JAKARTA, Ifakta.co – Kematian pelari setelah menyelesaikan marathon kerap memunculkan pertanyaan tentang bahaya olahraga lari jarak jauh.

Kondisi tersebut dapat dipicu gangguan jantung, suhu tubuh ekstrem, hingga kerusakan otot akibat aktivitas fisik berat.

Marathon dengan jarak 42,195 kilometer menuntut daya tahan tubuh dalam waktu lama. Ketika tubuh mengalami tekanan berlebihan, sejumlah gangguan medis serius bisa muncul selama perlombaan maupun setelah pelari mencapai garis finis.

Meski demikian, kematian saat marathon tergolong sangat jarang. Studi dalam jurnal JAMA pada 2025 mencatat 59 kematian dari 29,3 juta peserta marathon dan half-marathon di Amerika Serikat sepanjang 2010–2023.

1. Henti Jantung Mendadak

Salah satu penyebab paling serius adalah henti jantung mendadak. Kondisi ini dapat terjadi ketika gangguan irama jantung membuat organ tersebut tidak mampu memompa darah secara efektif.

Studi JAMA menemukan penyakit arteri koroner menjadi penyebab paling umum pada kasus henti jantung pelari yang penyebabnya berhasil diidentifikasi. Kelainan otot jantung dan gangguan irama juga dapat berperan.

Aktivitas fisik intens dapat memperberat kondisi jantung yang sebelumnya tidak terdeteksi. Karena itu, riwayat penyakit jantung, nyeri dada, atau sesak saat berolahraga perlu diperiksa sebelum mengikuti lomba jarak jauh.

2. Heatstroke atau Suhu Tubuh Terlalu Tinggi

Lari dalam waktu lama, terutama saat cuaca panas dan lembap, dapat meningkatkan risiko penyakit akibat panas. Salah satu kondisi paling berbahaya adalah exertional heatstroke atau sengatan panas akibat aktivitas fisik.

Heatstroke terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan mengatur suhu. Gejalanya dapat berupa kebingungan, perubahan kesadaran, kejang, hingga pingsan.

Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis yang dapat menyebabkan kerusakan organ permanen bahkan kematian jika penanganannya terlambat.

3. Hiponatremia Akibat Terlalu Banyak Minum

Banyak orang menganggap semakin banyak minum air, semakin aman saat marathon. Padahal, konsumsi cairan secara berlebihan juga berisiko menimbulkan hiponatremia, yaitu kondisi ketika kadar natrium dalam darah terlalu rendah.

Gangguan ini dapat terjadi ketika pelari minum air melebihi kebutuhan tubuh selama aktivitas panjang. Gejalanya meliputi sakit kepala, mual, muntah, kebingungan, hingga kejang pada kondisi berat.

Karena itu, pelari perlu mengatur asupan cairan sesuai kebutuhan dan tidak memaksakan diri minum dalam jumlah berlebihan.

4. Rhabdomyolysis atau Kerusakan Otot Berat

Aktivitas fisik ekstrem juga dapat memicu rhabdomyolysis, yakni kerusakan jaringan otot yang menyebabkan kandungan sel otot masuk ke aliran darah.

Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi ginjal dan memicu ketidakseimbangan elektrolit. Gejalanya antara lain nyeri otot berat, kelemahan, serta urine berwarna gelap seperti teh atau cola.

Jika mengalami gejala tersebut setelah berlari, seseorang perlu segera menghentikan aktivitas dan mendapatkan pemeriksaan medis.

Bagaimana Cara Mengurangi Risikonya?

Pelari sebaiknya mempersiapkan diri melalui latihan bertahap, istirahat cukup, serta pemeriksaan kesehatan jika memiliki faktor risiko atau keluhan tertentu.

Saat perlombaan, jangan memaksakan kecepatan ketika tubuh menunjukkan tanda bahaya. Nyeri dada, sesak tidak biasa, pusing berat, kebingungan, atau hampir pingsan perlu ditanggapi serius.

Jika seseorang kehilangan kesadaran atau menunjukkan tanda heatstroke, segera hubungi petugas medis dan jangan menunda pertolongan. Penanganan cepat, termasuk CPR dan penggunaan AED pada henti jantung, dapat meningkatkan peluang keselamatan.

Marathon tetap dapat menjadi aktivitas olahraga yang bermanfaat jika dilakukan dengan persiapan dan pengawasan yang tepat. Memahami batas kemampuan tubuh menjadi bagian penting agar garis finis tidak justru berubah menjadi risiko kesehatan.

(tio/tio)