JAKARTA, ifakta.co – Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, resmi melakukan penawaran umum perdana (SpaceX IPO) dan melantai di bursa saham Amerika Serikat pada Jumat, 12 Juni 2026 waktu setempat.

Debut itu mendorong valuasi perusahaan mendekati US$2 triliun atau sekitar Rp35.621 triliun dengan asumsi kurs Rp17.810 per dolar AS, sekaligus menjadikan Elon Musk sebagai orang pertama di dunia yang memiliki kekayaan lebih dari US$1 triliun.

Pada penawaran perdana, saham SpaceX ditetapkan harga IPO sebesar US$135 per lembar. Namun saat dibuka perdagangan, harga saham langsung naik ke level US$150 per lembar, sekitar 11 persen di atas harga IPO.

Iklan

Sepanjang hari, kenaikan berlanjut hingga penutupan pasar. Saham SpaceX akhirnya ditutup di level US$159 per saham, melonjak sekitar 18 persen dibandingkan harga IPO, sehingga valuasi perusahaan mencapai sekitar US$1,96 triliun.

Sebelumnya, SpaceX menjual saham senilai US$75 miliar dalam penawaran umum perdana yang langsung mengerek valuasi perusahaan menjadi sekitar US$1,77 triliun. Selain itu, permintaan investor terhadap saham tersebut mencapai empat kali lebih besar dibandingkan jumlah saham yang ditawarkan.

“Kami memperkirakan saham SpaceX akan langsung mencatat lonjakan signifikan pada awal perdagangan berkat tingginya antusiasme pasar terhadap IPO ini, kemungkinan lebih dari 20 persen. Jika kenaikannya lebih rendah dari itu, saya justru akan merasa cemas,” kata Kerr dikutip dari Al Jazeera, Jumat (12/6).

Berdasarkan laporan Bloomberg, sekitar 70 persen alokasi saham institusional diberikan kepada investor jangka panjang (long-only investor) dan sejumlah sovereign wealth fund, termasuk dari Arab Saudi dan Kuwait. Dengan demikian, alokasi mayoritas berfokus pada investor yang diperkirakan bertahan lebih lama.

IPO SpaceX menjadi salah satu pencatatan saham terbesar dalam sejarah pasar modal AS. Selain itu, pencatatan ini dipandang sebagai tolok ukur minat investor terhadap gelombang IPO perusahaan teknologi besar berikutnya, termasuk perusahaan kecerdasan buatan seperti Anthropic dan OpenAI.

Di sisi keuangan operasional, perusahaan dilaporkan masih membukukan kerugian hampir US$5 miliar sepanjang tahun lalu. Namun pertumbuhan bisnis SpaceX saat ini banyak ditopang layanan internet satelit Starlink yang disebut menyumbang sekitar 80 persen dari total pendapatan perusahaan.

Dalam momentum yang sama dengan debut di bursa, Presiden SpaceX Gwynne Shotwell bersama Chief Financial Officer Bret Johnsen membuka perdagangan perdana dengan membunyikan lonceng pembukaan di Nasdaq MarketSite, New York.

Selain itu, pada hari yang sama SpaceX juga meluncurkan roket Falcon 9 yang membawa 29 satelit ke orbit dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat. Dengan demikian, aktivitas korporasi dan peluncuran operasional bertepatan dengan pencatatan saham perdana perusahaan.

(faz/fza)

Iklan