JAKARTA, ifakta.co – Penggunaan deodoran menjadi bagian dari kebutuhan harian banyak orang, terutama bagi mereka yang beraktivitas tinggi di tengah cuaca panas. Namun, sebagian produk di pasaran masih memicu iritasi pada kulit sensitif. Berangkat dari kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan inovasi deodoran berbahan dasar tawas lokal yang mengutamakan keamanan sekaligus menawarkan aroma modern agar mampu bersaing dengan produk komersial.
Inovasi bernama Deorans itu lahir dari kreativitas mahasiswa lintas fakultas di UNAIR. Tim tersebut terdiri atas Raihan Syah Rafi’, Muhammad Fayyadh, Revanza Gammastyan, dan Daphni Najwa Halafendi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Salwa Dwi Putri Arditiya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Berkat inovasi tersebut, mereka berhasil meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) pada kategori Manufaktur dan Teknologi Terapan.
Ketua tim, Raihan Syah Rafi’, mengatakan Deorans hadir sebagai solusi bagi masyarakat yang membutuhkan deodoran berbahan alami tanpa mengurangi efektivitasnya dalam mengatasi bau badan. Menurutnya, sejumlah produk deodoran mengandung alkohol yang dapat memicu kemerahan atau rasa tidak nyaman pada sebagian pengguna, terutama pemilik kulit sensitif.
Iklan
“Kami berusaha menghadirkan deodoran alternatif yang lebih aman tanpa mengurangi fungsinya sebagai penghilang bau badan,” ujarnya, dikutip dari laman UNAIR (29/6).
Tim kemudian memilih tawas lokal sebagai bahan utama karena memiliki sifat antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau badan, khususnya Staphylococcus sp. Selain itu, tawas juga memiliki sifat astringen yang membantu mengurangi produksi keringat berlebih tanpa menghentikan fungsi alami kelenjar keringat.
Deodoran Alami Dipadukan Aroma Modern
Selain mengutamakan manfaat kesehatan, tim mahasiswa UNAIR juga memperhatikan selera konsumen. Karena itu, mereka menghadirkan beberapa pilihan aroma modern, seperti kopi, stroberi, dan bubblegum. Strategi tersebut mereka pilih agar produk berbahan alami tetap tampil menarik bagi berbagai kalangan.
Salwa Dwi Putri Arditiya menjelaskan, tim ingin mengubah anggapan bahwa produk berbahan alami identik dengan kesan tradisional. Mereka justru ingin menunjukkan bahwa bahan lokal mampu tampil modern dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
“Kami ingin menunjukkan bahwa deodoran berbahan tawas juga bisa tampil modern dan relevan dengan selera masyarakat saat ini,” jelas Salwa.
Sementara itu, Deorans tidak hanya menyasar konsumen yang membutuhkan perlindungan dari bau badan. Produk tersebut juga membidik masyarakat yang mulai menerapkan gaya hidup sehat serta lebih peduli terhadap penggunaan bahan alami.
Daphni Najwa Halafendi menjelaskan, target utama Deorans meliputi mahasiswa, pekerja kantoran, hingga masyarakat yang aktif berolahraga. Kelompok tersebut umumnya membutuhkan produk yang praktis, aman, dan nyaman digunakan setiap hari.
Selain mengembangkan produk, tim juga menyusun strategi pemasaran berbasis edukasi. Mereka ingin mengenalkan manfaat tawas lokal sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bahan alami Indonesia yang memiliki potensi besar sebagai bahan baku produk perawatan tubuh.
“Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa bahan alami lokal memiliki potensi besar untuk menjadi solusi kebutuhan sehari-hari,” tutur Raihan.
Tim Deorans juga melihat penggunaan tawas dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan. Pemanfaatan bahan alami dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap beberapa bahan kimia sintetis yang selama ini banyak digunakan dalam industri deodoran.
Menurut Raihan, inovasi tersebut membuktikan bahwa sumber daya lokal tidak kalah kompetitif jika dikembangkan melalui riset dan kreativitas. Bahkan, bahan sederhana seperti tawas dapat menjadi produk bernilai ekonomi tinggi ketika dikombinasikan dengan inovasi desain, aroma, dan strategi pemasaran yang tepat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa bahan lokal seperti tawas tidak hanya memiliki manfaat kesehatan. Tetapi juga mampu bersaing sebagai produk inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” pungkasnya.
Keberhasilan memperoleh pendanaan P2MW menjadi langkah awal bagi tim mahasiswa UNAIR untuk mengembangkan Deorans ke pasar yang lebih luas. Mereka berharap inovasi tersebut tidak hanya menjadi alternatif deodoran yang aman bagi kulit, tetapi juga mendorong pemanfaatan bahan baku lokal serta memperkuat daya saing produk karya mahasiswa Indonesia.



