SURABAYA, ifakta.co – Limbah logam berat dari aktivitas pertambangan nikel masih menjadi tantangan besar bagi lingkungan. Kandungan kromium heksavalen atau Cr(VI) dapat mencemari air dan tanah sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila tidak ditangani dengan baik.
Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan solusi inovatif melalui riset berbasis material ramah lingkungan. Mereka mengembangkan metode adsorpsi magnetik dengan memanfaatkan limbah kulit singkong, zeolit alam, serta Fe3O4 yang berasal dari slag besi sebagai material penyerap logam berat.
Inovasi tersebut berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Eksakta (RE). Tim mengangkat penelitian berjudul Komposit Zeolit Alam, Karbon Aktif Kulit Singkong, dan Fe3O4 Slag Besi Sebagai Adsorben Efektif Limbah Cr(VI) Tambang Nikel.
Iklan
Tim berasal dari Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR. Anggotanya terdiri atas Sulaiman Fadhli, Muhammad Haris Afta Firdaus, Ahmad Soleh, Ahmad Zaydan Taqiyuddin, dan Layla Lubna Irwandy.
Menurut ketua tim, Sulaiman, gagasan penelitian tersebut muncul saat mengikuti perkuliahan yang disampaikan dosen Dr. rer. nat. Ganden Supriyanto, M.Sc. Materi mengenai limbah tambang nikel memunculkan ide untuk mencari solusi yang lebih berkelanjutan.
“Ia bercerita mengenai aktivitas penghasil limbah cair yang mengandung logam berat dari tambang nikel serta mengandung racun berbahaya bagi manusia dan lingkungan,” ujarnya, dikutip dari laman UNAIR (16/6).
Kombinasikan Kulit Singkong, Zeolit, dan Slag Besi
Tim memilih kulit singkong karena bahan tersebut selama ini belum banyak dimanfaatkan. Melalui proses tertentu, limbah pertanian itu diubah menjadi karbon aktif yang mampu menyerap polutan di dalam air.
Selain itu, tim memadukannya dengan zeolit alam yang memiliki kemampuan tinggi dalam menangkap ion logam berat. Selanjutnya, mereka menambahkan Fe3O4 dari slag besi agar adsorben memiliki sifat magnetik sehingga proses pemisahan material menjadi lebih mudah.
“Zeolit alam merupakan mineral yang sering digunakan sebagai adsorben yang berkontribusi dalam penyerapan Cr(VI). Kemudian Slag besi merupakan limbah yang mengandung Fe3O4 yang memberi sifat magnetis pada adsorben,” tutur Sulaiman.
Saat ini tim masih menjalankan tahapan penelitian di laboratorium. Mereka menguji kemampuan adsorben pada larutan yang mengandung Cr(VI). Setelah itu, tim akan melanjutkan pengujian menggunakan limbah asli dari kawasan tambang nikel.
“Setelah adsorbennya kita uji di larutan Cr(VI) skala lab, selanjutnya diuji dengan menggunakan limbah asli tambang nikel. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apakah ada polutan lain selain Cr(VI) yang akan memengaruhi efisiensi penyerapan adsorben kami,” ujar Sulaiman.
Melalui penelitian tersebut, tim berharap industri dapat memanfaatkan limbah kulit singkong sebagai bahan bernilai tambah sekaligus membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Selain menawarkan solusi yang lebih ramah lingkungan, inovasi ini juga membuka peluang pemanfaatan limbah pertanian dan limbah industri secara bersamaan.
Apabila pengembangan riset berjalan optimal, teknologi tersebut berpotensi mendukung pengelolaan limbah tambang yang lebih berkelanjutan. Di sisi lain, pemanfaatan bahan lokal juga dapat menekan biaya produksi adsorben sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah kulit singkong yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Inovasi mahasiswa UNAIR ini juga sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan atau SDGs, khususnya pada aspek air bersih dan sanitasi layak, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, penanganan perubahan iklim, perlindungan ekosistem daratan, serta penguatan kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
(naf/lex)



