BANYUMAS, ifakta.co – Kekhawatiran menyelimuti warga RT 3 RW 1 Desa Dawuhan Kulon, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas.
Dalam kurun sekitar dua pekan terakhir, sedikitnya delapan warga dari tiga rumah mengalami gejala yang mengarah pada demam berdarah dengue (DBD).
Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya penyebaran penyakit dalam satu lingkungan permukiman.
Iklan
Sebagian pasien kini sudah pulih setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, dua warga lainnya masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam (RSI) Purwokerto sehingga kekhawatiran masyarakat terus meningkat.
Seluruh kasus tersebut muncul pada lingkungan permukiman yang berada di belakang Madrasah Ibtidaiyah (MI) Dawuhan Kulon. Karena kemunculannya berlangsung dalam waktu berdekatan, warga berharap penanganan dapat berlangsung secepat mungkin agar jumlah penderita tidak terus bertambah.
Salah seorang warga, Jufri, menceritakan kasus pertama berawal dari seorang warga bernama Siti yang mengalami demam hingga membutuhkan perawatan rumah sakit.
Setelah itu, anggota keluarga lainnya mulai mengalami keluhan serupa. Anak laki-laki, menantu, dua cucu, hingga asisten rumah tangga turut menjalani perawatan karena mengalami gejala yang mengarah pada demam berdarah.
“Setelah itu, keponakan saya juga sakit dan menjalani perawatan di RSI. Kemudian istri saya juga mengalami hal yang sama dan masuk RSI pada Rabu (8/7),” ujar Jufri.
Menurutnya, kemunculan kasus secara beruntun membuat warga semakin cemas. Mereka khawatir penyebaran nyamuk pembawa virus dengue terus berlangsung apabila belum ada langkah pengendalian yang cepat.
Karena itu, warga berharap pemerintah segera melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui sumber penularan. Selain itu, masyarakat juga menginginkan pelaksanaan pengasapan atau fogging pada wilayah yang terdampak.
“Kami meminta Dinas Kesehatan atau pemerintah segera melakukan fogging. Kami khawatir jumlah warga yang terkena akan terus bertambah dan semakin banyak yang harus menjalani perawatan di rumah sakit,” katanya.
Warga Harapkan Respons Cepat Pemerintah
Selain kasus yang muncul dalam dua pekan terakhir, warga juga mengingat kembali kejadian beberapa bulan sebelumnya. Saat itu, seorang warga pada desa yang sama meninggal dunia dan muncul dugaan penyebabnya berkaitan dengan demam berdarah.
Peristiwa tersebut semakin memperbesar kekhawatiran masyarakat. Apalagi, musim yang mendukung perkembangbiakan nyamuk berpotensi meningkatkan risiko penularan apabila lingkungan belum memperoleh penanganan secara menyeluruh.
Warga berharap pemerintah segera melakukan pemeriksaan lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya. Langkah tersebut penting agar petugas dapat menentukan tindakan pengendalian yang sesuai dengan hasil penyelidikan.
Selain fogging, masyarakat juga berharap petugas memberikan edukasi mengenai pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan membersihkan lingkungan, menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Dengan langkah tersebut, warga berharap penyebaran penyakit dapat terkendali sekaligus mencegah munculnya kasus baru pada lingkungan sekitar.
Sementara itu, hingga informasi ini tersusun, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas belum menyampaikan keterangan resmi mengenai dugaan klaster demam berdarah tersebut. Sejumlah pejabat pada instansi tersebut juga mengaku belum menerima laporan terkait adanya beberapa warga Desa Dawuhan Kulon yang mengalami dugaan DBD.
Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan verifikasi lapangan agar masyarakat memperoleh kepastian mengenai kondisi sebenarnya sekaligus langkah penanganan yang diperlukan. Dengan respons yang cepat, risiko penyebaran penyakit dapat ditekan sehingga keselamatan warga tetap terjaga.
(naf/lex)
