JAKARTA, ifakta.co – Pemerintah terus memperkuat sektor logistik nasional sebagai salah satu fondasi penting dalam menjaga kelancaran distribusi barang dan jasa.

Selain itu, penguatan logistik juga dinilai krusial untuk mempererat konektivitas antarwilayah sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di tengah tekanan global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa sektor logistik kini menjadi pilar strategis pembangunan nasional. Karena itu, pemerintah memprioritaskan penguatan sistem logistik yang lebih efisien, terintegrasi, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan global.

Iklan

“Pemerintah memandang sektor logistik sebagai pilar strategis dalam menjaga kelancaran distribusi, memperkuat konektivitas, dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional,” ujar Airlangga saat menerima audiensi Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) di Jakarta, pekan lalu.

Lebih lanjut, Airlangga menilai sistem logistik yang kuat akan berperan besar dalam menjaga stabilitas pasokan, mempercepat distribusi, dan menekan biaya ekonomi. Oleh sebab itu, penguatan sektor ini menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan nasional.

Dalam pertemuan tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon turut mendampingi Airlangga. Keduanya membahas sejumlah isu strategis, terutama terkait upaya menekan biaya logistik dan memperbaiki sistem distribusi nasional.

Biaya Logistik Masih 14 Persen dari PDB

Saat ini, biaya logistik nasional masih berada di kisaran 14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut dinilai masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain di kawasan.

Karena itu, pemerintah terus mendorong penurunan biaya logistik secara bertahap melalui berbagai kebijakan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi distribusi, memperkuat konektivitas antardaerah, sekaligus mendorong daya saing ekonomi nasional.

Di sisi lain, situasi global yang semakin tidak pasti membuat transformasi sektor logistik menjadi semakin mendesak. Pemerintah menilai sistem logistik nasional harus mampu bergerak lebih cepat dan responsif agar tetap mampu menopang aktivitas ekonomi.

“Kita perlu membangun sistem logistik yang lebih terintegrasi dan berdaya tahan agar Indonesia mampu menghadapi tantangan global,” kata Airlangga.

ALFI CONVEX 2026 Jadi Forum Strategis

Sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor logistik, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga menyatakan dukungan terhadap penyelenggaraan ALFI Conference and Exhibition (ALFI CONVEX) 2026.

Pemerintah menilai forum tersebut dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha. Tidak hanya menjadi ruang diskusi, ALFI CONVEX 2026 juga diharapkan mampu melahirkan solusi konkret dan inovasi bagi pengembangan logistik nasional.

Selain itu, Kemenko Perekonomian menegaskan perannya dalam mengoordinasikan kebijakan lintas sektor. Sebab, sektor logistik melibatkan banyak pihak, mulai dari kementerian, lembaga, hingga pelaku usaha.

Dengan demikian, sinergi antarpemangku kepentingan menjadi kunci utama untuk mewujudkan sistem logistik yang lebih efisien dan terhubung.

Bahas Digitalisasi hingga Rantai Pasok

ALFI CONVEX 2026 akan mengusung tema “Indonesia in Motion: Empowering a Resilient Logistics Ecosystem”. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 28-30 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Forum ini akan menghadirkan pelaku industri, regulator, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas sejumlah isu strategis. Di antaranya yakni konektivitas multimoda, digitalisasi logistik, efisiensi rantai pasok, hingga penguatan ketahanan sektor logistik nasional.

Melalui dukungan terhadap ALFI CONVEX 2026, pemerintah berharap tercipta ekosistem logistik nasional yang lebih efisien, terintegrasi, dan adaptif. Pada akhirnya, langkah tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.

(den/jo)