BANYUMAS, ifakta.co – Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggandeng Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah serta Disperindagkopukm Kabupaten Banjarnegara untuk mencetak santripreneur mandiri melalui program Bimbingan Teknis Penumbuhan dan Pendampingan Wirausaha Baru (WUB). Kegiatan ini mulai berjalan pada Selasa (28/4) di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kabupaten Banjarnegara.
Selama tiga hari, tepatnya 28–30 April 2026, tim pelaksana menggelar pelatihan hasil kolaborasi tersebut. Program ini secara langsung menargetkan santri agar mampu membangun usaha mandiri berbasis potensi lokal.
Dorong Santri Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Kepala Bidang Pembangunan Sumber Daya dan Perwilayahan Industri Disperindag Jateng, Esti Wulandari, membuka kegiatan sekaligus menegaskan arah program tersebut. Ia menilai pelatihan ini menjadi langkah konkret pemerintah daerah dalam memperkuat peran pesantren di sektor ekonomi.
Iklan
“Program ini sekaligus menopang visi pembangunan jangka panjang Jawa Tengah sebagai penumpu pangan dan industri nasional yang maju, sejahtera, berbudaya, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Selanjutnya, Kepala Disperindagkopukm Banjarnegara, Adi Cahyono Purwo Saputro, menekankan potensi besar santri sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Ia melihat karakter dan nilai kuat yang dimiliki santri sebagai modal penting untuk berwirausaha.
“Santri memiliki karakter disiplin dan nilai-nilai kuat. Dengan keterampilan kewirausahaan yang tepat, mereka dapat menjadi penggerak ekonomi lokal,” katanya.
Materi Praktis, Langsung Bisa Praktik
Dalam pelaksanaan pelatihan, lima dosen Fakultas Pertanian Unsoed turun langsung sebagai narasumber. Mereka meliputi Budi Dharmawan, Dr. Irene Kartika Eka Wijayanti, Ratna Satriani, Kunandar Prasetyo, dan Nur Wijayanti.
Tim pengajar menyampaikan materi secara aplikatif, mulai dari manajemen usaha, pengembangan produk berbasis potensi lokal, strategi pemasaran digital, hingga pengelolaan keuangan usaha mikro. Dengan pendekatan ini, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga langsung menyiapkan langkah konkret untuk memulai usaha.
Selain itu, peserta aktif berdiskusi dan mengeksplorasi peluang usaha yang sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada teori, melainkan mendorong aksi nyata.
Bangun Ekosistem Wirausaha Santri Berkelanjutan
Melalui program ini, Unsoed dan pemerintah daerah ingin membentuk generasi santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu keagamaan, tetapi juga mandiri secara ekonomi. Mereka menargetkan lahirnya wirausaha baru yang tetap memegang nilai-nilai pesantren.
Ke depan, penyelenggara berharap para peserta mampu membangun jaringan usaha yang saling terhubung, baik di tingkat daerah maupun nasional. Selain itu, program ini juga berpotensi menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren yang berkelanjutan.
Dengan langkah ini, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah tidak hanya menghasilkan pelatihan, tetapi juga membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih inklusif.
(naf/kho)




