SEMARANG, ifakta.co – BPJS Kesehatan terus memperkuat Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Lembaga itu tidak hanya mengejar perluasan kepesertaan, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan agar program tetap berkelanjutan.
Komitmen tersebut menjadi fokus dalam Media Gathering BPJS Kesehatan Kedeputian Wilayah VI Tahun 2026 bertema Peningkatan Cakupan Kepesertaan, Kualitas dan Mutu Layanan untuk JKN yang Berkelanjutan di Magelang, 10–11 Juni 2026.
Deputi Direksi Wilayah VI BPJS Kesehatan, Rahmad Asri Ritonga, mengatakan Program JKN telah memberi manfaat besar bagi masyarakat Indonesia.
Iklan
“Program JKN tidak hanya meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan, tetapi juga mencegah masyarakat jatuh miskin akibat biaya berobat, meningkatkan kualitas kesehatan penduduk, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan produktivitas nasional,” katanya.
Data hingga 31 Mei 2026 menunjukkan kepesertaan JKN di Jawa Tengah dan DIY mencapai 41,77 juta jiwa. Angka tersebut setara dengan 98,49 persen dari total penduduk.
Sebanyak 32,35 juta jiwa atau 76,29 persen tercatat sebagai peserta aktif. Sementara itu, pemerintah daerah mendaftarkan 3,74 juta jiwa melalui segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) Pemda.
BPJS Fokus Mengaktifkan Kembali Peserta
Asisten Deputi Kepesertaan dan Mutu Layanan BPJS Kesehatan Kedeputian Wilayah VI, Henri Army Iriawan, menilai capaian tersebut menunjukkan komitmen kuat berbagai pihak dalam mewujudkan Universal Health Coverage (UHC).
Namun, BPJS Kesehatan masih memprioritaskan peningkatan jumlah peserta aktif.
“Fokus kami saat ini adalah memperkuat kepesertaan aktif JKN dan melakukan reaktivasi peserta nonaktif sehingga manfaat Program JKN dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, BPJS Kesehatan terus mengajak peserta yang statusnya tidak aktif untuk kembali mengaktifkan kepesertaan mereka.
Selain memperluas perlindungan kesehatan, langkah tersebut juga menjaga keberlangsungan program jaminan kesehatan nasional.
BPJS Kesehatan juga terus menghadirkan berbagai inovasi layanan berbasis digital.
Peserta kini dapat memanfaatkan Mobile JKN, PANDAWA, Care Center 165, telekonsultasi, antrean online, hingga informasi jadwal operasi dan ketersediaan tempat tidur rumah sakit.
Inovasi tersebut mempermudah masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan tanpa proses yang rumit.
Hasilnya, tingkat kepuasan peserta terus meningkat selama empat tahun terakhir. Pada 2022, tingkat kepuasan berada di angka 87,6 persen. Selanjutnya, angka itu naik menjadi 92,9 persen pada 2025.
Dokter spesialis penyakit dalam RSUP Dr. Kariadi Semarang, dr. Zaki MK Adhi, SpPD, FINASIM, mengingatkan masyarakat untuk lebih serius mencegah penyakit kronis.
Pada 2021, jumlah penderita mencapai sekitar 19,5 juta orang. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi 28,6 juta orang pada 2045.
Ia menilai banyak masyarakat belum mengetahui kondisi kesehatannya sehingga terlambat mendapatkan penanganan.
“Hipertensi dan diabetes menyebabkan komplikasi serius, tetapi sebagian besar dapat dicegah melalui pola hidup sehat. Masyarakat perlu membiasakan konsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi gula, garam dan lemak, berolahraga secara teratur, menjaga berat badan ideal, tidak merokok, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin,” kata dr. Zaki.
Selain meningkatkan layanan pengobatan, BPJS Kesehatan juga memperkuat upaya promotif dan preventif.
Lembaga itu menjalankan skrining kesehatan, Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), serta Program Rujuk Balik (PRB) untuk membantu peserta mengendalikan penyakit secara berkelanjutan.
Hingga Mei 2026, jumlah peserta Prolanis di Jawa Tengah dan DIY mencapai lebih dari 1,12 juta orang. Program tersebut melayani peserta dengan diabetes melitus dan hipertensi.
Melalui program tersebut, BPJS Kesehatan berharap semakin banyak masyarakat memperoleh perlindungan kesehatan yang berkualitas.
(naf/lex)



