merumuskan gagasan strategis yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha.

Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mendorong transformasi Lampung dari daerah penghasil komoditas pertanian menjadi salah satu pusat pengembangan energi berbasis sumber daya lokal di Indonesia.

(tio/tio)