SURABAYA, ifakta.co – Sekelompok mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan inovasi yang bertujuan membantu penanganan luka akibat Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak.
Melalui teknologi berbasis nanochitosan, mereka merancang semprotan kulit buatan yang mampu melindungi luka sekaligus mendukung proses penyembuhan.
Inovasi tersebut mengantarkan tim mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) UNAIR meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) skema Riset Eksakta dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Iklan
Tim tersebut terdiri atas Christian, Kinan, Awang, Mega, dan Sabrina Najla. Mereka mengembangkan produk bertajuk Sprayable In Situ Forming Artificial Skin Berbasis Nanochitosan atau Chitospray PMK.
Pengembangan inovasi ini berangkat dari tingginya kasus PMK yang menyerang ternak di Indonesia. Penyakit tersebut sering menimbulkan luka pada mulut maupun bagian tubuh lain sehingga mengganggu kondisi kesehatan hewan sekaligus memicu kerugian ekonomi bagi peternak.
Menurut tim, metode penanganan luka yang umum digunakan saat ini masih memiliki sejumlah keterbatasan. Obat yang dioleskan pada luka mudah hilang akibat air liur, gesekan, maupun aktivitas ternak. Akibatnya, luka menjadi lebih rentan mengalami infeksi lanjutan.
Christian menjelaskan bahwa tim sengaja merancang inovasi ini sebagai terapi pendukung, bukan sebagai pengganti pengobatan utama untuk PMK.
“Inovasi ini kami buat bukan untuk menggantikan terapi utama. Tetapi sebagai terapi suportif yang membantu melindungi luka, mengurangi risiko infeksi sekunder, serta mendukung regenerasi jaringan melalui teknologi nanochitosan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa PMK merupakan penyakit yang muncul akibat infeksi virus. Karena itu, terapi suportif memiliki peran penting dalam menjaga kondisi luka agar proses penyembuhan berlangsung lebih optimal.
Chitospray PMK Hadir sebagai Pelindung Luka yang Praktis
Tim mahasiswa merancang Chitospray PMK dalam bentuk botol semprot agar proses penggunaan menjadi lebih mudah. Produk tersebut dapat digunakan oleh dokter hewan maupun peternak secara praktis tanpa memerlukan prosedur yang rumit.
Setelah penyemprotan berlangsung, cairan akan membentuk lapisan pelindung pada permukaan luka. Lapisan tersebut diharapkan mampu bertahan lebih lama meskipun ternak terus bergerak atau menghasilkan air liur.
Menurut Christian, konsep produk tersebut menyerupai plester. Namun, bentuk semprotan membuat proses aplikasi menjadi lebih sederhana sekaligus mampu menjangkau area luka dengan lebih merata.
“Konsepnya seperti plester, tetapi dalam bentuk spray. Selain menutup luka, material ini juga berpotensi membawa zat aktif seperti nitric oxide agar dapat bermanfaat dalam proses penyembuhan,” katanya.
Meski demikian, proses pengembangan inovasi tersebut tidak berlangsung singkat. Tim mengaku membutuhkan waktu cukup lama untuk menemukan konsep yang benar-benar layak dikembangkan.
Christian menjelaskan bahwa seluruh anggota tim bersama dosen pembimbing terus melakukan diskusi, evaluasi, serta berbagai sesi brainstorming. Melalui proses tersebut, mereka akhirnya memilih konsep Chitospray PMK sebagai inovasi yang memiliki peluang besar memberikan manfaat bagi dunia kesehatan hewan.
“Pencarian ide membutuhkan waktu hingga lima bulan. Ada beberapa gagasan yang belum cocok untuk dikembangkan. Tetapi kami terus melakukan brainstorming sampai menemukan inovasi yang memiliki potensi,” ungkapnya.
Keberhasilan memperoleh pendanaan PKM menjadi pencapaian penting bagi tim mahasiswa tersebut. Dukungan pendanaan itu membuka peluang untuk melanjutkan penelitian hingga menghasilkan produk yang semakin siap pakai.
Selain itu, tim berharap Chitospray PMK mampu membantu mengurangi risiko komplikasi akibat luka PMK sekaligus menekan angka kematian ternak yang muncul karena infeksi lanjutan. Mereka juga ingin menghadirkan solusi yang praktis, mudah, dan bermanfaat bagi peternak maupun tenaga kesehatan hewan di berbagai daerah di Indonesia.
Melalui inovasi tersebut, tim optimistis teknologi berbasis nanochitosan dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas penanganan luka PMK serta mendukung kesehatan ternak secara berkelanjutan.
(naf/lex)



